Krisis Energi Dikhawatirkan Merembet ke Sektor Pangan

Pekerja menyusun aneka jenis minuman kaleng di salah satu grosir penjual makanan dan minuman kemasan di Pekanbaru, Riau, Senin (12/6). - Antara/Rony Muharrman
15 Oktober 2021 04:57 WIB Iim Fathimah Timorria News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA – Krisis energi yang terjadi di sejumlah kawasan dan negara dikhawatirkan bakal merembet ke harga komoditas pangan. Kelompok komoditas pangan tercatat telah menunjukkan tren kenaikan dalam setahun terakhir.

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) Adhi S. Lukman mengatakan krisis energi di India, salah satu eksportir gula terbesar di dunia, bisa membatasi produksi di negara tersebut. Hal ini berisiko mengurangi pasokan gula di pasar global.

Harga komoditas migas yang terkerek juga bisa menjadi insentif bagi Brasil untuk mengalokasikan lebih banyak tebu untuk bioetanol. Adhi mengatakan kondisi tersebut turut memengaruhi harga gula dunia.

“Ini situasi yang cukup kompleks. Komoditas pangan mulai menjadi sumber energi dan saling memengaruhi,” katanya, Kamis (14/10/2021).

Di pabrik-pabrik makanan dan minuman dalam negeri, kenaikan harga komoditas energi seperti batu bara telah mengerek biaya produksi sampai dua kali lipat. Krisis energi menjadi tantangan usaha terbaru setelah kenaikan harga bahan baku yang banyak dipasok dari luar negeri.

“Hal ini turut berdampak ke harga makanan olahan yang diekspor, apalagi dengan biaya logistik yang tinggi,” tambahnya.

Meski demikian, Adhi mengatakan terdapat peluang yang diperoleh pelaku usaha dari adanya krisis energi. Dia mengatakan sejumlah pabrik makanan dan minuman olahan mulai menjalankan jasa maklon untuk produk dari China.

“Pabrik di sana hanya boleh produksi 2 sampai 3 hari per minggu, jadi ada beberapa yang mengalihkan produksi ke Indonesia,” katanya.

Neraca ekspor dan impor makanan semi olahan dan olahan Indonesia dengan dunia sampai Juli 2021 tercatat defisit US$1,41 miliar. Nilai ini lebih besar dibandingkan dengan defisit pada 2020 sebesar US$289,45 juta dan bahkan lebih besar dari defisit 2018 yang kala itu menyentuh US$1,00 miliar sepanjang tahun.

Adapun ekspor makanan semi olahan dan olahan per Juli 2021 mencapai US$4,98 miliar, naik 5,7 persen secara tahunan. Di sisi lain, impor naik 9,2 persen dar secara tahunan dengan nilai US$6,39 miliar.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia