Ini yang Perlu Diketahui tentang Virus Corona

Ilusrasi-Petugas medis menujukkan alat rapid test saat rapid test massal di pasar tradisional di Makassar, Sulawesi Selatan. - ANTARA/Darwin Fatir.\\n\\n
14 Juni 2020 16:17 WIB Gloria Fransisca Katharina Lawi News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Setiap hari dalam dua pekan terakhir, sekitar 900 orang meninggal akibat Covid-19 di Amerika Serikat, kasus yang muncul rata-rata 20.000 per hari.

Dikutip dari VoA, Minggu (14/6/2020), sejak pertengahan April 2020, dimana lebih dari 2.000 orang mengalami gejala sakit, dan lebih dari 30.000 menjalani tes kesehatan dan dinyatakan positif Covid-19. Meski demikian progres untuk mengontrol virus ini malah terhambat.

Anjuran berada di dalam rumah, menutup restoran, bar, bioskop, dan membatalkan sejumlah acara publik memang sukses menurunkan rantai penyebaran virus ini.

Dalam kaidah epidemologi, hal ini bisa membuat kurva stagnan lalu menurun. Namun, ketika negara memutuskan mencabut anjuran lockdown, kurva stabil, maka pada saat itu pula pemangku kebijakan sektor kesehatan seharusnya menargetkan agar kurva bisa turun ke bawah.

1. Memasuki Musim Panas

Saat ini cuaca dan iklim memang tengah melawan virus. Angin yang berhembus pada musim panas dan kelembapan menurun tetapi tetap tidak menurunkan risiko infeksi virus ini.

Tren diprediksi akan meningkat Agustus sampai September. Kondisi ikllm akan menyuburkan pertumbuhan virus, dan penyebaran birus gelombang kedua juga diprediksi akan dimulai.

Ahli Metriks Kesehatan, Profesor Ali Mokdad dari University of Washington Institute for Health Metrics and Evaluation menyatakan sangat penting selama musim panas ini untuk melakukan antisipasi dan mengambil peluang untuk memperbaiki masalah Covid-19.

"Artinya kita tetap mengikuti arahan dan mengurangi aktivitas yang membuat siklus virus ini menurun secepatnya," ujar Ali.

2. Pembukaan Kembali

Saat ini ada sekitar 50 negara di dunia mulai melonggarkan lockdown dan membuka aktivitas bisnis. Pada saat yang sama, sejumlah negara malah menunjukkan peningkatan angka kasus Covid-19.

Namun tak semua negara yang membuka aktivitasnya mengalami kenaikan kasus. Sejumlah ahli mengambil contoh belum menemukan penyebab kenaikan yang yang tinggi di Arizona dibandingkan di Georgia.

Joe Gerald, Profesor Kebijakan Manajemen Kesehatan Publik di Universitas Arizona menyatakan sejumlah negara yang melonggarkan lockdown dan tidak ada kenaikan angka kasus nampaknya sudah mengambil langkah yang tepat.

"Jika kita sudah tahu alasannya, kita bisa mengaplikasikannya ke negara lain dan mungkin dengan sedikit geliat aktivitas bisa menanggulangi kerusakan ekonomi, sayangnya saat ini kita belum memilikinya," ujar Joe.

3. Menggunakan Masker

Penggunaan masker dengan disiplin bisa menjadi faktor kesuksesan menanggulangi Covid-19. Sejumlah bukti membenarkan pemakaian masker secara signifikan menghambat angka transmisi.

Menggunakan masker juga adalah cara paling mudah, pilihan paling efektif untuk menjaga angka infeksi tetap rendah. Profesor Epidemologi Michael Mina dari Universitas Harvard menyebut tidak ada keraguan soal fungsi dan manfaat masker. Sayangnya, masker saat ini menjadi salah satu isu politik. Ada sebuah survei yang menyatakan pendukung Partai Demokrat bisa dua kali menggunakan masker jika dibandingkan pendukung Partai Republik yang hanya satu kali memakai masker hanya saat keluar rumah.

4. Uji Tes dan Penelusuran Rekam Jejak

Untuk bisa mengontrol virus ini, pemangku kebijakan sektor kesehatan harus mengerjakan dua hal sekaligus yaitu melakukan tes ke masyarakat dan tracing atau penelusuran rekam jejak dan kontak masyarakat.

Namun strategi sulit untuk ditelusuri ke seluruh pelosok negara. Sejumlah ahli menyatakan banyak negara bagian di AS yang sudah bagus dalam melakukan tes ketika 5 persen dari pengujian menyatakan positif terinfeksi Covid-19. Meski begitu setengah dari populasi negara bagian belum tentu terjangkau untuk menerima tes tersebut.

Ketika pasien dinyatakan positif, tim medis perlu mencari tahu siapa lagi yang terinfeksi sehingga mereka bisa segera melalui tes dan diisolasi. Petugas kesehatan pun merekrut 100.000 petugas untuk melakukan tracing.

Kepala Bidang Pemerintahan Adriane Casalotti di Asosiasi Nasional Pejabat Kesehatan tingkat Kota dan Kabupaten menyatakan berkaca dari beberapa bulan terakhir, saat ini dibutuhkan strategi baru untuk menekan angka Covid-19.

5. Vaksin

Vaksin memang adalah satu-satunya cara untuk menghentikan pandemi ini. Pada ilmuwan sudah melakukan uji coba dan memproduksi vaksin yang kemungkinan besar akan siap digunakan awal tahun depan.

World Health Organization (WHO) sudah mengizinkan 10 orang kandidat manusia untuk menerima tes uji coba vaksin. Satu vaksin dari Universitas Oxford kini sudah memasuki masa percobaan, vaksin dari Biotech Moderna juga sudah memasuki tahap akhir uji coba bulan depan.

Untuk membuat vaksin yang cepat dan siap digunakan secepatnya, sejumlah perusahaan farmasi akhirnya menjalin kerja sama dengan pemerintahan dengan mekanisme public-private-partnership (PPP). Sehingga geliat pabrik manufaktur pun meningkat.

6. Perawatan

Saat ini hanya satu pengobatan yang bisa bekerja melawan Covid-19 dengan manfaat yang juga masih terbatas. Obat remdesivir, dari perusahaan farmasi Gilead sedang mengerjakan uji coba pada sejumlah rumah sakit dengan pasien Covid-19 yang masih dirawat. Pengobatan ini pun belum memberikan dampak yang signifikan bagi pasien.

Obat anti Malaria ini justru menarik perhatian pada awal pandemi. Namun belum banyak menunjukkan kesuksesan.

Kecil kemungkinan berdasarkan hasil studi awal pasien di Prancis dan China yang menunjukkan adanya kesuksesan yang menjanjikan. Kini ketika tak ada lagi kesempatan untuk membuktikan efektivitas obat ini atas Covid-19, para dokter di seluruh dunia memberikan ribuan pasien obat sementara yang belum diketahui efeknya.

Saat sejumlah ahli mengakui bahes temuan obat Covid-19 masih sangat lama, Presiden Amerika Serikat Donald Trump dengan sejumlah koalisi konservatif menyatakan hydroxychloroquine masih bisa diandalkan menumpas Covid-19 berdasarkan riset terakhir. Trump sendiri mengaku mengonsumsi hydroxychloroquine guna menangkal Covid-19. Padahal, kajian menemukan tidak ada perubahan atas obat ini dalam mencegah penyakit ini pada tim medis sementara risiko penyebaran tertinggi masih berkembang di masyarakat.

Jadi, entah obat ini menolong atau malah menambah rentetan pertanyaan baru. Studi terbaru tidak menganjurkan pemakaian obat ini.

Sejumlah metode pengobatan lain juga masih dalam tahap penelitian, termasuk menggunakan kombinasi obat anti-HIV dengan lopinavir-ritonavir, dan antibodi dari pasien yang terinfeksi Covid-19 dengan yang sudah dinyatakan sembuh.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia