Hadi Tjahjanto Purna Tugas Akhir Tahun, Yudo Margono Dinilai Layak Jadi Panglima TNI

Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto (kanan) dan Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana TNI Yudo Margono (kiri) menunjukkan baju keselamatan awak kapal KRI Nanggala 402 yang ditemukan saat konferensi pers di Lanud I Gusti Ngurah Rai, Badung, Bali, Minggu (25/4/2021). - Antara/Fikri Yusuf
02 Juni 2021 10:27 WIB Newswire News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto akan memasuki masa purnatugas atau pensiun pada akhir tahun ini. Pucuk pimpinan TNI pun akan berganti.

Sejumlah nama dinilai layak menduduki kursi Panglima TNI yang akan ditinggalkan Marsekal TNI Hadi Tjahjanto. Salah satu nama yang dinilai pantas menerima estafet kepemimpinan di TNI adalah Kasal  Laksamana TNI Yudo Margono.

Laksamana TNI Yudo Margono, S.E., M.M. lahir di Madiun, Jawa Timur, 26 November 1965. Ia menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan Laut ke-27 sejak 20 Mei 2020.

Yudo adalah alumnus Akademi Angkatan Laut (AAL) angkatan ke-XXXIII/tahun 1988. Sebelumnya, dia menjabat Panglima Komando Gabungan Wilayah Pertahanan I.

Baca juga: Nasa Kirim 128 Bayi Cumi dan 5.000 Beruang Air ke Luar Angkasa

Terait kelayakan Yudi menjadi Panglima TNI, pengamat Intelijen, Pertahanan dan Keamanan Ngasiman Djoyonegoro menyebutkan beberapa poin mendasar.

"Tentang loyalitas, tak ada yang bisa membantah loyalitas Kasal ke-27 ini. Seluruh tugas dan tanggung jawab yang diberikan kepadanya selalu dilaksanakan dan diselesaikan dengan baik dan paripurna," kata Ngasiman dalam keterangan tertulisnya, di Jakarta, Rabu (2/6/2021).

Menurut dia, Yudo yang mulai menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) pada 20 Mei 2020, tidak sembarang menjadi prajurit TNI AL. Serangkaian kemampuan dan kecakapan, serta loyalitas adalah sebagian syarat yang harus dimiliki.

Menurut Simon, panggilan akrab Ngasiman Djoyonegoro, rekam jejak atau track record ini dibuktikan Yudo  jauh sebelum dirinya menjadi Kasal.

Saat menjabat sebagai Panglima Koarmada 1 (Pangkoarmada 1), Yudo dengan kesigapannya memimpin Satgas Laut dalam SAR pencarian bangkai pesawat Lion Air JT 160 yang jatuh di perairan Laut Jawa pada tahun 2019.

Satgas di bawah pimpinannya tak butuh waktu lama untuk menemukan serpihan dan CVR pesawat nahas tersebut.

Baca juga: Bupati Akan Beri Sanksi Sekolah yang Tak Terapkan Nilai Pancasila

"Kesuksesan pada saat menjabat Pangkoarmada 1 mengantarkannya menjabat sebagai Panglima Komando Gabungan Wilayah Pertahanan 1 (Pangkogabwilhan 1)," kata Simon.

Sebagai Pangkogabwilhan 1, lanjut dia, yang merupakan organisasi baru TNI untuk mengantisipasi tantangan keamanan ke depan, wilayah kewenangannya bukan hanya di laut tetapi meliputi darat, laut, dan udara.

Yudo dinilai berhasil mengemban tugas tersebut.

"Dengan wawasan dan pengalamannya memimpin, Yudo berada posisi terdepan di kisruh perairan Natuna yang diklaim sebagai wilayah China. Berulang kali ia memerintahkan kapal-kapal TNI untuk melakukan penegakan hukum di wilayah yang masuk hak berdaulat Indonesia tersebut. Sebagai Pangkogabwilhan 1, ia punya pengalaman membawahi AD, AL dan AU," tutur Simon.

Saat virus Corona merebak di dunia dan Indonesia harus memulangkan WNI dari Wuhan, Yudo kembali dipercaya memimpin proses rehabilitasi di hanggar Lanud Raden Sadjad, Natuna.

Tak hanya itu, ABK kapal pesiar yang diobservasi di Kepulauan Seribu juga dikomandoi olehnya.
 
Pemerintah lalu membangun RSD di Wisma Atlet Kemayoran. Setelah beroperasi, Yudo juga dipercaya memimpin operasional RSD sampai akhirnya diserahkan kepada Pangdam Djaya Mayjend TNI Eko Margiyono kala itu.

Yudo juga berperan di RSD Pulau Galang. Bahkan, saat menjabat Kasal, Yudo memberikan perhatian kepada relawan tenaga medis Covid-19 di Wisma Atlet.

Sebagai apresiasi dan pemenuhan komitmen, Yudo Margono mengangkat relawan Covid-19 menjadi prajurit TNI AL. 

"Pengalamannya memimpin di jajaran Kogabwilhan 1 membuktikan bahwa Laksamana TNI Yudo Margono adalah seorang prajurit sejati yang dapat mengomandoi lingkup 3 matra. Darat, laut, dan udara," kata Simon.

Sebagai Kasal loyalitas Yudo tidak perlu dipetanyakan lagi.

"Loyalitas yang tegak lurus, baik ke atas maupun ke bawah. Ke atas dibuktikan dengan tugas-tugas yang diselesaikannya dengan baik dan paripurna. Ke bawah dibuktikan dengan perhatiannya kepada keluarga besar TNI AL yang menjadi tanggung jawabnya," jelas Simon.

Terkait musibah KRI Nanggala-402, Simon mencontohkan bagaimana loyalitas Yudo kepada keluarga korban. Bersama Panglima TNI, Yudo ikut melaut untuk mencari keberadaan KRI Nanggala-402.

"Saat KRI Naggala-402 dipastikan tenggelam, Yudo menyambangi beberapa keluarga korban dan bersama Presiden, Menhan, dan Panglima TNI mengadakan pertemuan dengan para keluarga korban," tutur Simon.

Simon mengatakan Yudo mempunyai keunggulan jika nanti menjadi Panglima TNI.

Pertama, kata dia, terkait pengamanan wilayah laut dan kepulauan dari pencaplokan oleh negara-negara lain.

"Yang pertama tentu pengamanan wilayah laut dan kepulauan dari pencaplokan oleh negara-negara lain," tuturnya.

Selain itu, Simon menyebut pengamanan laut dari aktivitas penyelundupan senjata.
 
Kedua, menurut Simon, adalah visi Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia perlu dilanjutkan.

Poros Maritim Dunia bertujuan menjadikan Indonesia sebagai negara maritim yang besar, kuat, dan makmur melalui pengembalian identitas Indonesia sebagai bangsa maritim, pengamanan kepentingan dan keamanan maritim, memberdayakan potensi maritim untuk mewujudkan pemerataan ekonomi Indonesia.

Ketiga, Yudo dinilai bisa membangun sinergisitas dan soliditas dengan tiga Matra dan Polri.

Keempat, Yudo juga punya pengalaman memimpin penanganan Covid-19.

Saat memimpin, tambah Simon, Yudo memahami bagaimana perkembangan dunia teknologi kesehatan yang diperuntukkan bagi kekuatan militer.

Artinya, dalam upaya mencegah ancaman biowarfare (perang biologi) ke depan, menurut Simon peran Yudo sangat diperlukan.

Kandidat Lain

Selain Yudo Margono, kandidat lain juga memiliki peluang untuk menduduki kursi Panglima TNI.

Mereka adalah Kasad Jenderal TNI Andika Perkasa dan Kasau Marsekal TNI Fadjar Prasetyo.

Seperti halnya Yudo, Andika Perkasa dan Fadjar Prasetyo tentu punya kelebihannya masing-masing.

Pertimbangan atas kelayakan masing-masing kandidat dan kebutuhan akan profil Panglima TNI ke depan akan menjadi penentu siapa yang bakal memegang tongkat komando Tentara Nasional Indonesia.

Sumber : Antara