Kasus Covid-19 Terus Melonjak, Kemenkes: Dampak dari Usaha Menaikkan Testing

Juru bicara vaksinasi dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dr Siti Nadia Tarmizi. (FOTO ANTARA / Muhammad Zulfikar)
18 Juli 2021 04:57 WIB Sunartono News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA—Kementerian Kesehatan menyatakan tingginya kasus Covid-19 yang terjadi akhir-akhirnya merupakan dampak dari upaya pemerintah menaikkan anka testing harian. Mayoritas penularan saat ini masih terjadi di Pulau Jawa.

“Kenaikan angka kasus ini merupakan salah satu dampak dari usaha pemerintah menaikkan angka testing harian. Jumlah orang yang dilakukan tes sudah sampai 182.000 orang,” kata Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Kemenkes RI, Siti Nadia Tarmizi dalam rilisnya, Sabtu (17/7/2021).

BACA JUGA : Sleman Tak Menambah Testing Covid-19 Pasca-Libur

Nadia juga menambahkan dilihat jumlah kasus yang ditemukan saat ini hampir  tiga hingga empat kali lipat dibandingkan puncak kasus pada Desember 2020 dan Januari 2021, yang saat itu testing masih terbatas penggunaan seperti rapid antigen untuk diagnosis atau mendeteksi orang yang sakit.

“Saat ini dengan kombinasi pemeriksaan menggunakan PCR dan rapid antigen, dapat segera menemukan orang sakit supaya bisa dipisahkan dari orang sehat, sehingga tidak ada penularan lagi,” ujarnya.

Dewan Pakar Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat (IAKMI) Hermawan Saputra mengatakan saat ini kasus aktif di angka 480.000, sedangkan untuk suspek lebih dari 200.000. Sehingga ada sekitar 680.000 yang jumlahnya probable to case. Testing memang harus terus ditingkatkan, karena idealnya antara 900.000 hingga 1 juta testing per hari. Peningkatan angka testing ini akan menyebabkan temuan banyak kasus positif Covid-19, tetapi hal itu penting dan harus dilakukan.

BACA JUGA : Covid-19 di DIY Hari Ini Meledak, Sehari 2.731 Orang

Hermawan mengimbau masyarakat agar tak khawatir jika didapatkan angka kenaikan yang tiap hari memecahkan rekor. “Kenaikan kasus akibat dari angka testing tinggi ini sebenarnya bagus untuk mitigasi risiko agar kita bisa memiliki perencanaan yang lebih baik untuk mempercepat penanganan dan menghindari kematian yang lebih besar,” katanya.

Ia menilai selama ini pola pemeriksaan testing rendah karena sifatnya yang masif-pasif. Testing dilakukan kepada orang yang sudah di rumah sakit atau di faskes lain seperti klinik, puskesmas. Padahal yang diperlukan sebenarnya dalam perspektif epidemiologi itu yang disebut active case finding.

“Upaya dengan cepat di hulu harus terus meningkatkan pada populas yang beresiko, karena adanya angka yang sudah terjadi indikasi massive transmission atau local transmission di lapangan,” ujarnya.