Restoran Jepang Punya Cara Unik Agar Menunya Cocok di Lidah Orang Lokal

Salah satu bentuk sajian menu khas jepang yang didominasi makanan mentah. - Ist.
10 Oktober 2021 08:17 WIB Newswire News Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Restoran Jepang di Jogja memang tak sebanyak warung makan pada umumnya, tetapi saat ini jumlahnya terus bertambah. Hal ini dipengaruhi banyaknya komunitas yang berkaitan dengan Jepang yang anggotanya adalah masyarakat lokal. Para pelaku bisnis ini memiliki cara tersendiri untuk membuat orang lokal dapat menikmati masakan yang dominan mentah. Proses pengolahan rupanya menjadi kunci utama.

Beverage Manager Restoran Jepang Izakaya El Dakar mengatakan timnya memiliki cara tersendiri untuk membuat menu olahannya agar bisa diterima lidah masyarakat lokal. Sehingga pelanggan yang masuk tidak sekadar makan, tetapi ada edukasi bagaimana caranya tetap cocok di lidah masyarakat lokal karena jenis makanan dengan dominan mentah. Salah satunya melalui metode fusion food atau berkreasi memadukan antara masakan jepang yang dapat diterima di lidah orang Indonesia sehingga pelanggan tetap merasa nikmat.

“Fusion ini bisa dikolaborasikan antara minuman dengan seafood, ini menggunakan metode food pairing sehingga pelanggan cocok rasanya. Misalnya mau makan sushi yang mentah kita rekomendasi minuman yang cocok untuk mentralisasi rasa amisnya, agar tetap bisa menikmati dan tidak eneg [mual], jadi makan mentah tetapi rasanya enggak mentah,” katanya Sabtu (9/10/2021).

Ia menambahkan menu authentic japanese menjadi salah satu andalannya karena segmentasi di Jogja masih minim. Menu ini menjadikan para pengunjung di restoran ini tidak sekedar datang, makan lalu pulang, tetapi mereka diedukasi cara memilih menu dan menikmatinya secara tepat sehingga merasakan kelezatan layaknya menyantap masakan lokal.

“Kami berusaha untuk mengubah pemikiran, bahwa tidak selamanya makanan mentah itu tidak enak, tetapi edukasi dilakukan pelan-pelan,” katanya.

Owner Representative Izakaya Nur Santino menjelaskan proses pengolahan yang tepat membuat makanan khas Jepang tetap bisa diterima lidah orang lokal tak terkecuali Jogja. Menurutnya soal proses membersihkan hingga pemotongan bahan makanan sebelum disajikan sangat sensitif.

“Selain itu makan mentah ada treatment-nya, misalnya dikasih kecap asin dan wasabi [pasta hijau khas Jepang] dulu setelah diaduk-aduk baru di makan, dan setelah itu makan jahe. Baik kecap asin, wasabi dan jahe itu semua antibakteria jadi aman [di perut],” katanya.

Menu andalan lainnya yang cocok untuk lidah lokal adalah Beef Hamburg Cheese Curry yang juga disajikan dengan metode fusion food. Secara umum harga menunya pun beragam mulai dari Rp35.000 hingga Rp120.000. Tetapi bicara soal restoran Jepang bukan saja soal menu, tetapi ada budaya di dalamnya, dengan mengusung konsep yang diibaratkan seperti angkringan-nya Jepang. Konsep restoran ini banyak ditemukan di kota-kota di Jepang, pengunjung masuk akan langsung disambut oleh dapur yang ramai oleh chief mengolah bahan makanan.

“Ciri khas seperti itu, kemudian ada tempat duduk lesehana khusus khas Jepang. Sehingga ketika orang makan bisa merasakan seperti di Jepang. Sehingga segmennya lebih ke keluarga dan komunitas atau corporate,” katanya.