Produksi Tembakau Diprediksi Susut di Akhir 2020

Ilustrasi-Petani membawa daun tembakau saat panen di persawahan Dusun Welar, Toroh, Grobogan, Jawa Tengah, Senin (7/9/2020). - Antara/Yusuf Nugroho
18 September 2020 07:27 WIB Andi M. Arief News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Produksi tembakau pada akhir 2020 diramalkan lebih rendah  hingga dua digit dari realisasi produksi tahun lalu. Selain itu, serapan tembakau oleh industri pengguna belum kunjung meningkat.

Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) memproyeksikan produksi tembakau pada akhir tahun ini akan mencapai sekitar 185.000 ton atau lebih rendah sekitar 10 persen secara tahunan.

Penurunan tersebut dinilai dipengaruhi oleh curah hujan dan angin yang tinggi saat tembakau membutuhkan terik matahari pada ujung masa tanam.

BACA JUGA : Sering Mendung, Petani Tembakau Sleman Tetap Optimistis

"Di Jawa Tengah sebagian produksinya bagus tahun sekarang. Kalau di Jawa TImur ada penurunan, di Bali turun, dan di Jawa Barat tidak berubah. Kalau kalkulasi secara nasional agak turun [akhir 2020]," kata Ketua Umum APTI Agus Pramuji kepada Bisnis, Kamis (17/9/2020).

Agus berujar kondisi tersebut diperburuk dengan melandainya laju serapan oleh pabrikan besar karena pandemi Covid-19. Agus berujar ketatnya protokol kesehatan di kebun dan di pabrikan membuat produktivitas menurun.

Pada Januari-Agustus 2020, serapan tembakau oleh pabrikan besar baru mencapai 40 persen dari total panen. Agus menilai serapan tembakau oleh pabrikan dapat lebih tinggi lagi lantaran kebutuhan tembakau oleh pabrikan mencapai sekitar 300.000 ton per tahun.

Menurutnya, penurunan produksi di pabrikan rokok tetap akan membuat seluruh produksi tembakau nasional dapat diserap pabrikan. "Secara logika harusnya [hasil produksi] petani tembakau terserap dengan bagus dan harga layak."

Seperti diketahui, pasokan tembakau lokal masih belum dapat memenuhi kebutuhan industri rokok di dalam negeri. Penyebabnya, ada beberapa varietas tembakau yang tidak diproduksi di dalam negeri dan berkurangnya pasokan salah satu varietas. Adapun, varietas yang mendominasi impor tembakau pada umumnya adalah Virginia, White Burley, dan Oriental.

BACA JUGA : Kemarau, Petani di Sleman Mulai Tanam Tembakau 

Impor tembakau jenis White Burley dan Oriental memang diperlukan mengingat petani tembakau lokal tidak menanam varietas tersebut.

Impor tembakau Virginia dilakukan karena pasokan tembakau Virginia oleh sentra produksi tembakau tersebut di Nusa Tenggara Barat (NTB) memang berkurang.

Pengurangan pasokan disebabkan naiknya biaya pengeringan akibat penghentian subsidi minyak tanah oleh pemerintah. Adapun, pasokan tempurung kelapa sawit maupun kemiri sebagai substitusi minyak tanah sulit ditemukan di NTB.

Alhasil, luas perkebunan tembakau di NTB berkurang dari 52.000 hektare menjadi 23.000 hektare pada akhir 2018.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia