Evakuasi Udara di Afganistan Kian Sulit, 7 Orang Tewas di Bandara Kabul

Foto satelit memperlihatkan kemacetan dan keramaian di dekat Bandara Kabul, Afghanistan, Senin (16/8/2021) - Antara/Reuters
23 Agustus 2021 02:27 WIB John Andhi Oktaveri News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Sedikitnya tujuh warga Afghanistan tewas di dekat bandara internasional Kabul di tengah kekacauan saat banyak warga yang berusaha melarikan diri setelah pengambilalihan kekuasaan oleh Taliban, menurut militer Inggris.

Akan tetapi, Kementerian Pertahanan Inggris tidak memerinci kapan mereka terbunuh dan apakah korban tewas terbaru termasuk di antara empat orang yang dilaporkan tewas terinjak-injak kemarin.

BACA JUGA : Taliban Berkuasa di Afghanistan, Apakah Berefek ke Terorisme di Indonesia?

Saat ini, bandara dipenuhi dengan ribuan orang yang mencoba melarikan diri dari Taliban, yang menguasai Kabul seminggu yang lalu. Gambar-gambar mengejutkan seperti orang yang berpegangan pada badan pesawat meningkatkan alarm atas proses evakuasi yang lambat yang dipimpin oleh negara-negara termasuk AS dan Inggris.

Banyak warga berdesak-desakan dan mengalami luka-luka saat terjadi kerumunan selama beberapa hari terakhir.

Kedutaan AS mengeluarkan peringatan keamanan baru dengan memberitahu warga untuk tidak melakukan perjalanan ke bandara Kabul kecuali diinstruksikan oleh perwakilan pemerintah AS. Sementara itu, Presiden AS Joe Biden memperingatkan bahwa dia tidak dapat memprediksi hasil dari salah satu evakuasi lewat udara paling sulit dalam sejarah tersebut.

Sementara itu, Pemerintah Inggris ingin penerbangan evakuasi dilanjutkan melewati batas waktu 31 Agustus.

BACA JUGA : Vaksinasi Dosis Pertama untuk Pelajar Kota Jogja Ditunda 

“Mungkin Amerika Serikat sebaiknya diizinkan untuk tinggal lebih lama dan mereka akan mendapat dukungan penuh dari kami jika mereka melakukannya,” tulis Menteri Pertahanan Ben Wallace seperti dikutip Aljazeera.com, Minggu (22/8/2021).

Presiden AS Joe Biden telah mempertahankan target agar semua warga AS dievakuasi dari Afghanistan terakhir pada 31 Agustus. Sejauh ini dia menolak untuk berkomitmen untuk melakukan perpanjangan.

“Saya telah mengatakan selama ini bahwa tidak ada negara yang bisa mengeluarkan semua orang,” tambah Wallace. Menurutnya, jika jadwal AS tetap dipertahankan maka pihaknya tidak punya waktu untuk membantu sebagian besar orang yang menunggu,” tulisnya.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia