Digelar Terbatas, Ruwahan Lintas Agama di Sorowajan Berlangsung Khidmat

Pelaksanaan Ruwahan 2021 di Pedukuhan Sorowajan, Banguntapan Bantul, Sabtu (3/4/2021). - Ist.
05 April 2021 07:27 WIB Sunartono News Share :

Harianjogja.com, BANTUL--Warga di Pedukuhan Sorowajan, Kalurahan Banguntapan, Kapanewon Banguntapan Bantul kembali menggelar ruwahan di 2021 setelah sempat ditiadakan akibat pandemi Covid-19 pada 2020 silam. Ruwahan dengan melibatkan tokoh lintas agama ini digelar secara terbatas di Gedung Pedukuhan Sorowajan.

Ketua Panitia Ruwahan Bersama Pedukuhan Sorowajan Faisol Afero menjelaskan pelaksanaan ruwahan 2021 yang digelar Sabtu (3/4/2021) siang telah melalui kesepakatan bersama warga serta mendapatkan izin dari Satgas Covid-19 Kapanewon Banguntapan. Namun digelar dengan terbatas dan menerapkan protokol kesehatan ketat. Dari 20 RT, warga yang hadir pun dibatasi maksimal dua orang perwakilan setiap RT. Tidak seperti saat normal yang dihadiri ribuan warga dengan membawa ambengan.

"Karena pandemi, Covid-19 setiap RT hanya membawa dua ambengan. Untuk 2020 silam ruwahan ditiadakan karena awal pandemi. Dari tahun ke tahun sebenarnya selalu ramai dihadiri masyarakat dari berbagai latar belakang dengan suasana toleransi yang kuat," katanya kepada Harianjogja.com, Senin (5/4/202).

Ritual ruwahan pun sama seperti tahun sebelumnya. Doa melibatkan perwakilan tokoh semua agama, mulai dari umat Hindu, Kristiani hingga Islam secara bergantian. Warga yang hadir pun menyimak dengan khidmat. Setelah semua tokoh agama berdoa dan selesai, kemudian warga yang hadir membawa pulang ambengan. Bedanya dengan tahun sebelumnya saat normal, di ruwahan 2021 inj sebelum dimulai warga yang hadir lebih dahulu dicek suhu tubuh, cuci tangan dan jaga jarak selama duduk.

Faisol menegaskan warga pedukuhan Sorowajan memiliki alasan kuat untuk tetap melaksanakan ruwahan meski dengan terbatas. Langkah ini sebagai salah satu upaya pelestarian budaya lokal. "Karena seringkali generasi muda memandang budaya asing lebih menarik daripada budaya lokal. Sehingga pelestarian tradisi ini harus dilakukan. Pelaksanaan tradisi ruwahan ini secara terbatas dan berlangsung khidmat," katanya.

Dukuh Sorowajan, Banguntapan, Bantul Ridwan Novalino menambahkan ruwahan di Sorowajan merupakan tradisi rutin yang selalu digelar oleh nenek moyang terdahulu hingga saat ini. Tradisi ini digelar untuk menyambut bulan suci Ramadan. "Kami berharap melalui tradisi ini kerukunan bisa terus terjaga," ucapnya.

Panewu Banguntapan, Bantul Fauzan Muarif yang hadir dalam kesempatan itu mengapresiasi ruwahan lintas agama yang digelar warga Sorowajan. Kegiatan itu menjadi sarana warga dari berbagai suku dan agama untuk bisa hidup rukun berdampingan. Ia mengajak generasi muda untuk ikut serta dalam melestarikan tradisi. Karena dalam situasi perkembangan teknologi seperti saat ini memelihara tradisi budaya banyak tantangan.

"Sorowajan ini seperti Indonesia mini, semua umat ada di sini, sehingga kami harapkan kerukunan ini terus terjaga. Ruwahan menjadi salah satu media untuk mempererat hubungan antarumat. Mari menjadi generasi penerus yang baik dengan terus berusaha nguri-uri kebudayaan lokal," ujarnya.