Advertisement
Demo di Myanmar, PBB Catat 38 Orang Tewas
Seorang biksu Buddha memegang tanda berdiri di samping kendaraan lapis baja saat protes terhadap kudeta militer, di Yangon, Myanmar, Minggu (14/2/2021)./Antara - Reuters/Stringer
Advertisement
Harianjogja.com, JAKARTA - Sedikitnya 38 orang tewas kemarin pada hari "paling berdarah" dari krisis Myanmar, menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ketika pemerintah militer menentang kecaman internasional atas kudeta dengan tindak kekerasan.
Myanmar terjebak kekacauan sejak 1 Februari ketika militer menggulingkan dan menahan pemimpin sipil Aung San Suu Kyi, sehingga mengakhiri eksperimen negara demokrasi selama satu dekade. Aksi protes massa kian meningkat setiap hari.
Advertisement
"Hanya hari ini, 38 orang tewas," ujar utusan PBB untuk Myanmar Christine Schraner Burgener mengatakan kepada wartawan seperti dikutip ChannelNewsAsia.com, Kamis (4/3/2021).
Dia menambahkan, bahwa lebih dari 50 orang tewas sejak pengambilalihan kekuasaan oleh militer, dan lebih banyak lagi yang terluka.
"Hari ini adalah hari paling berdarah sejak kudeta terjadi," katanya, tanpa memberikan rincian lebih lanjut, termasuk rincian kematian.
Dia meminta PBB untuk mengambil "tindakan yang sangat keras" terhadap para jenderal yang menepis ancaman sanksi.
"Saya akan terus maju, kami tidak akan menyerah," katanya.
Kekerasan itu membuat Amerika Serikat "terkejut dan jijik". Juru bicara Departemen Luar Negeri Ned Price mengatakan kepada wartawan: "Kami menyerukan kepada semua negara untuk berbicara dengan satu suara untuk mengutuk kekerasan brutal oleh militer Myamar terhadap rakyatnya sendiri.
AS menuduh China berada di balik dukungan atas tindakan militer Myanmar selain sebagai sebagai sekutu utamanya.
"China memang memiliki pengaruh di kawasan itu. Dia memiliki pengaruh dengan junta militer. Kami telah meminta pihak China untuk menggunakan pengaruh itu dengan cara yang konstruktif, dengan cara yang memajukan kepentingan rakyat Myanmar," kata Price.
Dia juga mengatakan, Amerika Serikat, yang telah menjatuhkan sanksi kepada para pemimpin junta, sedang mempertimbangkan tindakan lebih lanjut.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Bisnis Indonesia
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Listrik Kuba Kembali Padam Saat Tekanan Krisis Energi Meningkat
- Ledakan Petasan di Pamekasan Bongkar Produksi Berdaya Ledak Tinggi
- China Desak Penghentian Konflik Timur Tengah Saat Idulfitri
- Konflik Gas Iran-Qatar Picu Lonjakan Harga, Trump Berubah Arah
- Di Momen Lebaran Vladimir Putin Soroti Peran Muslim Rusia
Advertisement
Advertisement
Sukolilo Pati Sempat Viral, Ternyata Simpan Banyak Tempat Wisata
Advertisement
Berita Populer
- Inggris Izinkan AS Pakai Pangkalannya untuk Serang Wilayah Iran
- Charger Ponsel Masih di Stopkontak Picu Kebakaran di Wirobrajan
- Pulang dari Pantai, 1 Lansia Meninggal Dunia Laka di Bugisan
- Netanyahu Banjir Hujatan Usai Bandingkan Yesus dengan Genghis Khan
- Kendaraan Masuk Tol Purwomartani Tembus 6.072 Saat Lebaran
- Bonus Miliaran Cair, Atlet Porda di Bantul Kantongi Puluhan Juta
- Kebijakan WFH Sehari Mulai Dimatangkan untuk Hemat BBM
Advertisement
Advertisement








