7 Strategi Bicarakan Menstruasi dengan Anak

Siklus menstruasi. Jangan berpikir topik menstruasi bisa dibicarakan dalam satu kali pertemuan saja. - Istimewa
29 Mei 2021 04:27 WIB Janlika Putri Indah Sari News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA—Ibu mengambil peran penting dalam mengedukasi anak perempuan terkait menjaga kesehatan dan kebersihan saat menstruasi. Namun karena topik ini seringkali dianggap tabu, anak kerap terjebak dengan informasi yang salah dari internet atau temannya.

Anna Surti Ariani selaku psikolog anak dan keluarga, mengatakan bahwa apabila ibu tidak memberikan pengetahuan reproduksi maka akan membuat kualitas hidup dan kesehatan negara menurun.

“Sering kali pembicaraan menstruasi dinilai tabu sehingga membuat para ibu bingung harus memulainya dari mana. Padahal, menarke atau fase pertama haid yang dialami oleh anak perempuan adalah masa paling penting dan harus memiliki kesiapan," paparnya pada diskusi virtual Betadine Indonesia berjudul Sehat dan Bersih saat Menstruasi, Kamis (27/5/2021).

Dengan membicaran pada anak itu akan membuat kesehatan reproduksi remaja lebih baik, menunda hubungan seksual pertama, mengurangi risiko masalah kesehatan mental terkait dengan seksualitas. Dan tentunya hubungan ibu dan anak lebih dekat.

Agar tidak bingung, Anna membagikan cara untuk memudahkan para ibu dalam membicaran menstruasi dengan putrinya.

Berikut 7 strategi untuk Ibu membicarakan menstruasi pada anak :

1. Ingat, ibu paling diharapkan

Ibu adalah sumber informasi tentang menstruasi yang paling diharapkan oleh anak perempuan. Ibu perlu membekali diri dengan pemahaman yang tepat tentang menstruasi. Ibu perlu paham mana mintos dan fakta tentang menstruasi. Ibu juga perlu membekali diri dengan cara berkomunikasi tentang menstruasi.

2. Bicara menstruasi tidak tabu

Pembicaraan tentang menstruasi penting untuk meningkatkan kesehatan reproduksi perempuan generasi penerus bangsa.

3. Lakukan berulang kali

Jangan berpikir topik menstruasi bisa dibicarakan dalam satu kali pertemuan saja. Topik menstruasi dapat dibicarakan sejak ada tanda-tanda awal pubertas, atau sebelumnya. Sesuaikan pembicaraan dengan usia anak.

4. Bersikap positif

Isu-isu pubertas termasuk menstruasi bisa merupakan topik yang sensitif buat remaja. Jadi, ibu harus menyampaikanya dengan hati-hati pada anak agar tidak dianggap mengerikan. Yakinkan anak bila itu adalah kondisi yang wajar.

5. Banyak bertanya dan berdiskusi

Lebih baik banyak bertanya dan mendengarkan jawaban remaja, dibandingkan banyak menceramahi atau menasihati. Ibu bisa berbagi pengalaman pribadi secara positif. Jika tak siap menjawab pertanyaan anak, katakan butuh waktu berpikir dulu. Setelahnya cari informasi dan jawablah.

6. Jelaskan secara kongkret

Gunakan gambar anatomi tubuh sederhana sembari menjelaskan. Tunjukkan pembalut dan ajari cara menggunakannya. Dapat dilakukan dengan games, misalnya Menstrual Maze (Tran & Choi, 2018).

7. Jelaskan juga kepada anak laki-laki

Tujuannya agar anak laki-laki dapat lebih menghargai dan memahami perempuan. Anak laki-laki diharapkan tidak mengejek atau mempermalukan anak perempuan yang sedang menstruasi. Dengan pengetahuan tersebut, anak laki-laki dapat membantu anak perempuan.  Misalnya mereka memberikan bantuan dengan ikut menutupi teman perempuan yang mengalami bocor menstruasi di roknya. Contoh bantuan lain misalnya membawakan minuman hangat untuk teman yang lesu karena menstruasi.

Sumber : Bisnis.com