S3 Farmasi Diharapkan Memperkaya Penelitian & Inovasi Industri Kefarmasian

Penyerahan SK Izin dari Kemenbudristek terkait pembukaan program doktoral UAD. - Ist.
27 Agustus 2021 05:37 WIB Sunartono News Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Keberadaan program S3 atau Doktoral Farmasi di Indonesia yang masih minim diharapkan terus memperkaya penelitian dan inovasi kefarmasian guna memberi manfaat bagi masyarakat. Di Jogja, Doktoral Farmasi hanya ada di UGM serta Universitas Ahmad Dahlan (UAD) yang secara resmi baru mendapatkan SK Kemendikbud-Ristek terkait izin pada Rabu (25/8/2021).

Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah V Profesor Didi Achjari mengatakan di Indonesia tergolong minim jumlah program doktoral farmasi. Di Jogja hanya ada di UGM dan terbaru UAD. Ia berharap lahirnya program doktoral ini bisa terus memperkaya riset dan inovasi bidang kefarmasian sehingga memberikan manfaat bagi masyarakat luas.

BACA JUGA : Kabar Baik, UMKM Bebas Biaya Pelayanan Jaminan Produk

Ia menilai keberadaan doktoral farmasi di UAD akan memiliki ciri khusus karena dilandasi nilai keislaman. Didi mencontohkan jika dahulu ramai dengan istilah halal tourism, maka dalam farmasi ada istilah halal medicine yang juga bisa dikembangkan.

“Kedepan bukan hanya keunikan yang menjadi unggulan tetapi bagaimana pengembangan ilmu melalui penelitian memberikan manfaat bagi masyarakat. Serta menghasilkan produk kesehatan yang dapat diproduksi secara massal,” kata Didi dalam sambutannya saat usai menyerahkan SK.

Didi mencontohkan sejumlah materi yang bisa digali mulai dari pengurangan produk kimia diganti dengan herbal, hingga vaksin Covid-19 dengan herbal yang tentu menarik sebagai bahan inovasi. “Sehingga kerja sama antara perguruan tinggi, pemerintah dan dunias industri harus ditingkatkan untuk mewujudkan,” ucapnya.

BACA JUGA : UAD Dampingi Pembinaan Ikrar Halal terhadap Komunitas

Rektor UAD Muchlas menambahkan proses menuju pembukaan jenjang doktoral farmasi tersebut telah dilalui selama lebih dari dua tahun untuk persiapan, salah satunya mengusulkan sebanyak dua kali. Pada usulan pertama masih kekurangan guru besar, namun setelah menunggu setahun kemudian ada satu guru besar tambahan.

“Kehadiran program ini harapannya tidak hanya bermanfaat bagi dunia pendidikan, tetapi juga pengembangan industri farmasi di Indonesia. Harapannya kami dapat memperbanyak ahli di industri farmasi yang nantinya bisa meningkatkan riset-riset kefarmasian,” katanya.