Pustral UGM: Sektor Transportasi Masih Akan Terdampak Pandemi

Rangkaian gerbong kereta MRT terpakir di Depo MRT Lebak Bulus, Jakarta, Senin (20/4/2020). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti
04 Januari 2021 08:37 WIB M Faisal Nur Ikhsan News Share :

Harianjogja.com, JOGJA – Kepala Pusat Studi Transportasi dan Logistik (Pustral) UGM Agus Taufik Mulyono, berpendapat bahwa pada tahun 2021 ini transportasi masih menjadi salah satu sektor usaha yang terdampak oleh pandemi Covid-19.

“Untuk itu, operator transportasi harus inovatif dan kreatif agar mampu tetap bertahan. Tantangan juga masih akan dihadapi terkait kepatuhan penerapan protokol kesehatan pada angkutan pribadi dan sewa,” paparnya akhir pekan lalu.

Dia memperkirakan bahwa jumlah permintaan penumpang masih akan mengalami penurunan. Sementara itu, sektor logistik atau angkutan barang akan mulai mengalami pertumbuhan.

BACA JUGA : Pemerintah Berupaya Pulihkan Sektor Transportasi di Masa

Penggunaan teknologi informasi juga akan terus meningkat, seiring meningkatkan kebutuhan dari penyelenggara transportasi itu sendiri.

Dia mengatakan, dalam konteks yang lebih luas, pandemi Covid-19 secara signifikan telah mempengaruhi turunnya nilai perdagangan dunia.

Hal inilah menurutnya, yang kemudian berimbas pada sektor-sektor lain yang bertumpu pada aktivitas perdagangan tersebut, tak terkecuali sektor transportasi dan logistik.

Sementara itu, Ibrahim Khoilul Rohman, Dosen Ekonomi Makro FEB Universitas Indonesia mencatat, selama masa pandemi ini setidaknya terjadi penurunan keuntungan perdagangan rata-rata hingga 50 persen dan pengurangan tenaga kerja rata-rata 20 persen.

Dia menilai bahwa perdagangan eceran dan e-commerce menjadi peluang yang mesti dimanfaatkan dengan baik selama pandemi ini. Mengingat nilai gross merchandise value (GMV) di Asean akan melebihi US$100 miliar.

BACA JUGA : Ini Dia Curhatan Menhub soal Transportasi selama Pandemi

Sejalan dengan hal tersebut, Syafri Yusal, Ketua Bidang Implementasi IPTEK Transportasi Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) menilai, pandemi Covid-19 secara tidak langsung mempercepat proses peralihan perekonomian di Indonesia menuju ke era digital.

Dia mengatakan, digitalisasi pembayaran secara bertahap mulai menggeser peran pembayaran konvensional. Dengan hal ini, transaksi perdagangan dapat dilakukan tanpa harus bertatap muka, sehingga lebih aman dan nyaman khususnya di masa pandemi seperti sekarang ini.

Syafri menilai bahwa karakter generasi muda yang suka mencoba hal baru menjadi salah satu pintu masuk promosi penggunaan mata uang digital atau e-money. 

“Indonesia memiliki populasi produktif yang sangat besar. [Juga] memiliki generasi muda yang suka mencoba hal baru yang lebih baik, aman, cepat, dan mudah,” jelasnya.

BACA JUGA : Gerakkan Roda Ekonomi dan Rajut Keberagaman 

Dengan memanfaatkan peluang e-commerce serta transaksi digital tersebut, diharapkan sektor usaha transportasi dan logistik dapat mulai pulih pada 2021.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia