Gempa Megathrust Ancam Indonesia, BMKG Tegaskan Warga Tak Perlu Panik

Monumen Aceh, kepanikan masyarakat akibat informasi mengenai potensi gempa megathrust sering berulang setelah tsunami melanda Aceh tahun 2004 - Jibi/Sukirno
27 September 2020 15:17 WIB Newswire News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Informasi tentang potensi megathrust beredar di media massa. Masyarakat diimbau untuk tidak panik dan tidak mudah kaget hanya karena judul berita tersebut.

Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Daryono mengimbau masyarakat terus mengupdate informasi dan mengakhiri kepanikan terkait informasi adanya potensi gempa megathrust.

Baca juga: Ditangkap di Dlingo, 2 Terduga Pelaku Klithih Dievakuasi ke Playen

"Kami berharap masyarakat terus meningkatkan literasi, selanjutnya tidak mudah kagetan setiap ada informasi potensi bencana," kata Daryono di Jakarta, Minggu (27/9/2020).

Daryono berpendapat kecemasan dan kepanikan publik mengenai potensi gempa megathrust kemungkinan karena adanya kesalahpahaman.

Informasi mengenai potensi gempa berdasarkan pemodelan yang dibuat para ahli sebenarnya ditujukan sebagai acuan mitigasi. Tetapi, lanjutnya, sebagian warga kurang tepat dalam memahami, menganggapnya sebagai potensi bencana yang akan terjadi dalam waktu dekat.

Baca juga: Pendaftar Kartu Prakerja Mencapai 30 Juta Orang, Tapi yang Dapat 5,5 Juta Saja

"Ini masalah sains komunikasi yang masih terus saja terjadi, karena hingga saat ini masih adagap atau jurang pemisah antara kalangan ahli dengan konsep ilmiahnya dan masyarakat yang memiliki latar belakang dan tingkat pengetahuan sangat beragam," kata Daryono.

Kasus semacam ini, ujar Daryono, tampaknya masih akan terus berulang. Kondisi semacam ini harus diperbaiki dan diakhiri.

Daryono mengemukakan kepanikan masyarakat akibat informasi mengenai potensi gempa megathrust sering berulang setelah tsunami melanda Aceh tahun 2004.

Kegaduhan sering muncul setiap kali para ahli menyampaikan pandangan mengenai potensi gempa dan tsunami.

Media pun, ujarnya, tidak utuh dalam menyajikannya sehingga menimbulkan salah persepsi di kalangan masyarakat. 

"Masyarakat juga jangan mudah terpancing dengan judul berita dari media yang dengan bombastis memberitakan potensi bencana," kata Daryono.

Ia menjelaskan bahwa zona megathrust sebenarnya sekadar istilah untuk menyebutkan sumber gempa tumbukan lempeng di kedalaman dangkal. 

"Seluruh aktivitas gempa yang bersumber di zona megathrust disebut sebagai gempa megathrust dan gempa megathrust tidak selalu berkekuatan besar. "

Hingga saat ini belum ada teknologi yang bisa digunakan untuk memprediksi kapan dan di mana gempa akan terjadi dan seberapa besar kekuatannya.

Sumber : Antara