Pengembangan Food Estate Picu Antusiasme Petani Kapuas

Rombongan Presiden Joko Widodo mengunjungi Kalimantan Selatan, Kamis (9/7/2020). - Istimewa/Kementerian Pertanian
10 Juli 2020 11:27 WIB Media Digital News Share :

Harianjogja.com, KAPUAS—Pemerintah mencanangkan pengembangan program food estate atau lumbung pangan seluas 165.000 hektare (ha) di lahan rawa Kalimantan Selatan. Program ini juga menjadi salah satu upaya pemerintah dalam mengantisipasi Indonesia dari ancaman krisis pangan seperti yang diperingatkan Badan Pangan dan Pertanian Dunia (FAO).

Desa Bentuk Jaya, Kecamatan Dadahup, Kabupaten Kapuas menjadi salah satu titik lahan yang terpilih untuk digunakan dalam pengembangan program food estate.

“Dengan rencana pengembangan food estate, petani di sini menjadi lebih semangat dalam bertani. Kami 100 persen sangat antusias dengan rencana pemerintah ini,” ujar Ketua Kelompok Tani Karya Mukti Desa Bentuk Jaya, Caswawi Ifrayogi, 56, saat diwawancarai di Kabupaten Kapuas, Kamis (9/7/2020).

Caswawi mengatakan bantuan pemerintah melalui Kementerian Pertanian (Kementan) sebenarnya sangat banyak dalam berbagai program. Namun kondisi alam menjadi kendala utama untuk petani berproduksi.

"Contohnya untuk musim tanam April-September 2020 menjadi mundur hingga saat ini karna mulai dari April hingga minggu lalu lahan banjir," terangnya.

Menurutnya, lahan pertanian di desa tersebut sangat subur dan petani fokus berproduksi untuk menanam komoditas tanaman pangan dan hortikultura seperti padi dan cabe. Namun karena kondisi alam kini minat petani berkurang untuk bertani.

"Petani di sini berharap program food estate ini menjadi penyemangat kami untuk mengembalikan minat petani lain kesawah. Semoga program pemerintah ini sukses ya,"tuturnya.

Pengembangan food estate yang sedang digarap oleh pemerintah ini merupakan food estate modern sehingga tidak hanya manual tetapi juga harus dengan skilled labour dengan  tenaga kerja yang terlatih karena bukan hanya menyangkut  produksi tetapi juga sampai ke pascaproduksi.

Pengembangan lahan rawa menjadi lumbung pangan berada di kawasan aluvial pada lahan eks Pengembangan Lahan Gambut (PLG) di Provinsi Kalimantan Tengah. Proyek ini telah menjadi salah satu Program Strategis Nasional (PSN) 2020-2024.

Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo mengatakan optimalisasi lahan rawa ini menjadi salah satu terobosan yang tengah fokus dilakukan untuk meningkatkan atau mengamankan ketersediaan beras dalam negeri sehingga kebutuhan dapat dipenuhi secara mandiri.

"Presiden Jokowi menginstruksikan kepada saya untuk mempersiapkan Provinsi Kalimantan Tengah menjadi lumbung pangan.  Dengan potensi lahan rawa yang kini dapat menjadi lahan pertanian produktif, kita yakin membangun lumbung pangan di Kalimantan Tengah ini," kata Syahrul.

Proyek food estate kawasan aluvial pada lahan eks lahan gambut ini memiliki lahan potensial seluas 165.000 hektare. Pengembangan lahan food estate di Kalteng terdiri dari lahan intensifikasi seluas 85.456 ha dan lahan ekstensifikasi seluas 79.142 ha.

Dimulai pada 2020 dengan pengembangan lahan intensifikasi seluas 30.000 ha sbagai model percontohan food estate modern berbasis korporasi petani.

"Pengembangan ini dilakukan di kabupaten Kapuas seluas 20.000 hektar dan di kabupaten Pulang Pisau seluas 10.000 ha," ucapnya.

Lebih lanjut, Mentan menegaskan pengembangan lahan food estate tersebut bukan membuka kembali lahan eks pengembangan lahan gambut (PLG), tapi mengoptimalkan pemanfaatan lahan exsisting eks PLG dan non eks PLG untuk pangan.

Lahan ini merupakan lahan rawa yg meliputi rawa pasang surut dan lebak dimana lahan tersebut mengandung dominan tanah mineral dibanding tanah gambut. Gambut yg ada umumnya gambut dangkal-sedang (kurang dr 1 m).

"Ini dikerjakan bertahap. Setelah irigasi tersedia, kami akan melakukan pembudidayaan untuk mempersiapkan prasarana, petaninya, bibit-benih, pupuk, dan obat-obatan yang dibutuhkan," tutupnya.