Keterisian Tempat Tidur Rumah Sakit di Jakarta Mulai Stabil

Wakil Menteri Kesehatan RI dr. Dante Saksono Harbuwono. - Kemkes.go.id
18 Juli 2021 16:07 WIB Rayful Mudassir News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Kabar baik diungkapkan oleh Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono. Ia menjelaska   bahwa keterisian tempat tidur perawatan pasien Covid-19 di Jakarta mulai stabil.

Dia mengatakan kondisi itu disebabkan penambahan tempat tidur yang cukup signifikan beberapa waktu terakhir.

“Ada kabar baik tentang belakangan ini bahwa BOR (Bed Occupancy Rate) rumah sakit sudah mulai flat di Jakarta,” kata Dante dalam keterangan pers Bersama mengenai Evaluasi Pelaksanaan PPKM Darurat, Sabtu (17/07/2021) malam, secara virtual.

Pemerintah, imbuhnya, menambah kapasitas rumah sakit darurat Covid-19 seiring peningkatan kasus infeksi. Beberapa di antaranya Rumah Sakit Asrama Haji hingga penambahan kamar tidur di Rusun Nagrak.

Pemerintah mencatat setidaknya 2.000 tempat tidur tambahan bagi pasien Covid-19 tersedia di Jakarta. Selain itu, Kemenkes bekerja sama dengan Kementerian PUPR juga membangun rumah sakit lapangan di sejumlah wilayah Tanah Air.

“Angka yang masuk ke rumah sakit mudah-mudahan kita harapkan untuk beberapa hari ke depan tidak terlalu masif lagi,” ujarnya.

Sementara itu, Wamenkes menuturkan bahwa pemerintah terus berupaya menjamin ketersediaan obat terapi Covid-19 baik dengan mengoptimalkan suplai dari industri farmasi dalam negeri maupun lewat skema impor.

Adapun, terdapat tiga jenis obat yang diupayakan melalui impor agar stoknya tetap aman untuk Indonesia yaitu Remdesivir, Actemra, dan Gammaraas.

“Obat bisa saya laporkan bahwa di dalam negeri relatif terkontrol pasokannya. Kami menyadari bahwa ada obat-obat impor yang memang secara global pasokannya sangat ketat dan obat-obat tersebut antara lain ada Remdesivir, Actemra, Gammaraas [IVig],” terangnya.

Remdesivir akan diimpor dari India, Pakistan, dan Cina. Kementerian Kesehatan bersama Kementerian Luar Negeri telah melakukan negosiasi agar India bisa membuka kembali ekspor untuk obat tersebut.

“Sudah mulai masuk sekitar 50.000 vial dan nanti akan bertambah lagi menjadi 50.000 vial lagi per minggu. Kami juga sudah membuka akses ke Cina supaya obat-obat yang mirip dengan Remdesivir bisa masuk,” jelasnya.

Pemerintah juga telah menjalin komunikasi langsung dengan Roche, perusahaan obat asal Swiss untuk mendatangkan Actemra. Sedangkan untuk Gammaraas, pemerintah sudah mendapatkan impor dari Cina sebanyak 30 ribu vial.

Sumber : Bisnis.com