Dokter: Disiplin Bermasker Berpengaruh Turunkan Kasus Covid-19

Satpol PP Kabupaten Sleman melakukan pembinaan dan pembagian masker di kawasan Stadion Maguwoharjo Sleman./Antara - HO/Humas Pemkab Sleman
31 Juli 2021 16:27 WIB Tim Bisnis Indonesia News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA — Gerakan penggunaan masker untuk mencegah penularan Covid-19 terus digalakkan.

Penggunaan masker secara nasional untuk mencegah penularan Covid-19 sudah mencapai 80 persen, bahkan di Jawa-Bali sudah di atas 85 persen dalam kurun waktu 1,5 bulan terakhir.

Dokter Konsultan Rumah Sakit Darurat Covid-19 (RSDC) Wisma Atlet Andi Khomeini Takdir mengatakan pencapaian penggunaan masker itu bervariasi pada masing-masing provinsi maupun kota/kabupaten.

“Seperti di Jawa-Bali, ada satu-dua kabupaten yang penggunaan masker di bawah 60 persen,” katanya dalam Dialog Produktif Rabu Utama: Langkah Serius Pemerintah Tangani Pandemi Dengan PPKM secara virtual, Rabu (28/7/2021).

Dengan kenyataan itu, dia menilai satu-dua daerah itu tetap perlu mendapat perhatian serius karena dampaknya justru bisa mempengaruhi wilayah lainnya yang justru penggunaan maskernya sudah baik.

Untuk itu, dia menyarankan Indonesia memperbanyak duta perubahan perilaku yang mengedukasi masyarakat tentang pentingnya protokol kesehatan Covid-19.

Andi menegaskan menjalankan protokol kesehatan (prokes) pada intinya disiplin pada diri sendiri dan berdampak pada orang lain.

“Disiplin memakai masker, sangat berpengaruh pada menurun dan naiknya angka positif Covid-19,” ujarnya.

Dia menambahkan konsistensi masyarakat dalam menjalankan prokes penting dalam mencegah penularan Covid-19. Apapun varian Covid-19, cara penularan dan pencegahannya sama, yakni melaksanakan prokes.

Dalam kesempatan lain, Ketua Bidang Data dan Teknologi Informasi Satgas Penanganan Covid-19 Dewi Nur Aisyah menambahkan bahwa 72,71 persen kelurahan/desa di Indonesia dengan angka kepatuhan di atas 75 persen untuk memakai masker selama periode 18-24 Juli 2021.

“Itu artinya masih ada pekerjaan rumah 27,29 persen kelurahan dan desa yang angka kepatuhannya rendah yang harus kita dorong agar lebih patuh dalam menggunakan masker,” katanya.

Pada periode yang sama, dalam protokol kesehatan menjaga jarak, tercatat 71,51 persen kelurahan dan desa dengan tingkat kepatuhan di atas 75 persen.

Pada masa penerapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat, jumlah kelurahan yang memiliki angka kepatuhan di atas 75 persen dalam memakai masker cenderung naik.

Pada periode 27 Juni-3 Juli 2021, kelurahan/desa yang mencatatkan 75 persen tingkat kepatuhan memakai masker adalah 72,81 persen. “Pada pekan terakhir terjadi penurunan sekitar 2 persen sehingga menjadi 72,71 persen,” kata Dewi.

Untuk angka kepatuhan menjaga jarak, pada periode 27 Juni-3 Juli 2021 tercatat mencapai 73,88 persen. Namun, pada pekan setelahnya atau ketika PPKM Darurat mulai diberlakukan, turun ke angka 71,63 persen.

Pada pekan kedua PPKM Darurat, persetasenya naik 72,18 persen tetapi kembali menurun ke angka 71,51 persen pada pekan ketiga atau 18-24 Juli 2021.

Data Satgas menunjukkan tempat dengan tingkat kepatuhan terendah secara nasional dalam memakai masker dan menjaga jarak adalah di warung makan.

Posisi berikutnya yaitu pemukiman terutama di jalan jalan perkampungan. Kepatuhan menggunakan masker dan juga jaraknya masih rendah terakhir ada di tempat olahraga publik.


DUTA PERILAKU

Ketua Bidang Perubahan Perilaku Satgas Penanganan Covid-19 Sonny Harry B. Harmadi juga menyatakan saat ini ada 107.000-an duta perubahan perilaku yang terdiri atas unsur mahasiswa, ibu-ibu PKK, Satuan Polisi Pamong Praja, penyuluh KB, dan Pramuka. Dari jumlah itu, sudah berhasil mengedukasi 55 juta orang dan membagikan 17,2 juta masker.

Secara umum, tren penggunaan masker naik di berbagai provinsi. Di Kulon Progo dan Sleman ada penurunan meski sedikit.

Pelaksanaan PPKM, kata Sonny, juga secara riil meningkatkan kepatuhan masyarakat dalam melaksanakan prokes. Dalam sepekan terakhir, skor-nya naik dari 7,8 menjadi 7,9. Sebelum PPKM, 7,5-7,6. Skor tertinggi 10.

Tingkat hunian Wisma Atlet, katanya, menunjukkan tren penurunan. Satu bulan lalu, angkanya mencapai 7.000 pasien, tetapi pada Rabu (28/7) sudah menurun menjadi 3.267 pasien atau berkurang sekitar separuhnya.

Penurunan itu juga berkat difungsikannya Rusun Nagrak dan Pasar Rumput sebagai RS Lapangan. Yang perlu menjadi perhatian, pasien yang dirujuk di Wisma Atlet tergolong gejala sedang dan berat.

Meningkatkan kesembuhan pasien Covid di Wisma Atlet, kata dia, ditunjang naiknya kesadaran masyarakat dalam menjalankan prokes, intensinya 3T, dan dilaksanakan vaksinasi.

Asisten I Sekda Provinsi DIY Sumadi menegaskan pelaksanaan PPKM telah berhasil mengurangi angka mobilitas warga. Namun, dia menyatakan beralihnya kerumunan di tingkat residensial dan kampong perlu mendapatkan perhatian.

“Karena itulah, kami memanfaatkan tokoh-tokoh di tingkat RT/RW untuk mengedukasi warga agar tidak berkerumun untuk mencegah persebaran Covid,” katanya.

Saat ini, BOR di rumaha sakit di Yogyakarta juga berhasil diturunkan meski sebelumnya pernah mencapai 80 persen.

Strategi yang diterapkan yaitu mendirikan rumah sakit lapangan sebagai shelter pasien Covid-19. Mereka yang sudah membaik, diarahkan ke sana, tidak lagi di RS.

“Masalah oksigen, pernah menjadi masalah. Namun dengan koordinasi, termasuk dengan Satgas Covid-19 nasional akhirnya bisa tertangani,” ucapnya.

Sementara itu, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) merekomendasikan pemakaian masker di sekolah dan ruang publik indoor bagi orang yang telah divaksin setelah AS mencatatkan lonjakan kasus.

Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Zubairi Djoerban mengatakan, hal tersebut menjadi bukti saat ini tidak ada vaksin yang diklaim 100 persen membuat seseorang tidak akan tertular Covid-19.

“Terjadi lonjakan kasus Covid-19 di sana dan CDC baru sadar kembali bahwa seseorang yang sudah divaksin tetap saja bisa terinfeksi Covid-19 dan masih bisa juga menyebarkan virusnya. Sebab, vaksin itu tidak pernah dikatakan 100 persen efektif,” cuitnya melalui akun Twitter @ProfesorZubairi, Rabu (28/7/2021).

Lebih lanjut, dia menyampaikan, bahwa jika terlalu banyak orang tidak memakai masker dan juga tidak divaksinasi, maka potensi penyebaran virus otomatis semakin luas.

“Artinya apa? Masker dan akselerasi vaksinasi amat dibutuhkan saat ini. Apalagi, untuk Indonesia yang baru 18 juta orang menerima vaksin dua dosis,” cuitnya kemudian.

Sumber : bisnis.com