Pengamat Sebut Gibran-Teguh Bakal Lebih Mudah Kalahkan Bajo, Ini Alasannya..

Gibran Rakabuming Raka - Antara/Aprilio Akbar
22 Agustus 2020 14:47 WIB Mariyana Ricky Prihatina Dewi News Share :

Harianjogja.com, SOLO -- Pasangan calon independen Bagyo Wahyono-FX Supardjo atau Bajo berpeluang head to head melawan pasangan Gibran Rakabuming Raka-Teguh Prakosa atau Gibran-Teguh di Pilkada Solo 2020.

Kemunculan Bajo menggugurkan prediksi sebelumnya bahwa Gibran bakal melawan kotak kosong. Kendati begitu, pengamat administrasi publik dan pemerintahan daerah Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Didik G Suharto, menilai Pilkada kali ini terasa seperti menu racikan elite penguasa.

BACA JUGA : Gibran Ungkap Tokoh Idolanya, Megawati Sampai Ganjar 

Dia menyebut pasangan Gibran-Teguh lebih mudah mengalahkan pasangan Bajo daripada jika melawan kotak kosong. Apabila melawan kotak kosong, Gibran harus mampu mendulang suara lebih dari 50 persen dari suara sah.

“Terlebih apabila pasangan Bajo di tengah kontestasi ternyata gembos, entah disengaja atau tidak. Pilkada seperti ini saya rasa tidak akan dinamis,” kata dia dihubungi JIBI/Solopos, Jumat (21/8/2020).

Sepanjang dua pasangan calon, yakni Bajo dan Gibran-Teguh tidak mampu merepresentasikan suara publik, publik tidak akan antusias mengikuti Pilkada Solo.

Di sisi lain, apabila Gibran melawan kotak kosong dan kotak kosong mendapatkan suara, hal itu akan sangat memalukan bagi Gibran sendiri dan partai pengusung maupun pendukungnya.

Bukan Lagi Pesta Demokrasi

Karena itulah, pasangan Bajo lebih mudah dikalahkan oleh Gibran-Teguh di Pilkada Solo ketimbang kotak kosong. Didik menyebut realitas di banyak tempat, Pilkada bukan lagi menjadi pesta demokrasi rakyat.

BACA JUGA : Gibran Ungkap Tokoh Idolanya, Megawati Sampai Ganjar 

Dari awal proses pencalonan, para elite lah yang berkuasa. Rakyat suka tidak suka disodori menu yang diolah para elite, yang ironisnya sering kali abai dengan harapan rakyat bawah.

“Yang saya khawatirkan, Pilkada yang saat ini berlangsung atau Pilkada sebelumnya, yang kadang terjadi adalah Pilkada yang didesain sejak awal siapa yang bertarung. Kalau ini terjadi, demokrasi di negara kita ini semu, sudah didesain oleh para elite. Sebenarnya ini sangat menyakiti rakyat,” kata dia.

Terlebih, apabila proses Pilkada berlangsung terdapat pertanyaan-pertanyaan yang tak bisa dijawab. Maka hal tersebut secara tidak langsung mencederai Pilkada itu sendiri.

BACA JUGA : Punya Penantang Serius di Pilkada Solo, Gibran Lontarkan

Seperti diberitakan, Bajo berpeluang menjadi lawan Gibran-Teguh di Pilkada Solo setelah dinyatakan lolos verifikasi faktual oleh KPU Soo. Bajo memenuhi syarat minimal dukungan sebanyak 35.870 suara atau 8,5 persen dari daftar pemilih tetap (DPT) Pemilu 2019.

Sumber : JIBI/Solopos