Selama PPKM, Pemakaman Protokol Covid 19 di Kota Jogja Meningkat 100%

Foto ilustrasi: Tenaga pikul membawa jenazah dengan protokol COVID-19 untuk dimakamkan di TPU Cikadut, Bandung, Jawa Barat, Selasa (15/6/2021). - ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi
30 Juli 2021 12:27 WIB Sirojul Khafid News Share :

Harianjogja.com, JOGJA– Pemakaman menggunakan protokol Covid-19 di Kota Jogja meningkat selama Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat atau Level 4.

Sebelum PPKM, atau dari Agustus 2020 sampai 3 Juli 2021, jumlah pemakaman menggunakan protokol Covid-19 sebanyak 500. Sedangkan sejak 3-29 Juli 2021 bertambah sebanyak 570 pemakaman protokol Covid-19. Sehingga total pemakaman dari Agustus 2020 – Juli 2021 sekitar 1.070.

Menurut Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Jogja, Nur Hidayat, sekitar 200 di antaranya merupakan pemakaman warga positif Covid-19 yang menjalani isolasi mandiri (isoman). Untuk warga isoman yang meninggal harus dievakuasi ke Rumah Sakit (RS) terlebih dahulu. Setelah itu baru bisa dimakamkan.

Saat kasus kematian sedang tinggi, petugas pemakaman bisa menangani 30-40 jenazah per hari. Hal ini cukup menyulitkan petugas pemakaman dengan protokol Covid-19 dari BPBD Jogja yang hanya memiliki enam tim. “Pemakaman kan tidak mencukupi, maka saya mengambil kebijakan untuk melibatkan peran serta anggota Kampung Tanggung Bencana (KTB). Di KTB kan di dalamnya ada relawan dari Rukun Tetangga, Rukun Warga, dan lainnya,” kata Nur Hidayat, Kamis (29/7/2021).

Saat ini proses pemakaman melibatkan relawan di setiap kampung yang tersebar di Jogja. Sehingga penanganan jenazah dari kampung tertentu bisa ditangani oleh warganya sendiri. BPBD Jogja nantinya akan memfasilitasi Alat Pelindung Diri (APD), edukasi protokol, pelatihan, dan sebagainya.

Nur Hidayat bersyukur banyak KTB yang mau terlibat. Setiap kemantren dan kelurahan juga sudah memiliki relawan masing-masing. Satu tim terdiri dari tujuh orang. Jumlah relawan ini diprediksi terus bertambah.

“[Apabila tidak mendapat bantuan dari relawan] kewalahan betul ini. Kan mau tidak mau harus melaksanakan pemakaman, masyarakat juga ingin proses pemakaman cepat dan sebagainya. Harapannya masyarakat juga paham dengan kondisi tim,” kata Nur Hidayat.

Selain sedikitnya tim pemakaman, rangkaian proses pemakamannya juga lama. Sekali pemakaman setidaknya membutuhkan waktu tiga jam. Ada segala macam prosedur yang harus dilakukan. Untungnya, dari sisi ketersediaan APD sejauh ini tidak ada masalah. Masih ada stok untuk tiga bulan ke depan.

Pemakaman Sudah Mulai Turun

Sudah tiga hari terakhir, terdapat penurunan pemakaman jenazah dengan protokol Covid-19. Dari yang 30-40 per hari, saat ini berada di bawah 20 pemakaman. “Sekarang sudah terbukti, perlindungan konsisten dengan prokes di lingkungan keluarga dan masyarakat yang saya kira sudah menjadi gaya hidup masyarakat. Saya harap konsisten dengan ini,” kata Nur Hidayat.

Untuk meminimalisir kemungkinan kematian bagi pasien Covid-19, termasuk yang melakukan isomasi mandiri, perlu ada komunikasi yang intens dengan tenaga kesehatan atau petugas puskesmas. Di wilayah kewenangan Puskesmas Gondokusuman 1, sejak Juni sampai saat ini sudah ada sebelas orang yang meninggal di rumah. Ada yang sedang isoman atau baru terdeteksi Covid-19 setelah meninggal.

Kepala Puskesmas Gondokusuman 1, Francisca Bambang mengimbau warga yang isoman bisa menjaga komunikasi yang inten dengan petugas puskesmas. “Akan kami bantu untuk penanganannya. Kemudian melaporkan misal ada gejala, positif harus jujur, memberikan semua informasi kepada petugas. Tujuan kami hanya mencegah atau membatasi gerak dari virus ini,” katanya.