Menkeu Sebut SAL Rp420 Triliun, Jadi Antisipasi Harga Minyak
Menkeu Purbaya sebut SAL Rp420 triliun jadi bantalan fiskal antisipasi kenaikan harga minyak, sebagian sudah ditempatkan di bank himbara.
Pekerja melakukan proses pemurnian dari nikel menjadi feronikel di fasilitas pengolahan dan pemurnian (smelter) Pomalaa milik PT Aneka Tambang (ANTAM) Tbk, di Kolaka, Sulawesi Tenggara, Selasa (8/5/2018). /JIBI-Nurul Hidayat
Harianjogja.com, JAKARTA —Hilirisasi sumber daya alam (SDA) pada ekspor dan investasi akan mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia lebih tinggi. Hal tersebut disampaikan oleh Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan.
Rencana hilirisasi tersebut bahkan membuat eks Perdana Menteri Inggris Tony Blair terpukau. ""Kemarin saya paparkan kepada Tony Blair di kantor saya, dia komentarnya hanya \'Amazing\', \'Unbelievable\', udah gitu saja. Mereka tidak anggap bahwa Indonesia bisa seperti ini," cerita Luhut di Jakarta, Rabu (24/11/2021).
Seperti diketahui, Indonesia tengah berfokus untuk mendorong hilirisasi SDA. Salah satu fokus Indonesia adalah pada nikel, yang memiliki cadangan terbesar di dunia dengan total mencapai 21 juta ton. Ketersediaan nikel ini mendorong Indonesia berambisi untuk bermain di rantai pasok baterai mobil listrik dunia.
Salah satu investasi terbesar terkait yang sudah ada yaitu pabrik baterai mobil listrik pertama di Asia Tenggara, yang berlokasi di Karawang Jawa Barat. Total investasi dari pabrik baterai mobil listrik tersebut adalah sebesar US$9,8 miliar atau Rp142 triliun, kerja sama investasi antara LG Energy Solution dari Korea Selatan dan PT Indonesia Battery Corporation.
Menurut Luhut, kisah sukses hilirisasi logam dasar perlu dilanjutkan untuk komoditas nikel. Dia berharap, bermodal cadangan nikel, Indonesia bisa menjadi bagian dari rantai pasok dunia untuk baterai mobil listrik.
Baca juga: Zona Merah Covid-19 di Sleman Naik, Ini Datanya
Sementara itu hilirisasi SDA logam dasar telah berperan signifikan dalam menjaga defisit transaksi berjalan atau current account deficit. Hal ini diwujudkan melalui kinerja industri logam dasar yang telah menjadi sektor penanaman modal asing (PMA) tertinggi sejak 2018.
"Didukung oleh hilirisasi SDA, industri logam dasar perlahan menjadi sektor dengan PMA tertinggi sejak 2018. Pak Presiden juga tadi menyinggung, sejak hilirisasi ekspor iron steel kita saja tahun ini dekat dengan US$21 miliar. Itu sangat berdampak pada current account deficit dan surplus pada [neraca dagang]," tutur Luhut
Adapun, neraca pembayaran Indonesia kuartal III/2021 mencatatkan surplus US$10,6 miliar. Kinerja ini didorong oleh transaksi berjalan yang mengalami surplus US$4,5 miliar, tertinggi sejak 2009.
Peran besi dan baja dalam pencapaian tersebut terlihat dari total ekspor besi dan baja Indonesia sebesar US$16,6 miliar pada Oktober 2021. "Pada akhir tahun ini, angka ekspor bisa sampai US$20 miliar sampai dengan US$21 miliar," ujarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : bisnis.com
Menkeu Purbaya sebut SAL Rp420 triliun jadi bantalan fiskal antisipasi kenaikan harga minyak, sebagian sudah ditempatkan di bank himbara.
Jadwal KRL Jogja Solo Jumat 12 Juni 2026 lengkap semua stasiun, 14 perjalanan, tarif Rp8.000, cek jam berangkat terbaru.
Jadwal Grup A Piala Dunia 2026 WIB, prediksi skor Meksiko vs Afrika Selatan dan Korea Selatan vs Ceko lengkap analisis.
Harga bahan pokok di Batang masih stabil pasca kenaikan BBM, cabai turun, ayam kampung dan kedelai mulai naik.
Pemkab Sleman kirim 10 personel bantu BPN, percepat layanan pertanahan di tengah transformasi sistem elektronik.
Pemkot Pekalongan siapkan proyek drainase Rp5 miliar sepanjang 1,2 km untuk kurangi genangan dan optimalkan aliran air.