Permintaan Ekspor UMKM Tinggi Saat Pandemi, Tapi Terkendala Kapasitas Produksi

Suasana di Pelabuhan Kuala Tanjung Port and Industrial Estate. - Dok. Pelindo 1
30 Agustus 2021 13:37 WIB Iim Fathimah Timorria News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki mengungkapkan permintaan ekspor produk UMKM selama pandemi sangat tinggi. Namun, situasi ini dihadapkan pada kendala kapasitas produksi sampai ketersediaan kontainer.

“Walaupun sebenarnya permintaan ekspor juga banyak seperti produk-produk furnitur, kopi, buah-buahan tropis dan macam-macam kuliner, tetapi kita terkendala kontainer,” kata Teten dalam kunjungan kerjanya ke Purworejo, Jawa Tengah, seperti dikutip dari siaran pers, Minggu (29/8/2021).

BACA JUGA : Gandeng Kadin, Dinkop-UKM DIY Dukung UMKM Rambah 

Kelangkaan kontainer masih menghantui permasalahan logistik saat ini, terutama untuk ekspor impor. Sekalipun kontainer tersedia, eksportir harus menyiapkan tambahan biaya pengiriman yang cukup besar.

Teten mengatakan permasalahan biaya kirim yang tinggi masih dibicarakan dan dirumuskan oleh Komite PEN lintas kementerian. Sehingga belum ada skema yang tepat.

“Saya sedang pelajari bagaimana di negara lain. Memang harus dihitung jika ada biaya tambahan kontainer seberapa besar kebutuhannya. Dan berapa kali lipat dari nilai subsidi nanti bisa diberikan kepada transaksi ekspornya,” paparnya.jelas Menteri Teten.

Di tengah tantangan tersebut, Teten mengemukakan bahwa Kemenkop UKM tengah memetakan pasar dan produk yang potensial. Dia memberi contoh pada permintaan produk briket dari tempurung kelapa dan gula semut yang cukup besar.

“Misalnya soal briket dari tempurung kelapa dan gula semut, saya baru tahu kalau permintaannya dari luar negeri itu besar dan di Indonesia bisa diekspansi lagi,” ungkapnya.

Meski permintaan ekspor atas dua produk itu tinggi, Teten mengatakan pelaku UMKM belum bisa memenuhi permintaan karena berbagai alasan seperti kaapsitas produksi dan masalah manajemen.

Kontribusi UMKM terhadap total ekspor tercatat masih berada di angkan 14,37 persen. Di antaranya adalah Mulai dari kapasitas produksi sampai manajemennya. Sementara saat ini kontribusi ekspor UMKM masih rendah di angka 14,37 persen.

Pelaku UMKM turut mengamini kendala yang dipaparkan Teten. Martini, pemilik usaha Martini Natural yang memproduksi berbagai kerajinan mulai dari sandal, rajut, home decor dan tas anyaman, mengaku merasakan kesulitan karena keterbatasan ketersediaan kontainer kala pandemi.

BACA JUGA : Ekspor Produk UMKM DIY Mayoritas Masih Nitip

“Sekarang tinggal memenuhi permintaan lewat online saja. Sambil menunggu ada harapan soal ketersediaan kontainer,” ucap Martini yang sebelumnya memenuhi permintaan 22 kontainer sandal untuk ekspor.

Senada, Ketua Koperasi Srikandi Sri Susilowati menyampaikan keluhannya terkait ekspor. Namun saat ini ia masih terus memenuhi permintaan dalam negeri.

Koperasi Srikandi memproduksi olahan dari kelapa berupa gula semut dan gula cair. Negara-negara yang menjadi pasar ekspornya adalah Rusia, Belanda, Amerika Serikat hingga Israel.

“Paling banyak itu permintaan gula cair. Bisa sampai 168 ton saat ekspor. Dan kapasitas produksi kami ini bisa sampai 200 ton gula per minggu. Kami memberdayakan para petani dan sumber daya lokal," cerita Sri.

Koperasi Srikandi yang kini bertransformasi menjadi badan usaha dengan kapasitas yang besar, mempekerjakan 208 perempuan dan mengandeng 2.000 petani lokal. Yang terbaru, Koperasi Srikandi merilis produk barunya berupa sirup kemasan botol yang juga akan diekspor.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia