Karier Pramono Edhie Wibowo & Kisah Donor Sumsum Tulang Belakang untuk Ani Yudhoyono

Berdasar pemeriksaan medis saat itu, hanya Pramono yang cocok menjadi calon donor bagi Bu Ani, sapaan untuk almarhum Ani Yudhoyono. - Antara
14 Juni 2020 10:57 WIB Saeno News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Saat masih sehat, almarhum Jenderal TNI (Purnawirawan) Pramono Edhie Wibowo dikabarkan sempat siap menyumbangkan sumsum tulang belakangnya untuk Ani Yudhoyono, kakak kandungnya.

Kabar bahwa Pramono sempat menjadi calon donor sumsum tulang belakang bagi kakaknya itu terjadi saat Ani Yudhoyono menjalani pengobatan kanker darah di National University Hospital, Singapura.  Berdasar pemeriksaan medis saat itu, hanya Pramono yang cocok menjadi calon donor bagi Bu Ani, sapaan untuk almarhum Ani Yudhoyono.

Tetapi belum juga transplantasi sumsum tulang belakang terlaksana, Ani Yudhoyono sudah terlebih dahulu meninggal dunia.

Sabtu malam, Pramono Edhie Wibowo meninggal dunia, menyusul almarhumah kakaknya yang berpulang terlebih dahulu.

Purnawirawan jenderal bintang empat tersebut menghadap Sang Khalik dalam usia 65 tahun.

Konvensi Calon Presiden

Semasa hidup, setelah selesai bertugas di dunia militer, Pramono sempat ikut Konvensi Calon Presiden yang diadakan Partai Demokrat pada 2014.

Saat itu Pramono berkontestasi bersama Marzuki Alie, Anies Baswedan, Dahlan Iskan, Dino Patti Djalal, Gita Wirjawan, Irman Gusman, Ali Masykur Musa, dan Jenderal TNI (Purn) Endriartono Sutarto.

Saat itu, dari latar belakang militer, hanya Pramono dan Endriartono Sutarto yang terdaftar mengikuti konvensi tersebut.

Partai Demokrat kemudian mengumumkan hasil Konvensi Capres, yakni Pramono Edhie Wibowo menempati posisi kedua setelah Dahlan Iskan, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ketika itu.

Karir Militer

Adik dari almarhumah Kristiani Herrawati (Ani Yudhoyono), mantan ibu negara, itu dikenal sebagai salah satu tokoh militer Indonesia yang pernah menduduki jabatan strategis.

Berbagai jabatan di lingkup TNI pernah diembannya, seperti Komandan Jenderal Kopassus, Pangdam III Siliwangi, Pangkostrad, hingga Kepala Staf TNI Angkatan Darat (Kasad).

Berasal dari keluarga TNI, darah militer Pramono mengalir dari sang ayah, Letjen TNI (Purn) Sarwo Edhie Prabowo yang dikenal dalam penumpasan Gerakan 30 S/PKI yang kala itu menjabat Komandan RPKAD (kini Kopassus).

Perjalanan karier Pramono, lulusan Akademi Militer angkatan 1980, di kancah militer terbilang cukup bersinar

Selepas lulus Akmil, Pramono ditunjuk sebagai Komandan Pleton Grup I Komando Pasukan Sandi Yudha (Kopassandha) TNI AD, perwira Operasi Grup I Kopassandha pada tahun 1981, dan Komandan Kompi 112/11 grup I Kopassandha pada 1984.

Kopassandha adalah cikal bakal Kopassus, pasukan elite TNI AD, setelah berganti nama dari Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD).

Pada 1995, Pramono menempuh Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat (Seskoad), dan satu tahun kemudian menjabat sebagai Perwira Intel Operasi grup I Kopassus.

Bernaung dalam Kopassus, Pramono kemudian menjabat Wakil Komandan Grup 1/Kopassus pada tahun 1996, dan setelah dua tahun terpilih menjadi Komandan Grup 1/Kopassus.

Karier sosok kelahiran Magelang, Jawa Tengah, Indonesia, 5 Mei 1955 itu terus berkembang memasuki era reformasi, apalagi saat Megawati Soekarnoputri terpilih sebagai presiden menggantikan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

Ajudan Megawati, Kasad di Era SBY

Pada 2001, Pramono terpilih menjadi ajudan Presiden Megawati Soekarnoputri dan pada tahun yang sama menempuh Sekolah Staf dan Komando Tentara Nasional Indonesia (Sesko TNI).

Suami dari Kiki Gayatri Soepono dan ayah dua anak kemudian dipercaya menjabat sebagai Perwira Tinggi Staf Ahli Bidang Ekonomi Sesko TNI pada 2004.

Perjalanan karier Pramono terus meningkat hingga menjadi Wakil Danjen Kopassus pada 2005, Kepala Staf Kodam IV/Diponegoro pada tahun 2007, serta Danjen Kopassus pada 2008 hingga 2009.

Karier Pramono semakin cemerlang ketika era kepemimpinan Presiden SBY hingga dilantik menjadi Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad) pada Juni 2011, sebelum pensiun secara resmi dari militer pada Mei 2013.

Kecermalangan Pramono ditunjukkan dengan deretan tanda jasa kehormatan negara yang dianugerahkan kepadanya selama berdinas. Bintang Mahaputra Utama, Bintang Dharma, Bintang Kartika Eka Paksi Utama, Bintang Jalasena Utama, Bintang Swa Bhuwana Paksa Utama, Bintang Bhayangkara Utama, Bintang Yudha Dharma Pratama.

Bintang Kartika Eka Paksi Pratama, Bintang Yudha Dharma Nararya, Bintang Kartika Eka Paksi Nararya, Bintang Kartika Eka Paksi, Darjah Utama Bakti Cemerlang (Tentera/Singapura), Meritorious Service Medal, dan sejumlah tanda jasa lainnya menghiasi riwayat hidupnya.

Purna dari militer, paman Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) itu memilih menapaki dunia politik dengan bergabung di Partai Demokrat dan hingga akhir hidupnya menjabat sebagai anggota Dewan Pembina Partai Demokrat.

Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono menyebutkan sang paman wafat pada Sabtu, sekitar 19.30 WIB karena sakit. Jenazah almarhum disemayamkan di Puri Cikeas, Bogor, Jawa Barat, dan rencananya akan dimakamkam di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Minggu (14/6/2020).

Bendera setengah tiang akan dikibarkan jajaran TNI AD selama tujuh hari sejak hari pemakaman Pramono pada Minggu, 14 Juni 2020, sebagai bentuk penghormatan dan duka cita atas kehilangan salah satu putra terbaiknya.

Hal itu disampaikan Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Darat (Kadispenad) Brigjend TNI Nefra Firdaus dalam keterangan tertulisnya, di Jakarta, Sabtu malam.

Sumber : Antara