Peristiwa Kedungombo Harus Jadi Pembelajaran karena Dikelola Masyarakat, Bukan Badan Usaha

Perahu wisata yang mengalami kecelakaan di Waduk Kedungombo, Kemusu, Boyolali, Sabtu (15/5/2021). - Solopos/Akhmad Ludiyanto\\r\\n\\r\\n
17 Mei 2021 09:17 WIB Newswire News Share :

Harianjogja.com, BOYOLALI - Peristiwa perahu terbalik di Waduk Kedungombo, Kecamatan Kemusu, Kabupaten Boyolali, Sabtu (15/5/2021) lalu diharapkan menjadi pelajaran bagi pengelola objek wisata dalam hal penerapan aspek keselamatan.

Seperti diketahui, insiden perahu terbalik di Waduk Kedungombo ini menyebabkan tujuh korban meninggal dan dua lainnya masih belum ditemukan. Perahu tersebut diketahui dinakhodai seorang bocah berusia 13 tahun. Pemerintah Kecamatan Kemusu akan terus memantau lokasi wisata tersebut.

Peringatan soal pentingnya aspek keselamatan itu disampaikan Kapolres Boyolali, AKBP Morry Ermond. Ia menegaskan ke depan harus ada perbaikan untuk pengelolaan wisata tersebut.

“Kejadian ini harus jadi pelajaran. Pemerintah harus memberi treatment kepada masyarakat. Sebab pengelolanya bukan badan usaha. Ini masyarakat. Kalau dikelola badan usaha, retribusi jelas, dasar usaha jelas, sehingga treatmentnya pun sudah pasti ada. Kalau misalnya tidak ada sosialisasi, rompi dan sebagainya pasti yang bertanggung jawab,” kata dia, Minggu (16/5/2021).

Sementara pada kasus di Kemusu tersebut, lokasi wisata dikelola masyarakat desa. “Jadi istilahnya masuk di area abu-abu. Harusnya ada treatment baik dari pemerintah daerah maupun provinsi. Ke depan harus ada perbaikan. Sosialisasi, penyuluhan tentang prosedur keselamatan,” kata dia.

Baca juga: Jumlah Kendaraan Luar Kota Masuk Jogja Berkurang

Sementara itu, Camat Kemusu, Sumarno, mengatakan peristiwa tersebut akan menjadi pelajaran penting. Ke depan aspek keselamatan pun harus benar-benar ditekankan. Dia menjelaskan sebelumnya sudah ada sosialisasi yang diberikan kepada masyarakat terkait aspek keselamatan.

“Sosialisasi sebenarnya sudah. Perahu juga sudah dibekali pelampung. Tapi kadang tidak diperhatikan. Sebenarnya ada, masing-masing perahu ada pelampung,” kata dia.

Dia menjelaskan untuk lokasi wisata tersebut, sebenarnya hanya ada beberapa perahu yang diperuntukkan bagi penumpang. Perahu tersebut membawa penumpang dari tepi waduk ke warung apung milik warga. Sedangkan untuk perahu-perahu lain merupakan perahu milik nelayan untuk menuju karamba.

Sumber : Solopos.com