Advertisement
Apakah Varian Baru Covid-19 Sudah Masuk Indonesia? Ini Penjelasan Menkes
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin / Youtube Sekretariat Presiden
Advertisement
Harianjogja.com, JAKARTA — Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan varian baru Covid-19 atau yang biasa disebut Supercovid belum teridentifikasi di Indonesia.
Alasannya, Satuan Tugas Penanganan Covid-19 masih belum disiplin dalam melakukan genome sequencing untuk meneliti seluruh rangkaian DNA Covid-19 yang ada di Tanah Air.
Advertisement
“Kalau di Indonesia saya bilang secara konservatif belum teridentifikasi karena Indonesia belum rutin melakukan genome sequencing. Jadi orang yang sakit diambil sampelnya dilakukan genome sequencing, dia mutasi ke berapa, kita belum disiplin,” kata Budi Gunadi dalam perbicaraannya dengan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno seperti dikutip dari akun @sandiuno, Minggu (3/1/2021).
Kendati demikian, dia memastikan, mutasi Covid-19 dapat dideteksi keberadaannya melalui swab antigen maupun PCR. Di sisi lain, mutasi itu juga dinilai relatif tidak mematikan ketimbang Covid-19 yang pertama.
BACA JUGA
“Pertama, ini lebih cepat menular, nomor dua [mutasi Covid-19] tidak lebih mematikan,” kata dia.
Sebelumnya, Vietnam telah mendeteksi kasus impor pertama dari varian baru virus Corona yang menyebar dengan cepat di seluruh Inggris.
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengatakan varian itu terdeteksi pada seorang wanita berusia 44 tahun yang kembali ke Vietnam dari Inggris, yang dikarantina pada saat kedatangan dan dipastikan positif terkena virus tersebut pada 24 Desember 2020.
"Para peneliti menjalankan pengurutan gen pada sampel pasien dan menemukan strain tersebut adalah varian yang dikenal sebagai VOC 202012/01," ungkap keterangan resmi Kementerian Kesehatan, yang dikutip dari Channel News Asia, Sabtu (2/1/2021).
Varian tersebut termasuk mutasi genetik yang, secara teori, dapat menyebabkan virus menyebar lebih mudah di antara manusia. Negara-negara di seluruh dunia telah memutuskan tautan perjalanan ke Inggris untuk menghentikan penyebaran varian baru, yang menurut para ilmuwan 40 persen hingga 70 persen lebih menulur daripada virus asli.
View this post on Instagram
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Ledakan Petasan di Pamekasan Bongkar Produksi Berdaya Ledak Tinggi
- China Desak Penghentian Konflik Timur Tengah Saat Idulfitri
- Konflik Gas Iran-Qatar Picu Lonjakan Harga, Trump Berubah Arah
- Di Momen Lebaran Vladimir Putin Soroti Peran Muslim Rusia
- Idulfitri Jadi Kesempatan Baik Saling Hargai Perbedaan
Advertisement
47 Tahun BBPPMT Yogyakarta, Membangun Transmigrasi Masa Kini
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- Menkeu Purbaya Prediksi Ekonomi Kuartal I Tembus 5,7 Persen
- Konflik Gas Iran-Qatar Picu Lonjakan Harga, Trump Berubah Arah
- Jejak Sultan HB II Hidup di Gedung Baru Pagerotan Wonosobo
- Israel Larang Salat Idulfitri di Al-Aqsa Akibat Konflik Iran
- Pelatih Timnas John Herdman Pertahankan Kiper PSIM
- Permainan Sederhana Bikin Lebaran Anak Lebih Seru Tanpa Gadget
- Skuad Timnas Indonesia Dipangkas Tajam Jelang FIFA Series
Advertisement
Advertisement








