BMKG: Aktivitas Gempa Majene Dinilai Aneh dan Tidak Lazim

Reruntuhan gempa d Majene, Sulawesi Barat. Personel PT PLN Sulselrabar memulihkan aliran listrik d sana segera setelah terjadi gempa berkekuatan 6,2 pada skala Richter, pada Jumat dini hari. - ANTARA
17 Januari 2021 09:47 WIB Mia Chitra Dinisari News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Daryono menilai produktivitas gempa di Majene Sulawesi Barat adalah fenomena aneh. Pasalnya, katanya, gempa kuat di kerak dangkal (shallow crustal earthquake) dengan magnitudo 6,2 mestinya diikuti banyak gempa susulan.

Akan tetapi, hasil monitoring BMKG menunjukkan hingga hari kedua pasca Gempa Utama 6,2 hingga saat ini baru terjadi 23 kali gp susulan.

"Ini fenomena aneh dan tidak lazim," tulisnya di akun twitternya.

BACA JUGA : Ribuan Pengungsi Korban Gempa di Majene Belum Tersentuh Bantuan

Jika mencermati gempa Majene, tampak produktivitas gempa susulannya sangat rendah. Padahal stasiun seismik BMKG sudah cukup baik sebarannya di daerah tersebut.

Sehingga, gempa-gempa kecil pun terekam dengan baik. Namun hasil monitoring BMKG menunjukkan bahwagempa Majene ini memang miskin gempa susulan.

Gempa kemarin pagi adalah gempa ke-32 yang terjadi sejak terjadinya Gempa Pembuka dengan magnitudo 5,9 pada Kamis 14 Januari 2021 siang hari pukul 13.35 WIB.

Tetapi gempa ini menjadi gempa ke-23 pasca Gempa Utama dengan magnitudo 6,2 pada Jumat 15 Januari 2021 pagi dinihari pukul 01.28 WIB.

BACA JUGA : Gempa Majene, Kemenhub Jamin Penerbangan ke Sulbar Tetap Normal

"Jika kita bandingkan dengan kejadian gempa lain sebelumnya dengan kekuatan yang hampir sama, biasanya pada hari kedua sudah terjadi gempa susulan sangat banyak, bahkan sudah dapat mencapai jumlah sekitar 100 gempa susulan," paparnya.

Dia menjelaskan fenomena rendahnya produksi aftershocks di Majene ini hisa jadi disebabkan karena telah terjadi proses disipasi, dimana medan tegangan di zona gempa sudah habis sehingga kondisi tektonik kemudian menjadi stabil dan kembali normal.

Atau justru malah sebaliknya, dengan minimnya aktivitas gempa susulan ini menandakan masih tersimpannya medan tegangan yang belum rilis, sehingga masih memungkinkn terjadinya gempa signifikan nanti.

Fenomena ini, lanjutnya, membuat kita menaruh curiga, sehingga lebih baik kita patut waspada.

"Inilah prilaku gempa, sulit diprediksi dan menyimpan banyak ketidakpastian. Sehingga kita baru dapat mengkajinya secara spasial dan temporal, akan tetapi untuk mengetahui besarnya medan tegangan riil dan perubahannya pada kulit bumi masih sulit dilakukan," tutupnya.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia