Mengenal Sejarah Jembatan ganefo Peninggalan Soekarno

Penampakan lahan yang diratakan sebagai akses kendaraan berat saat dimulainya pembangunan Jembatan Ganefo di wilayah Katelan, Tangen, Sragen, Rabu (24/6/2020). - Ist
30 Juni 2020 10:27 WIB Moh Khodiq Duhri News Share :

Harianjogja.com, SRAGEN – Jembatan Ganefo di Sragen memiliki sejarah panjang. Jembatan sepanjang lebih dari 40 meter dan lebar empat meter itu melintang di atas Sungai Bengawan Solo.

Jembatan yang selesai dibangun pada 1963 itu berada di jalur antar-kabupaten di Jawa Tengah (Jateng). Jembatan itu merupakan jalur alternatif yang menghubungkan Sragen dengan Kabupaten Grobogan hingga Blora.

Dilihat dari usianya yang sudah mencapai 57 tahun, bisa dibilang Jembatan Ganefo Sragen sudah memasuki usia senja. Meski begitu, jembatan itu masih terlihat kokoh bila dilihat dari kejauah.

Usia tua jembatan itu dapat dirasakan saat pengguna melintasi aspal di permukaan jembatan. Pada saat roda kendaraan bergesekan dengan aspal, pengguna jalan akan merasakan sensasi getaran dari jembatan tua peninggalan era Presiden Soekarno tersebut.

“Bagi warga yang kali pertama melintasi jembatan itu, mungkin akan terasa kaget, merinding atau takut saat merasakan getaran pada jembatan. Namun, bagi kami yang sudah terbiasa melintasi jembatan, ya tidak ada rasa takut sama sekali,” ujar Sutarjo, 50, warga Tangen, kepada JIBI/Solopos, Senin (29/6/2020).

Arsitektur Jembatan Ganefo Sragen cukup unik. Ada beton melengkung yang membentuk setengah lingkaran menghubungkan antar-fondasi. Beton melengkung itu dijadikan pijakan tiang penyangga yang dipakai sebagai dasar jalan.

Dalam catatan Solopos.com, seorang warga Dukuh Kerekan Ngrejeng, RT 008, Desa Klandungan, Ngrampal, Joyo Pawiro, 86, sempat menjadi satu dari 50-an pekerja yang dilibatkan dalam pembangunan Jembatan Ganefo Sragen.

Ia mengatakan material jembatan itu tiba di pinggir Sungai Bengawan Solo pada 1951-1952. Jembatan itu baru selesai dibangun pada 1963. Menurutnya, usia jembatan itu dulunya diperkirakan hanya bisa bertahan selama 30 tahun. Namun, hingga kini, Jembatan Ganefo Sragen masih menjadi akses utama untuk menyeberangi Sungai Bengawan Solo.

Joyo tidak tahu siapa yang memberi nama Ganefo pada jembatan di Sragen itu. Ganefo merupakan kepanjangan dari The Games of The New Emerging Forces. Ganefo merupakan pesta olahraga tingkat internasional sebagai tandingan Olimpiade Olahraga Dunia. Ganefo kali pertama digelar pada 1963 yang diikuti 51 negara di Jakarta.

Ganefo II dilaksanakan pada gagal dilaksanakan karena persoalan politik. Ganefo kemudian menginspirasi munculnya nama jembatan yang dibangun pada era Presiden Soekarno tersebut.

Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Sragen mulai membangun Jembatan Ganefo pada tahun ini. Proses pembangunan Jembatan Ganefo dimulai sejak tiga pekan terakhir.

Sejumlah kendaraan berat sudah dikerahkan untuk menggali tanah guna pembuatan fondasi tiang jembatan penyeberangan Sungai Bengawan Solo tersebut. Jembatan Ganefo lama nantinya tetap dipertahankan. Sebagai ganti, DPUPR membangun Jembatan Ganefo baru di sisi timur jembatan lama.

Kepala DPUPR Sragen, Marija, memastikan anggaran pembangunan Jembatan Ganefo tidak terdampak Covid-19 sehingga tidak ada pemangkasan dana. Dana senilai Rp33 miliar dari APBD Provinsi Jateng digunakan untuk membangun Jembatan Ganefo sepanjang 105 meter dan lebar 7 meter.

“Jembatan Ganefo itu dibangun pada 1960-an. Hampir semua jembatan yang dibangun pada masa itu dibuat dengan desain pilar melengkung. Usia jembatan tergolong tua sehingga sudah saatnya dibangun jembatan baru,” papar Marija.

Sumber : JIBI/Solopos