Gim Indonesia Raup Transaksi US$13 Juta di Berlin

Si Juki Warteg Mania, salah satu gim yang mengikuti Gamescom Global 2021. - Istimewa
09 September 2021 06:47 WIB Iim Fathimah Timorria News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA – Produk kreatif Indonesia meraup potensi transaksi senilai US$13 juta dari keikutsertaan dalam pameran gim terbesar di dunia, Gamescom Global 2021 di Berlin, Jerman. Potensi transaksi itu berasal dari 28 peserta/studio yang mengikuti pameran.

“Produk kreatif Indonesia semakin dilirik banyak peminat. Melalui pameran ini diharapkan produk kreatif Indonesia dapat meningkatkan transaksi ekonomi di pasar global. Pemerintah Indonesia akan terus mendukung promosi gim lokal ke berbagai pameran, di antaranya pameran gim terbesar di dunia saat ini,” ujar Atase Perdagangan Berlin Nurlisa Arfani dalam siaran pers, Rabu (8/9/2021).

Gamescom Global 2021 sendiri terdiri dari dua subevent, yaitu Gamescom yang lebih bersifat business to consumer (B2C) berlangsung pada 25–29 Agustus 2021, dan Devcom Developer Conference (DDC) yang lebih bersifat business to business (B2B) pada 23–27 Agustus 2021.

Seperti gelaran tahun sebelumnya, Gamescom Global 2021 diselenggarakan oleh Koeln Messe secara virtual, karena pembatasan perjalanan dan aktivitas sebagai dampak dari pandemi global Covid-19.

Pada gelaran kali ini, Paviliun Indonesia menampilkan 39 peserta yang dikurasi oleh Kemenparekraf dan Asosiasi Gim Indonesia (AGI).

Dari jumlah tersebut, sebanyak 15 di antaranya difasilitasi Kemenparekraf, 10 oleh KBRI Berlin, dan 5 peserta oleh ITPC Hamburg.

Nurlisa mengatakan, konten gim dapat dijadikan sebagai sarana promosi bagi sektor pariwisata maupun perdagangan.

Beberapa gim Indonesia terbaru memiliki detail grafis yang menampilkan destinasi wisata, budaya, maupun produk Indonesia, seperti kopi dan makanan khas Indonesia lainnya.

Gim tersebut antara lain Si Juki Warteg Mania (Arsanesia), Selera Nusantara (Gambir Studio), Bubur Ayam Express (Gambir Studio), Warteg Gelora dan Bakso Horor (Megaxus), serta Nonstop Ngamen (Wisanggeni).

“Selain capaian potensi transaksi, pada ajang itu, gim Indonesia terpilih sebagai gim yang paling banyak diminati dari wilayah Asia Tenggara versi Virtual SEA and Southeast Asian Game Developers. Beberapa di antaranya adalah Nusantara Fighter, Fallen Elysium, Dusk at War and Fading Star, dan Project Unseek,” katanya.

Pada 2020, dari keseluruhan ekonomi kreatif di Indonesia, subsektor aplikasi dan gim menempati posisi ke-7 dari 16 penyumbang PDB ekonomi kreatif Indonesia.

Transaksi gim mencatat nominal Rp24,88 triliun. Dari jumlah tersebut, sebesar 2,19 persen merupakan kontribusi subsektor Aplikasi Game Developer (AGD).

Subsektor AGD menunjukkan tren kenaikan positif di tengah situasi pandemi Covid-19 saat ini dibandingkan dengan subsektor lainnya. Subsektor AGD juga memiliki nilai pertumbuhan positif tertinggi kedua setelah subsektor TV & Radio, dengan pertumbuhan sebesar 4,47 persen.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia