Beda Respons Jokowi dan Menkes soal Corona yang Meroket

Perkembangan Covid-19 di Indonesia. - Satuan Tugas Percepatan Penanganan Covid/19
26 Januari 2021 20:37 WIB Muhammad Khadafi News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA -- Hari ini, Selasa (26/1/2020), secara akumulasi, kasus positif Covid-19 di Indonesia tembus 1 juta orang.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan Presiden Joko Widodo (Jokowi) memanggil beberapa menteri untuk rapat terbatas terkait hal tersebut.

Menurut Menkes 1 juta kasus infeksi virus Corona membuat Indonesia harus merenung. “Angka ini membuat kita harus merenung dan ada dua momen penting yang harus kita sadari,” kata Budi usai bertemu dengan Presiden, Selasa (26/1/2020).

Dia melanjutkan bahwa momen pertama yang dimaksud adalah saatnya Indonesia berduka karena banyak yang telah wafat dengan status pasien Covid-19. Selain itu ada lebih dari 600 tenaga kesehatan yang meninggal dunia dalam perperangan melawan pandemi.

“Dan mungkin sebagian dari keluarga dekat dan teman dekat kita juga sudah meninggalkan kita,” katanya.

Momen kedua adalah Indonesia masih harus berkerja sangat keras. Artinya seluruh rakyat Indonesia harus bersama dengan pemerintah mengatasi laju penularan virus Corona.

“Semua orang ahli epidemiologi mengatakan kepada saya Bahwa untuk mengatasi pandemi ini, satu hal utama yang harus kita ingat, kita harus mengurangi laju penularan dari virus,” ujar Budi.

Sementara itu, Presiden Jokowi memilih gaya komunikasi yang berbeda. Dalam satu bulan terakhir Kepala Negara mengajak masyarakat bersyukur atas penanganan pandemi Covid-19 di Indonesia.

Menurutnya, Indonesia salah satu negara yang berhasil mengendalikan krisis kesehatan dan ekonomi akibat virus Corona.

"Kita bersyukur Indonesia termasuk negara yang berhasil mengendalikan krisis tersebut dengan baik, tetapi permasalahan belum sepenuhnya selesai. Pandemi masih berlangsung dan kita harus waspada dan siaga," kata Jokowi saat menyampaikan sambutan pada Sidang Majelis Pekerja Lengkap Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (MPL-PGI), Senin (25/1/2021).

Sebelumnya, Presiden juga meminta masyarakat bersyukur dalam acara penyaluran Bantuan Modal Kerja kepada pelaku UMKM di Istana Kepresidenan, Bogor, Jawa Barat, Jumat (8/1/2021).

Dia menilai kondisi Indonesia masih lebih beruntung jika dibandingkan beberapa negara lain yang menerapkan lockdown untuk mengendalikan penyebaran Covid-19.

"Kita ini kalau saya lihat alhamdulillah masih beruntung tidak sampai lockdown, kalau di negara lain kayak di eropa itu lockdown dan tidak hanya sebentar. Nggak hanya sebulan tapi bisa sampai tiga bulan, bahkan tiga hari yang lalu di London, Inggris lockdown lagi, Bangkok lockdown, Tokyo statusnya darurat," kata Jokowi.

Jokowi menyatakan meski Indonesia tidak menerapkan lockdown, tetapi dilakukan pembatasan kegiatan masyarakat untuk mengendalikan penyebaran Covid-19.

"Kita di sini meskipun dibatasi dengan protokol kesehatan yang ketat, tetapi masih bisa beraktivitas dan menjalankan usaha," ujarnya.

Pada kesempatan yang lain, Presiden Jokowi juga tidak lupa mengajak masyarakat bersyukur di tengah pandemi Covid-19. “Kita harus bersyukur, alhamdulillah kita mampu menghadapi dengan ketegaran,” katanya dalam pidato tutup tahun 2020 yang disiarkan oleh Youtube Sekretariat Presiden.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, dalam satu bulan terakhir kasus positif Covid-19 di Indonesia melesat cukup tinggi. Pada bulan pertama tahun 2021, penambahan kasus harian beberapa kali mencetak rekor baru. Sama halnya pula dengan positivity rate atau tingkat kepositifan yang per 25 Januari 2020 mencapai 32,82 persen atau lebih dari 6 kali lipat ketentuan Badan Kesehatan Dunia (WHO).

Kondisi darurat Covid-19 diperburuk dengan ancaman ambruknya fasilitas kesehatan. Secara rata-rata tingkat keterisian rumah sakit di pulau Jawa berada pada level 75 persen.

Sumber : Bisnis.com