Advertisement
CORE Beberkan Tantangan Ekonomi Meroket pada 2022
Direktur Riset Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Pieter Abdullah Redjalam (dari kiri) menyampaikan paparan didampingi Direktur Mohammad Faisal, dan Wakil Pemimpin Redaksi Bisnis Indonesia Chamdan Purwoko saat berkunjung ke kantor Bisnis Indonesia, di Jakarta, Rabu (10/1). - JIBI/Felix Jody Kinarwan
Advertisement
Harianjogja.com, JAKARTA - Ekonomi Indonesia diperkirakan terus melaju untuk pemulihan ekonomi pada 2022. Namun, pemerintah dan Kementerian Keuangan harus mewaspadai sejumlah faktor eksternal seperti tapering off dan krisis properti China yang dimulai oleh Evergrande .
Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Piter Abdullah mengatakan 2022 merupakan momentum bagi Indonesia untuk melakukan perbaikan ekonomi secara menyeluruh. Namun, pengurangan quantitative easing oleh bank sentral di dunia bisa menjadi faktor risiko yang menghambat laju pemulihan.
Advertisement
"Ini bisa berdampak pada likuiditas global, terutama dampak dari quantitative easing oleh bank sentral negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Eropa, Inggris, dan Jepang. Karena nilai quantitative easing mereka sangat besar sehingga memengaruhi likuiditas global," terang Piter pada webinar, Jumat (3/12/2021).
Dia mengatakan normalisasi kebijakan moneter merupakan konsekuensi yang tidak bisa dihindarkan oleh dunia saat ini. Pasalnya, sejalan dengan pemulihan ekonomi pascapandemi negara-negara maju maka stimulus besar yang sebelumnya dikucurkan perlahan akan berkurang hingg akhirnya hilang sama sekali. Khususnya, bank sentral Amerika Serikat Federal Reserve (Fed).
Akan tetapi, Piter meyakini dampak yang ditimbulkan oleh tapering off kali ini lebih sedikit dibandingkan dengan tapering off pada 2013 silam.
Hal yang sama juga berlaku pada faktor eksternal lainnya yaitu krisis gagal bayar utang perusahaan properti raksasa asal China, Evergrande. Kendati adanya krisis, Piter menilai pemerintah China akan meminimalisasi dampak krisis gagal bayar utang Evergrande, sehingga tidak meluas ke perekonomian negara.
"Sama dengan tapering off, faktor ancaman Evergrande ini relatif kecil dan tidak akan terlalu besar terhadap proses pemulihan ekonomi Indonesia 2022," jelasnya.
Sebaliknya, Piter menilai pertumbuhan ekonomi tahun depan akan didorong oleh semakin pulihnya konsumsi dan belanja masyarakat, peningkatan investasi, dan ekspor.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber : bisnis.com
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Skandal Haji Eks Menag Yaqut: Kode T0, Bayar Rp84 Juta Bisa Berangkat
- Gugatan Kalah, KPK Jebloskan Mantan Menag Yaqut ke Rutan Merah Putih
- Hashim Djojohadikusumo Akan Pimpin Satgas Pembiayaan Taman Nasional
- Kapal Thailand Diserang di Selat Hormuz hingga Terbakar
- Friderica Widyasari Sari Terpilih Ketua OJK 2026-2031
Advertisement
Inilah Jalur Mudik dan Wisata di Gunungkidul yang Telah Ditambal
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- Jadwal Swiss Open 2026: Ginting dan Alwi Farhan Tampil Hari Ini
- Guardiola Akui Peluang City Tipis Usai Dibungkam Madrid 3-0
- Jadwal F1 GP China 2026: Sprint Race Perdana Musim Ini
- PLN UID Jawa Tengah Pastikan Listrik Andal saat Ramadan dan Lebaran
- MTsN 6 Bantul Jadi Peserta Terbanyak Kedua di Kegiatan Bantul Mengaji
- Harga Emas Antam Turun Rp45.000, Kini Rp3,042 Juta per Gram
- Top Skor Liga Champions: Mbappe Masih Tak Tergeser
Advertisement
Advertisement








