100.000 Orang di Inggris Meninggal karena Covid-19, Peran PM Johnson Dipertanyakan

Perdana Menteri Inggris Boris Johnson kembali dari Parlemen di London, Inggris, pada Rabu (30/12/2020). - Bloomberg
27 Januari 2021 23:17 WIB Nindya Aldila News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Perdana Menteri Inggris Boris Johnson tengah dihadapkan masalah serius setelah 100.000 warganya meninggal karena Covid-19.

Hampir setahun sudah sejak pemerintah Inggris menyewa pesawat untuk menerbangkan 83 orang dari Wuhan kembali ke London. Sekarang, saat lockdown nasional ketiganya yang telah berjalan selama 3 pekan, Inggris telah mencatatkan 100.000 kematian akibat Covid-19.

“Sulit untuk menghitung kesedihan yang terkandung dalam statistik suram itu. Saya sangat menyesal atas setiap kehidupan yang telah hilang,” kata Johnson dalam konferensi pers yang disiarkan televisi pada Selasa malam, seperti dikutip dari Bloomberg, Rabu (27/1/2021).

Johnson harus mencari jawaban di bagian mana yang salah hingga membawa Inggris menjadi negara dengan kematian tertinggi ke-5 di dunia. Padahal, Inggris memiliki layanan kesehatan yang dikelola pemerintah, peneliti ternama, dan kondisi alam yang menguntungkan.

Johnson akan diuji dalam pemilihan daerah dan wali kota akhir tahun ini, menjadikan taruhan politiknya semakin tinggi. Dia juga menghadapi pertikaian dengan kaum nasionalis Skotlandia, dan dengan rekan-rekan konservatifnya yang semakin gelisah atas kebijakan pembatasan tersebut.

Sementara itu, jumlah pasien yang dirawat naik, diduga ada hubungannya dengan varian Covid-19 baru, B.1.1.7 yang menular lebih cepat dan 30 persen lebih mematikan ketimbang strain yang biasa.

Pada hari Selasa, ahli medis pemerintah memperingatkan jumlah kematian akan terus meningkat dan hanya akan mulai turun perlahan.

"Kami benar-benar melakukan semua yang kami bisa, dan terus melakukan segala yang kami bisa, untuk meminimalkan hilangnya nyawa dan meminimalkan penderitaan,” tuturnya.

Sejumlah pejabat pemerintah berdebat soal manfaat dari kebijakan lockdown. Namun, di saat yang sama, negara dengan kasus Covid-19 yang rendah seperti Australia dan Selandia Baru mewajibkan karantina bagi seluruh pelancong yang tiba.

“Kami terlalu bingung dan tidak menganggapnya serius pada awalnya," kata Profesor Lawrence Young, ahli virus di Fakultas Kedokteran Warwick, dalam sebuah wawancara. “Negara lain masuk dengan susah payah, mereka masuk dengan cepat, mereka tidak berbohong,” katanya.

Begitu kematian melampaui 100.000, pemerintah langsung mensyaratkan karantina di hotel bagi pelancong yang datang dari wilayah dengan penyebaran Covid-19 tinggi pada Selasa.

Hal ini mengundang tanya sejumlah pihak, kenapa Johnson dan timnya tidak dapat bergerak lebih cepat. Apalagi, setelah adanya kelonggaran perjalanan di perbatasan Uni Eropa.

”Mereka memberitahu kami bahwa mereka ingin menguasai perbatasan mereka, tetapi satu kali itu sangat berpengaruh, dan mereka perlu mengendalikan perbatasan untuk melindungi, mereka gagal,” kata Jonathan Ashworth, juru bicara kesehatan Partai Buruh oposisi Inggris, kepada BBC, Rabu.

Hingga saat ini, hampir 3,7 juta warga negara Inggris terkonfirmasi positif Covid-19. Inggris tengah menderita setelah jumlah kematiannya dua kali dari Spanyol dan Jerman. Berdasarkan analisis dari Johns Hopkins University, Inggris berada di posisi ke-4 dalam peringkat kematian per 100.000 penduduk dibandingkan dengan negara lainnya.

Sumber : Bloomberg