Advertisement
Kasus Covid-19 Terus Melonjak, Kemenkes: Dampak dari Usaha Menaikkan Testing
Juru bicara vaksinasi dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dr Siti Nadia Tarmizi. (FOTO ANTARA / Muhammad Zulfikar)
Advertisement
Harianjogja.com, JAKARTA—Kementerian Kesehatan menyatakan tingginya kasus Covid-19 yang terjadi akhir-akhirnya merupakan dampak dari upaya pemerintah menaikkan anka testing harian. Mayoritas penularan saat ini masih terjadi di Pulau Jawa.
“Kenaikan angka kasus ini merupakan salah satu dampak dari usaha pemerintah menaikkan angka testing harian. Jumlah orang yang dilakukan tes sudah sampai 182.000 orang,” kata Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Kemenkes RI, Siti Nadia Tarmizi dalam rilisnya, Sabtu (17/7/2021).
Advertisement
BACA JUGA : Sleman Tak Menambah Testing Covid-19 Pasca-Libur
Nadia juga menambahkan dilihat jumlah kasus yang ditemukan saat ini hampir tiga hingga empat kali lipat dibandingkan puncak kasus pada Desember 2020 dan Januari 2021, yang saat itu testing masih terbatas penggunaan seperti rapid antigen untuk diagnosis atau mendeteksi orang yang sakit.
“Saat ini dengan kombinasi pemeriksaan menggunakan PCR dan rapid antigen, dapat segera menemukan orang sakit supaya bisa dipisahkan dari orang sehat, sehingga tidak ada penularan lagi,” ujarnya.
Dewan Pakar Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat (IAKMI) Hermawan Saputra mengatakan saat ini kasus aktif di angka 480.000, sedangkan untuk suspek lebih dari 200.000. Sehingga ada sekitar 680.000 yang jumlahnya probable to case. Testing memang harus terus ditingkatkan, karena idealnya antara 900.000 hingga 1 juta testing per hari. Peningkatan angka testing ini akan menyebabkan temuan banyak kasus positif Covid-19, tetapi hal itu penting dan harus dilakukan.
BACA JUGA : Covid-19 di DIY Hari Ini Meledak, Sehari 2.731 Orang
Hermawan mengimbau masyarakat agar tak khawatir jika didapatkan angka kenaikan yang tiap hari memecahkan rekor. “Kenaikan kasus akibat dari angka testing tinggi ini sebenarnya bagus untuk mitigasi risiko agar kita bisa memiliki perencanaan yang lebih baik untuk mempercepat penanganan dan menghindari kematian yang lebih besar,” katanya.
Ia menilai selama ini pola pemeriksaan testing rendah karena sifatnya yang masif-pasif. Testing dilakukan kepada orang yang sudah di rumah sakit atau di faskes lain seperti klinik, puskesmas. Padahal yang diperlukan sebenarnya dalam perspektif epidemiologi itu yang disebut active case finding.
“Upaya dengan cepat di hulu harus terus meningkatkan pada populas yang beresiko, karena adanya angka yang sudah terjadi indikasi massive transmission atau local transmission di lapangan,” ujarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Tetangga Kenang Farhan, Copilot ATR yang Tewas di Bulusaraung
- Bulog Bakal Pakai Beras Premium untuk MBG dan Batalion TNI
- Tidak Boleh Tokoh Fiksi, Pekerjaan di KTP Diatur Ketat, Ini Daftarnya
- Banjir Kiriman Ciliwung Rendam Kebon Pala Jakarta
- BPBD Magetan Kerahkan SAR, Pendaki Mongkrang Belum Ditemukan
Advertisement
Advertisement
Festival Lampion Dinosaurus Zigong Tarik Wisatawan ke Sichuan
Advertisement
Berita Populer
- Gunungkidul Kembangkan Lele Koperasi untuk Makan Bergizi Gratis
- Harda Kiswaya Beberkan Penerbitan SE di Sidang Hibah Sleman
- Banjir Karawang Meluas, Warga Bantaran Sungai Dievakuasi
- Smartphone Diproyeksi Naik Harga, Penjualan Terancam Turun
- Pajak Kendaraan Jadi Andalan PAD, DPRD DIY Soroti Layanan Samsat
- Kelola 2.000 Ton Sampah Organik, Pemkot Jogja Tambah 400 Biopori Jumbo
- Program Salut Tenan di Bantul Kian Diminati Sekolah PAUD
Advertisement
Advertisement




