Timsus Investigasi WHO yang Akan Berburu Asal Mula Covid-19

Tedros Adhanom Ghebreyesus, Direktur Jenderal WHO. - Bloomberg
28 Oktober 2021 13:37 WIB Ni Luh Anggela News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menutup jendela untuk konsultasi publik tentang para ahli yang dipilih untuk mengarahkan penyelidikan WHO ke dalam asal-usul Covid-19 pada hari Rabu (27/10). PBB diharapkan untuk bergerak maju dengan daftar yang dikonfirmasi dalam beberapa hari mendatang.
 
Awal bulan ini, ke-26 ahli yang diumumkan WHO dinominasikan untuk bergabung dengan badan permanen baru yang dikenal sebagai Scientific Advisory Group for the Origins of Novel Pathogens (SAGO), yang ditugaskan untuk memandu penelitian tentang asal mula wabah ini dan di masa depan serta membangun kerangka kerja tentang bagaimana investigasi semacam itu harus dijalankan.
 
“(Mereka) dipilih dari lebih dari 700 aplikasi dan dipilih karena keahlian dan pengalaman kelas dunia mereka dalam berbagai disiplin ilmu serta keragaman geografis dan gender mereka,” Kepala WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan pada 13 Oktober, ketika nama-nama itu diumumkan, melansir South China Morning Post, Kamis (28/10/2021).
 
Kelompok baru yang mencakup pakar virologi, epidemiologi, keamanan hayati, dan kesehatan hewan, yang berasal dari negara-negara termasuk China, Amerika Serikat, India, Kenya, dan Brasil ini adalah upaya untuk melewati politik dan kontroversi yang melingkupi pencarian asal-usul pandemi.
 
Sementara itu, direktur kedaruratan kesehatan WHO, Michael Ryan mengatakan, badan PBB berharap untuk mengambil langkah mundur dan menciptakan lingkungan dimana kita dapat kembali melihat isu-isu ilmiah.
 
Sebelum mereka mulai menjalankan tugasnya, daftar para ahli telah menjalani periode konsultasi dua minggu yang merupakan standar untuk kelompok penasihat WHO yang baru. Nominasi SAGO telah menjadi sorotan di tengah kontroversi panas mengenai pencarian asal-usul virus dan siapa yang mengemudikannya, sebuah proses yang biasanya hanya mendapat sedikit perhatian publik.
 
Misi fase satu yang dipimpin WHO ke China awal tahun ini telah dirundung oleh apa yang oleh para kritikus disebut konflik kepentingan atau ketidakberpihakan di antara anggota tim dan kegagalan untuk sepenuhnya memeriksa teori bahwa virus itu bisa lolos dari laboratorium di Wuhan, kota tempat Covid-19 pertama kali diidentifikasi.
 
Pada hari Selasa, kelompok beranggotakan 13 orang, termasuk ilmuwan dan pakar kebijakan yang menyerukan agar teori kebocoran laboratorium diselidiki merilis surat terbuka online yang menyatakan keprihatinan bahwa daftar ahli SAGO yang diusulkan juga “kurang memiliki keragaman keterampilan dan ketidakberpihakan ilmiah yang diperlukan untuk misinya” dan khususnya untuk mengevaluasi teori itu.
 
Kelompok internasional itu menuliskan bahwa ada terlalu sedikit calon dengan latar belakang biosafety, biosecurity, atau forensik “paling tidak ketidakseimbangan ini akan sangat menghambat kemampuan SAGO untuk menyelesaikan tugasnya,”. Mereka juga menyerukan tiga calon yang mereka anggap “sangat bertentangan dan/atau terlalu bias” untuk diganti.
 
US Right to Know, sebuah kelompok investigasi kesehatan masyarakat nirlaba, pada hari Selasa juga menyerukan penghapusan beberapa ahli, termasuk semua yang merupakan bagian dari penyelidikan asal WHO sebelumnya dan peneliti Thailand Supaporn Wacharapluesadee atas kolaborasinya dengan para ilmuwan dari kelompok penelitian EcoHealth Alliance yang berbasis di AS.
 
Presiden EcoHealth Alliance Peter Daszak mengambil bagian dalam misi fase satu dan mendapat kecaman karena kemitraannya yang sudah berlangsung lama dengan Institut Virologi Wuhan, fasilitas di pusat teori kebocoran laboratorium dan atas kerjasamanya dalam mengoordinasikan surat menepis teori di awal pandemi.
 
WHO mengatakan komentar yang disampaikan selama periode konsultasi publik akan “ditinjau dengan cermat” dan menjadi “komponen integral dari kebijakan penilaian konflik kepentingan WHO”. Tujuannya adalah untuk “meningkatkan manajemen konflik kepentingan WHO, serta memperkuat kepercayaan dan transparansi publik”, menurut pemberitahuan publik.
 
Seorang juru bicara WHO sebelumnya menanggapi kekhawatiran tentang kurangnya keahlian biosekuriti di SAGO, mencatat bahwa kelompok baru tersebut mencakup dua ahli di laboratorium biosekuriti dan bahwa SAGO akan bekerja dengan kelompok biosafety WHO.
 
WHO telah berulang kali mengatakan teori laboratorium harus diperiksa lebih lanjut, di samping hipotesis lain yang melibatkan kemunculan melalui jalur alami, seperti perdagangan hewan liar. Kelompok baru akan membuat rekomendasi untuk pekerjaan itu dan keahlian tambahan yang mungkin diperlukan untuk misi lapangan apa pun.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia