Petani Tembakau Kirim Lukisan untuk Presiden Jokowi

MN Wibowo saat membuat lukisan yang akan dikirim ke Presiden Jokowi sebagai bentuk aspirasi, Senin (4/10/2021). - Ist.
05 Oktober 2021 06:57 WIB Sunartono News Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Seorang petani tembakau membuat lukisan berisi pesan kondisi pertembakauan di Indonesia. Lukisan itu rencananya akan dikirim ke Presiden Jokowi sebagai bentuk aspirasi mereka. Adalah MN Wibowo yang melukisnya secara langsung di sela-sela diskusi bertajuk Penghancuran Ekosistem Pertembakauan di Balik Regulasi Cukai Hasil Tembakau di Indonesia di Kota Jogja, Senin (4/10/2021).

Wibowo menjelaskan isi lukisan yang ia bikin secara langsung secara umum menggambarkan kondisi pertanian tembakau, buruh rokok linting. Melalui lukisan itu ia menyampaikan pesan bahwa tidak semua negara memiliki lahan pertanian yang subur sehingga Indonesia termasuk beruntung. Ia berharap petani tembaku bisa tetap menjalankan aktivitasnya sebagai petani dengan berproduksi tembakau secara cukup dengan tidak mengambil keuntungan lebih.

“Lukisan ini menggambarkan kami bercocok tanam lalu kami kumpulkan tembakau, kami antarkan ke pembeli. Menggambarkan hari-hari kami. Lukisan ini akan kami kirimkan ke Bapak Presiden Jokowi. Harapannya ada kebijakan berpihak ke petani tembakau,” katanya.  

Wibowo mengaku sengaja membuat lukisan itu sebagai bentuk ekspresi untuk menyampaikan aspirasi terhadap pemerintah agar kebijakannya tetap berpihak pada petani tembakau. Ia berharap generasi ke depan dapat ikut melestarikan pertanian tembakau.

“Beri kesempatan kami petani tembaku, biarkan kami produksi dengan baik, sehingga kami bisa melakukan kegiatan kami sebagai wujud kecintaan kami terhadap bangsa ini," ujarnya

Pemateri diskusi Gungun El Guyanie menilai aturan pertembakauan di Indonesia sangat terpisah-pisah, di mana rezim kesehatan punya roadmap tersendiri cenderung memerangi industri tembakau. Begitu juga tenaga sektor ketenagakerjaan punya roadmap sendiri yang tidak sinkron dengan perindustrian. Sektor-sektor ini akan mengharmonisasi soal kenaikan cukai.

“Tembakau menjadi simbol kedaulatan ekonomi nasional karena hulu hilirnya melibatkan jutaan rakyat. Maksud pemerintah untuk menaikkan cukai bukan untuk menaikkan penerimaan negara tetapi karena intervensi asing,” kata pengamat pertembakauan ini.

Kepala Disnakertrans DIY Aria Nugrahadi yang hadir dalam diskusi itu mengatakan sebanyak empat pabrik rokok di DIY telah berpartisipasi terhadap vaksinasi gotong royong dengan jumlah 4.500 buruh. Komitmen itu perlu diapresiasi bahwa sektor pertembakauan memberikan sumbangsih terhadap program pemerintah. Oleh karena itu, wajar saja ketika sejumlah keluhan para buruh rokok memang harus direspons sedemikian rupa, salah satunya terkait dana bagi hasil cukai rokok dari pemerintah pusat.

“Kita tentu berharap teman pekerja dapat prioritas dari perjuangan mereka selama ini terkait pemanfaatan dana bagi hasil cukai rokok agar bisa masuk ke pekerja belum ada. Peraturan Menteria Keuangan sebenarnya menjadi secercah harapan, tetapi itu setelah kita pelajari dalam hal pelaksanaan tetap akhirnya dijadikan satu pendekatan dengan DTKS. Mungkin perlu ada formula dengan daerah lain agar dana bagi hasil cukai rokok ini bisa berdampak ke pekerja,” ujarnya.