Aktivitas 3 Gunung Berapi Meningkat Bersamaan, Ini Penjelasan PVMBG

Foto ilustrasi Gunung Merapi. - Antara
01 Desember 2020 10:27 WIB Newswire News Share :

Harianjogja.com, JOGJA-- Tiga gunung berapi di Indonesia meletus dalam tempo waktu yang berdekatan. Mulai dari Gunung Merapi di DIY-Jawa Tengah, Gunung Semeru di Jawa Timur, kemudian Gunung Lewotolok di Nusa Tenggara Timur.

Sejumlah orang mengaitkan letusan ketiga gunung tersebut berkaitan satu sama lainnya. Lalu bagaimana menurut Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG)?

Kepala Subbidang Mitigasi Gunung Api Wilayah Barat PVMBG Nia Haerani mengatakan tidak ada hubungannya antara letusan Merapi, Semeru dan Gunung Lewotolok tersebut.

BACA JUGA : Ini Update Aktivitas Gunung Merapi Terbaru

"Ketiga gunung tersebut erupsi karena faktor internal gunung api. Masing-masing gunung punya sistem sendiri, tidak berhubungan satu dengan yang lainnya," kata Nia Haerani dikutip Suara.com-Jaringan Harianjogja.com.

Sebelumnya, ketiga gunung berapi aktif di Indonesia tersebut meletus dengan selisih waktu yang berdekatan. Dimulai dari barat, yakni Gunung Merapi di Jawa Tengah dan DIY yang kini statusnya pun menjadi Siaga. Beberapa hari kemudian giliran Gunung Semeru yang meletus melontarkan lava sejauh satu kilometer.

Status Gunung Semeru sekarang Siaga. Masyarakat di sekitar gunung juga diminta hati-hati. Bahkan BPBD juga sudah menutup jalur pendakian ke Semeru.

BACA JUGA : HARIAN JOGJA HARI INI: Merapi Dipantau dengan Alat Terbaik

Selang sehari bergeser ke timur. Gunung Lewotolok di Nusa Tenggara Timur meletus menyemburkan material vulkanik. Masyarakat di sekitar Lewotolok juga diminta waspada oleh BPBD setempat.

Gunung Semeru yang berada di perbatasan Kabupaten Lumajang dan Malang, Jawa Timur, kembali memuntahkan guguran dan lava pijar yang teramati sebanyak 13 kali dengan jarak luncur kurang lebih 500 hingga 1.000 meter dari ujung lidah lava ke arah Besuk Kobokan.

"Memang benar data yang kami terima terjadi kembali guguran lava pijar pada Sabtu (28/11) dengan jarak lebih panjang dibandingkan sebelumnya," kata Kabid Pencegahan Kesiapsiagaan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lumajang Wawan Hadi Siswoyo dikutip Antara.

Terjadi guguran lava pijar sebanyak empat kali dengan jarak luncur sejauh 200-300 meter ke arah Besuk Kobokan pada periode pengamatan 27 November 2020 pukul 00.00 hingga 24.00 WIB.

BACA JUGA : Gunung Semeru Ditutup karena Pandemi, Macan Kumbang

Berdasarkan periode pengamatan 28 November 2020 pukul 00.00 hingga 24.00 WIB, gunung yang memiliki ketinggian 3.676 meter dari permukaan laut (mdpl) tersebut mengalami gempa letusan sebanyak tiga kali dengan ketinggian asap kurang lebih 100 meter dengan warna asap putih tebal condong ke arah barat daya. "Secara visual juga teramati guguran dan lava pijar sebanyak 13 kali dengan jarak luncur sekitar 500-1000 m dari ujung lidah lava ke arah Besuk Kobokan [ujung lidah lava kurang lebih 500 meter dari puncak]," tuturnya.

Ia menjelaskan jarak luncuran guguran lava pijar jauh dari permukiman warga, namun pihak BPBD Lumajang tetap mengimbau masyarakat yang berada di lereng Gunung Semeru untuk waspada dan tetap tenang. "Untuk aktivitas kegempaan tercatat letusan sebanyak tujuh kali dengan amplitudo 15-17 mm, guguran sebanyak 41 kali dengan amplitudo 2-12 mm, hembusan sebanyak 10 kali dengan amplitudo 2-7 mm, dan gempa tektonik jauh sebanyak dua kali," katanya.

BACA JUGA : Kangen Ranu Kumbolo? Gunung Semeru Telah Dibuka 

Wawan mengimbau masyarakat tidak melakukan aktivitas di dalam radius empat kilometer di sektor lereng selatan-tenggara kawah aktif yang merupakan wilayah bukaan kawah aktif Gunung Semeru (Jongring Seloko) sebagai alur luncuran awan panas.

Sumber : Suara.com, Antara.