Indeks Manufaktur Indonesia Melesat, Ekonomi Segera Membaik

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita (kiri kedua) didampingi Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati (ketiga kiri) dan rombongan mengunjungi Unit DHDT Refinery Unit (RU) II Dumai di Dumai, Riau. Kilang ini mampu mengubah minyak sawit menjadi solar nabati 100 persen.
01 September 2020 15:37 WIB Anggara Pernando News Share :

Harianjogja.com, JAKARTAPara manajer pengadaan di Indonesia meyakini ekonomi akan pulih beberapa waktu mendatang. Keyakinan ini ditandai dengan melonjaknya Purchasing Managers’ Index™ (PMI™) Manufaktur Indonesia dari IHS Markit ke level ekspansi.

Pada Agustus 2020, sebanyak 400 manajer pembelian yang disurvei oleh IHS Markit menempatkan keyakinan untuk meningkatkan bisnisnya.

Dampaknya PMI Indonesia naik dari 46,9 pada bulan Juli menjadi 50,8 pada Agustus 2020.

Perusahaan manufaktur Indonesia melaporkan peningkatan yang solid baik dalam produksi maupun pesanan baru pada bulan Agustus 2020,” ulas Bernard Aw, Kepala Ekonom IHS Markit dalam publikasinya, Selasa (1/9/2020).

Dalam survei ini, IHS Markit menetapkan 50 sebagai angka netral. Nilai di atas 50 berarti terjadi ekspansi, sedangkan di bawah 50 terjadi perlambatan.

Capaian PMI pada Agustus ini sekaligus perbaikan pertama kali dalam kondisi bisnis di Tanah Air sejak pandemi mulai menekan bisnis pada Februari 2020.

Kepercayaan bisnis juga naik ke level tertinggi sejak Mei 2019 karena perusahaan menyesuaikan diri dengan pelonggaran bertahap pada pembatasan terkait penyakit virus korona 2019 (Covid-19),” ulasnya lebih lanjut.

Meski begitu, survei juga menangkap di tengah meningkatnya ekspasi, perusahaan masih menerapkan model bisnis bertahan. Ini ditunjukkan dengan terus dilakukannya pengurangan tenaga kerja untuk meningkatkan efisiensi serta dilakukan pemangkasan biaya.

Data PMI rata-rata (48,8) sejauh ini [per Agustus 2020] untuk triwulan ketiga mengisyaratkan gambaran manufaktur yang jauh lebih baik jika dibandingkan dengan triwulan kedua,” katanya.

Para manajer pengadaan yang menjadi objek survei menyebutkan terjadi pertumbuhan yang kuat dalam produksi. Demikian juga dengan pesanan untuk beberapa waktu ke depan sepanjang Agustus seiring pelonggaran pembatasan sosial berskala besar (PSBB).

Output dan permintaan baru [pada Agustus 2020] naik pada kisaran tercepat. Perusahaan pada umumnya menyatakan bahwa output dan pertumbuhan penjualan yang kuat berasal dari pembukaan kembali ekonomi secara bertahap,” lebih lanjut di tulis dalam laporan.

Selanjutnya terlihat bahwa pendorong pemulihan manufaktur berasal dari peningkatan pasar dalam negeri. Pasar ekspor masih tercatat mengalami penurunan pada Agustus 2020.

Pemulihan sendiri belum sepenuhnya menggerakkan ekonomi. Para pengusaha manufaktur terlebih dahulu melakukan penghabisan stok bahan baku yang ada sebelum melakukan penyediaan lebih lanjut. Demikian juga dengan waktu pengiriman barang, efisiensi orang yang dilakukan membuat waktu pengiriman lebih lama dari biasanya.

Industri disebutkan juga ragu untuk menaikkan harga jual di tengah tekanan inflasi dan nilai tukar yang masih berfluktuasi. Meski begitu keadaan diyakini segera pulih.

Indeks Output Masa Depan mencapai level tertinggi 15 bulan. Perusahaan tetap optimistis pandemi akan segera berakhir, dan kondisi pasar akan kembali normal,” ulasnya.

Ade Sudrajat, Ketua Kompartemen Industri Tekstil dan Sepatu Kadin Indonesia menyebutkan meski industri perlahan pulih masih dibutuhkan penguatan ekonomi terutama bagi masyarakat menengah terbawah. Ini untuk menjaga daya beli sehingga industri dapat berputar kembali.

“Yang dibutuhkan industri adalah penguatan daya beli masyarakat bawah yang tidak [lagi] punya pekerjaan melalui bantuan lansung tunai (BLT). Ini sangat urgent sekali,” katanya.

Ade menyebutkan saat ini penggerak industri masih konsumsi dalam negeri. Dengan berputarnya ekonomi maka industri akan berputar dan lapangan kerja tercipta.

“Jika kapasitas industri meningkat seiring permintaan maka dengan mudah investasi akan datang dengan sendirinya,” katanya.

Ade juga berharap pemerintah dan DPR segera menyelesaikan omnibus law Rancangan Undang-Undang Cipta Kerja. Aturan ini akan meningkatkan daya tarik bisnis di tanah air karena beragam penghambat yang ada selama ini akan terselesaikan.

Ia menyebutkan dukungan lain dari pemerintah sudah memadai.

“Kecuali subsidi listrik bagi Industri yang belum,” katanya.

Silmy Karim, Direktur Utama PT Krakatau Steel (persero) Tbk. (KRAS) menyebutkan dibutuhkan upaya mendorong permintaan pasar lebih baik. Salah satu cara paling memungkinkan dilakukan adalah mempercepat proyek-proyek pemerintah. Termasuk di bidang infrastruktur yang menggunakan baja produksi KRAS. 

"
"Project pemerintah mesti digenjot, sehingga ekonomi berputar dan ada demand," kata Silmy."

 Ia juga mengharapkan agar kebijakan impor dilakukan semakin ketat. Dengan pembatasan impor, maka produk dari manufaktur dalam negeri lebih menggeliat.

Direktur The Indonesian Olefin & Plastic Industry Association (Inaplas) Edi Rivai menyebutkan perbaikan kinerja manufaktur ini tidak lepas dari upaya pemerintah melakukan berbagai terobosan memulihkan ekonomi.

“Kami harapkan bagaimana pemerintah dapat terus memacu daya beli masyarakat serta [memberikan ] insentif bagi industri  seperti diskon biaya listrik diperluas, hingga mengevaluasi kembali pelarangan penggunaan kantong belanja plastik oleh kepala daerah,” katanya.

Edi menyebutkan dukungan dari pemerintah juga dibutuhkan dengan meningkatkan kewajiban tingkat komponen dalam negeri (TKDN). Tidak hanya bagi instansi pemerintah namun juga perusahaan swasta. Serta memperkuat penerapan standar nasional indonesia dan jaminan produk halal.

“Kami harapkan [pemerintah juga] terus mendorong iklim investasi industri petrokimia nasional bertujuan mensubstitusi barang impor,” katanya.

Achmad Sigit Dwiwahjono, Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian menyebutkan pemulihan PMI Indonesia tidak lepas dari upaya Kementerian Perindustrian memperjuangkan dalam rapat terbatas bersama Presdien Joko Widodo dilakukan penurunan harga gas dan tarif listrik yang merupakan input signifikan bagi industri tertentu.

Ke depan tentunya di samping tetap terus berupaya menaikkan utilisasi industri yg saat ini masih 54 persen, tentunya juga akan dibarengi pengurangan impor produk-produk melalui investasi industri substitusi dan meningkatkan penggunaan produk dalam negeri," katanya.

Sigit berharap dengan upaya ini pada akhir tahun 2020 ma industri di Tanah Air dapat mencapai utilisasi industri 70 persen.

IHS Markit Asean Agustus 2020

Kinerja manufaktur negara di Asia Tenggara per Agustus 2020./Dok. IHS MArkit

PMI ASIA TENGGARA

Sementara itu, IHS Markit mencatat untuk Asia Tenggara (Asean) terjadi pemulihan keyakinan para manajer pembelian namun masih di bawah angka netral 50 untuk enam bulan ke depan.

Lewis Cooper, Ekonom IHS Markit mencatat dalam data Purchasing Managers’ Index (PMI™) IHS Markit Agustus 2020, secara keseluhan PMI kawasan Asia Tenggara naik dari 46,5 pada bulan Juli 2020 menjadi 49,0.

Pemulihan ini seiring semakin stabilnya produksi pabrik dan membaiknya permintaan produksi baru sejak periode konstrarksi dimulai Maret 2020 akibat pandemi Covid-19.

Masih belum pulihnya manufaktur di Asia Tenggara ini dikarenakan masih rendahnya permintaan ekspor.

Dari tujuh negara di Asia Tenggara yang disurvei, IHS Markit mencatat pemulihan kinerja manufaktur belum merata. Ekspansi manufaktur tertinggi terjadi di Myanmar menjadi 53,2. Ini adalah persepsi tertinggi dalam 15 bulan  terakhir. Selanjutnya adalah Indonesia dengan PMI 50,8.

Melewati 50 dapat diartikan wilayah ini terjadi ekspansi marginal.

Sedangkan negara Asia Tenggara lainnya mengalami pemburukan kinerja manufaktur. Malaysia Setelah tercatat di ambang netral 50,0 pada Juli 2020 merosot menjadi 49,3 pada Agustus. Penurunan indeks ini menunjukkan terjadi kontraksi ringan manufaktur negeri Jiran itu.

Sementara itu, PMI Thailand berada pada 49,7. Sedangkan Filipina dan Vietnam mencatat penurunan yang lebih tajam selama Agustus. Kedua negara mencatat PMI pada 47,3 dan 45,7.

Sedangkan Singapura berada pada posisi terbawah di peringkat PMI ASEAN. Walau perlahan pulih dari kinerja Juli, namun ekonomi Singapura masih di angka 43,0. Terendah dari tujuh negara yang disurvei.

Akhirnya, sentimen [di Asia Tenggara] mengenai prospek output 12 bulan semakin membaik selama Agustus. Tingkat optimisme merupakan yang tertinggi sejak Januari, tetapi tergolong masih lemah dalam konteks rata-rata jangka panjang,” katanya.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia