Lonjakan Kematian Akibat Covid-19 Bisa Dicegah, Begini Caranya Menurut Ahli

Petugas memakamkan jenazah Covid-19 di TPU Pondok Ranggon, Jakarta, Selasa (8/9/2020). Data Satuan Tugas Penanganan Covid-19 per hari Selasa (8/9/2020) pukul 12.00 WIB menyebutkan kasus meninggal dunia akibat Covid-19 bertambah 100 oarang menjadi 8.230 orang. ANTARA FOTO - Muhammad Adimaja
06 Agustus 2021 17:17 WIB Mutiara Nabila News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA — Penambahan kasus kematian akibat Covid-19 di Indonesia masih sangat tinggi, bahkan totalnya telah menembus 100.000 jiwa dan 598 jiwa diantaranya merupakan dokter.

Ketua Satgas Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia Profesor Zubairi Djoerban menyatakan ada beberapa cara mencegah agar kasus kematian tak melonjak.

Menurutnya, yang perlu menjadi sorotan yaitu keberadaan laboratorium yang menjadi tempat tes antigen dan PCR.

Dia menuturkan, harusnya laboratorium tidak hanya melakukan tes dan memberikan hasilnya, tetapi juga membuka jalan agar pasien bisa berkonsultasi dengan dokter sehingga potensi kematian bisa dicegah.

"Ini kan banyak sekali. Harusnya mereka itu punya kewajiban untuk memberikan konsultasi dan merujuk pasien ke puskesmas atau rumah sakit. Bukan cuma setelah hasil tes diberikan, disudahi begitu saja," ujarnya melalui Twitter, Jumat (6/8/2021).

Dia memberi contoh, modelnya bisa mirip dengan tes HIV dulu, yakni bersamaan hasil tes keluar dari lab, sudah sepaket dengan konsultasi dan memberi jalan kepada pasien apa saja yang harus dilakukan.

Prof Zubairi juga menyoroti soal isolasi mandiri yang menjadi masalah, karena tak terpantau tenaga medis.

"Ini juga menjadi isu. Banyak sekali orang yang melakukan isoman tapi tidak punya pengetahuan cukup, dan sebenarnya memerlukan konsultasi dengan dokter," kata dia.

Adanya layanan telemedicine, imbuhnya, menjadi hal yang harus diadopsi luas di seluruh daerah.

"Saya kira ini [telemedicine untuk isoman] bagus sekali dan saya salut kepada teman-teman dokter yang sudah melaksanakannya. Semoga, daerah yang sudah melakukan telemedicine dan berhasil, bisa menjadi prototipe daerah lain untuk melakukannya juga," ujarnya.

Lebih lanjut, Zubairi juga mengimbau agar rumah sakit untuk terus membuka dan merespons laporan dari puskesmas. Pasalnya, berdasarkan laporan dari lapangan, ternyata puskesmas dan pasien kesulitan menghubungi hotline rumah sakit.

Mereka mencoba menghubungi namun tidak ada yang mengangkat. Akibatnya, ambulans dari puskesmas tidak bisa jalan ke rumah sakit. Pasien pun tidak tertangani dan akhirnya meninggal.

"Jadi, saya mohon banget, hotline di rumah sakit itu dibuka dan direspons. Karena ambulans dari puskesmas baru bisa berangkat kalau rumah sakit yang dituju memberi jaminan. Namanya hotline ya harus merespons, apapun kondisinya. Paling tidak memberi informasi faktual saat itu," tegasnya.

Berdasarkan data Satgas Penanganan Covid-19, total kasus kematian akibat Covid-19 telah menembus angka 102.375 per Kamis (5/8/2021).

Adapun, total kasus kasus positif menembus 3.568.331, sedangkan kasus sembuh totalnya hampir menembus 3 juta atau tepatnya 2.947.646 orang.

Sementara itu, untuk menekan kasus kematian akibat Covid-19, Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan meminta pemda agar menjemput masyarakat yang sedang isolasi mandiri di rumah ke karantina terpusat.

Luhut mengatakan meski ada beberapa kabupaten dan kota yang tingkat daruratnya turun, masih ada daerah yang tetap berada di level empat bukan karena banyaknya kasus, tetapi tingginya kematian.

"Hal ini terjadi karena masih banyak masyarakat yang melakukan isoman sehingga telat dilakukan perawatan intensif di rumah sakit yang mengakibatkan kematian karena saturasi oksigen mereka rata-rata di bawah 90," tuturnya saat konferensi pers virtual pada Senin (2/8/2021).

BACA JUGA: Kasus Jual Beli Kios Kawasan Parkir Abu Bakar Ali Jogja Terungkap, Negara Rugi Rp4,1 Miliar

Sejumlah intervensi yang sudah dilakukan pemerintah untuk menangani tingginya angka kematian di antaranya adalah membentuk satuan kerja yang bertugas untuk menjemput orang-orang yang positif dari rumah ke rumah untuk dibawa ke isolasi terpusat.

"Penjemputan masyarakat yang sedang melakukan isolasi mandiri agar tidak terjadi kejadian yang tidak diinginkan, pemanfaatan dana desa 8 persen untuk pembelian barang-barang untuk mendeteksi dini, jangan sampai ada yang meninggal di kediaman saat isolasi mandiri," tandasnya.

Luhut menyoroti beberapa daerah dengan tingkat kematian tinggi, seperti Bali, Malang, D.I Yogyakarta, dan Solo.

Sumber : Bisnis.com