Restitusi Pajak Turun Jadi Rp198,7 Triliun, DJP Mulai Melonggarkan
Restitusi pajak hingga September 2026 turun 38,08% menjadi Rp198,7 triliun. Kemenkeu mulai melonggarkan pencairan bagi UMKM dan industri padat karya.
Pekerja melakukan proses pemurnian dari nikel menjadi feronikel di fasilitas pengolahan dan pemurnian (smelter) Pomalaa milik PT Aneka Tambang (ANTAM) Tbk, di Kolaka, Sulawesi Tenggara, Selasa (8/5/2018). /JIBI-Nurul Hidayat
Harianjogja.com, JAKARTA —Hilirisasi sumber daya alam (SDA) pada ekspor dan investasi akan mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia lebih tinggi. Hal tersebut disampaikan oleh Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan.
Rencana hilirisasi tersebut bahkan membuat eks Perdana Menteri Inggris Tony Blair terpukau. ""Kemarin saya paparkan kepada Tony Blair di kantor saya, dia komentarnya hanya \'Amazing\', \'Unbelievable\', udah gitu saja. Mereka tidak anggap bahwa Indonesia bisa seperti ini," cerita Luhut di Jakarta, Rabu (24/11/2021).
Seperti diketahui, Indonesia tengah berfokus untuk mendorong hilirisasi SDA. Salah satu fokus Indonesia adalah pada nikel, yang memiliki cadangan terbesar di dunia dengan total mencapai 21 juta ton. Ketersediaan nikel ini mendorong Indonesia berambisi untuk bermain di rantai pasok baterai mobil listrik dunia.
Salah satu investasi terbesar terkait yang sudah ada yaitu pabrik baterai mobil listrik pertama di Asia Tenggara, yang berlokasi di Karawang Jawa Barat. Total investasi dari pabrik baterai mobil listrik tersebut adalah sebesar US$9,8 miliar atau Rp142 triliun, kerja sama investasi antara LG Energy Solution dari Korea Selatan dan PT Indonesia Battery Corporation.
Menurut Luhut, kisah sukses hilirisasi logam dasar perlu dilanjutkan untuk komoditas nikel. Dia berharap, bermodal cadangan nikel, Indonesia bisa menjadi bagian dari rantai pasok dunia untuk baterai mobil listrik.
Baca juga: Zona Merah Covid-19 di Sleman Naik, Ini Datanya
Sementara itu hilirisasi SDA logam dasar telah berperan signifikan dalam menjaga defisit transaksi berjalan atau current account deficit. Hal ini diwujudkan melalui kinerja industri logam dasar yang telah menjadi sektor penanaman modal asing (PMA) tertinggi sejak 2018.
"Didukung oleh hilirisasi SDA, industri logam dasar perlahan menjadi sektor dengan PMA tertinggi sejak 2018. Pak Presiden juga tadi menyinggung, sejak hilirisasi ekspor iron steel kita saja tahun ini dekat dengan US$21 miliar. Itu sangat berdampak pada current account deficit dan surplus pada [neraca dagang]," tutur Luhut
Adapun, neraca pembayaran Indonesia kuartal III/2021 mencatatkan surplus US$10,6 miliar. Kinerja ini didorong oleh transaksi berjalan yang mengalami surplus US$4,5 miliar, tertinggi sejak 2009.
Peran besi dan baja dalam pencapaian tersebut terlihat dari total ekspor besi dan baja Indonesia sebesar US$16,6 miliar pada Oktober 2021. "Pada akhir tahun ini, angka ekspor bisa sampai US$20 miliar sampai dengan US$21 miliar," ujarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : bisnis.com
Restitusi pajak hingga September 2026 turun 38,08% menjadi Rp198,7 triliun. Kemenkeu mulai melonggarkan pencairan bagi UMKM dan industri padat karya.
Jogja Expo 2026 di JEC Bantul mencatat potensi perputaran ekonomi lebih dari Rp25 miliar dengan 121 tenant dan 5.382 peserta.
Jumlah pedagang di 32 pasar rakyat Sleman turun 297 orang. Disperindag menyebut faktor usia, kesehatan, regenerasi, dan tekanan ekonomi.
Perlinsos Digital mempermudah warga pelosok Padang Pariaman mengakses bansos. Eli Suarni akhirnya menerima PKH setelah menunggu sejak 2018.
Kemenhub mendorong KAI mempercepat pengadaan 35 KRL baru dan dua retrofit agar seluruhnya dapat beroperasi pada 2027.
Kemnaker menyiapkan pelatihan vokasi bagi 50.000 pekerja terdampak PHK. Simak bidang pelatihan, fasilitas, syarat, dan cara pendaftarannya.