Pemilik Homestay Sering Dibuat Pintar oleh Tamunya

Peserta mendapatkan pelatihan menata kamar pada kegiatan Bimbingan Teknis Program CHSE (Clean, Health, Safety dan Environment Sustainability), Senin (23/11/2020). - Harian Jogja/Nina Atmasari
24 November 2020 02:17 WIB Nina Atmasari News Share :

Harianjogja.com, MAGELANG- Pemilik homestay perlu memerhatikan masukan dari tamunya, sebab seringkali tamu bisa memintarkannya. Tak hanya standar pelayanan, tamu sering memberikan masukan tentang hal-hal kecil yang memuaskan mereka saat menggunakan layanan homestay.

Hal itu diungkapkan Ketua Paguyuban Kampung Homestay Borobudur, Muchlis, dalam kegiatan Bimbingan Teknis Program CHSE (Clean, Health, SAfety dan Environment Sustainability di Grand Artos Hotel & Convention Magelang, Senin (23/11/2020).

Ia menyebutkan standar pelayanan homestay adalah kamar tamu, kamar mandi, dapur dan makan minum. Namun, di luar itu ada banyak layanan yang bisa memuaskan tamu. "Seringkali, pemilik homestay itu dipintarkan oleh tamu, jadi anggaplah tamu itu saudara yang datang, maka layanilah dengan baik," katanya.

Ia mencontohkan salah satu kejadian adalah ketika ada tamu yang datang membawa mobil, mereka memberi masukan agar ada kran air di depan homestay untuk sekadar mencuci mobil. Pemilik homestay jadi tahu bahwa mereka perlu memberikan fasilitas tersebut. Selanjutnya, saat tamu mencuci mobil dengan ember, maka pemilik homestay jadi perlu menyediakan slang air. Penambahan sejumlah fasilitas itu jarang ada di materi pelatihan, namun diketahui dari tamu yang datang.

Saat ini, Kampung Homestay Borobudur memiliki 160 kamar di kawasan Borobudur, dengan jumlah yang terus bertambah. Setiap pemilik homestay harus terus meningkatkan fasilitas dan layanannya. Jika tamu yang menginginkan fasilitas, menurutnya akan lebih mengena pada pemilik homestay. Misalnya adalah ketika pemilik homestay memilih bertahan dengan tidak memberikan fasilitas kamar mandi di dalam kamar.

"Saat ramai, dan tidak ada pilihan lain, tamu akan terpaksa menerima kamar tersebut. Tapi saat sepi, tamu akan tanya "Ada kamar yang lain tidak?" Tentu pengurus akan tidak enak untuk berbohong. Pemilik homestay jadi berpikir untuk menambah fasilitas itu. Nah, saat itulah pemilik jadi dipintarkan oleh tamunya," jelas Muchlis.

Menurutnya, mencari tamu itu penting, namun akan lebih penting jika untuk menjaga tamu yang sudah datang. Mereka akan menyampaikan dan merekomendasikan pada teman-teman mereka. Ini akan menjadi marketing gratis, yakni dari tamu yang sudah merasakan sendiri pelayanan di sebuah homestay.

Selain meningkatkan fasilitas dan pelayanan, Muchlis menambahkan pemilik homestay juga perlu memiliki jaringan koordinasi dengan lingkungannya, yakni destinasi, atraksi dan UMKM. "Saya tidak punya VW, tetapi saya bisa menjual 100 VW. Ada banyak wahana lain di kawasan Borobudur seperti andong, ontel, bahkan odong-odong atau kereta mini. Hubungan baik dengan mereka akan mempermudah kita saat melayani tamu, bahkan saat tidak ada budget atau budget sangat terbatas," jelasnya.

Kegiatan pelatihan tersebut digelar oleh Dinas Pariwisata Kepemudaan dan Olaraga Kabupaten Magelang, diikuti oleh 45 orang pengelola homestay di Kabupaten Magelang. Pada kesempatan yang sama juga dilakukan pelatihan untuk 45 pengelola desa wisata di Kabupaten Magelang. Sebelum kegiatan, semua peserta wajib mengikuti rapid test dan bagi peserta yang reaktif maka dibatalkan keikutsertaannya. Kegiatan akan berlangsung selama tiga hari mulai Senin sampai Rabu (23-25/11/2020).

Praktisi pariwisata Magelang Raya, Priyo Wahyu Setyanto saat mengisi pelatihan untuk pengelola desa wisata menyatakan pengelola desa wisata harus sadar wisata. "Maksudnya, partisipasi dan dukungan masyarakat dalam mendorong terwujudnya iklim yang kondusif bagi tumbuh kembangnya kegiatan kepariwisataan," katanya.

Bisnis pariwisata, lanjut Priyo, di antaranya memberikan pelayanan serta meningkatkan kebersihan, dan bagaimana cara memberikan pelayanan prima kepada wisatawan, agar mereka puas, senang dan mengesankan bagi wisatawan untuk bisa datang kembali.

Masyarakat sebagai tuan rumah punya peran dan partisipasi masyarakat dalam menciptakan iklim yang kondusif, yang mampu mendorong tumbuh kembangnya kepariwisataan. "Untuk itu, pelayanan pariwisata tidak hanya sekedar memuaskan, tetapi melakukan pelayanan yang baik, dan bisa mengesankan bagi wisatawan," katanya.

Selain pelayanan, juga menjaga kelestarian dan keindahan alam, serta budaya ramah dan santun, karena hal tersebut merupakan aset pariwisata.

Bintek program CHSE ini dibuka PLt Kepala  Dinas Pariwisata Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Magelang, Iwan Sutiarso. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan upaya pencegahan dan pengendalian Covid - 19 bagi masyarakat di tempat dan fasilitas umum, dalam rangka mencegah terjadinya klaster baru selama masa pandemi.

Menurut Iwan Sutiarso, ruang lingkup protokol kesehatan ini meliputi upaya pencegahan dan pengendalian Covid - 19 di tempat dan fasilitas umum, dengan memperhatikan aspek perlindungan kesehatan indivudu, dan titik-titk kritis dalam perlindungan kesehatan masyarakat.

“Kunci kebersihan pariwisata, agar dapat segera rebound adalah pelaksanaan protokol kesehatan berbasis CHSE, dengan baik dan disiplin di tiap destinasi tujuan, dan pelaku sektor pariwisata,” katanya.