Mahasiswa S2 dari Sejumlah Jurusan Ini Dibutuhan untuk Sukarelawan Covid-19

Menko PMK Muhadjir Effendy (kanan). - Suara.com/Yosea Arga Pramuditha
07 Juni 2020 06:17 WIB Newswire News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA--Sukarelawan dibutuhkan untuk menangani Covid-19.

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy mengatakan pemerintah membutuhkan relawan dengan jumlah besar untuk membantu percepatan penanganan Covid-19, khususnya pada pengujian spesimen.

Hal itu diungkap Muhadjir usai mendapatkan perintah dari Presiden Joko Widodo atau Jokowi untuk meningkatkan target pengujian spesimen dengan metode polymerase chain reaction (PCR) ditingkatkan menjadi 20 ribu per hari.

Sumber daya manusia menjadi kunci agar pengujian spesimen bisa memenuhi target yang diinginkan. Dengan begitu ia menekankan kepada Kemendikbud, Kemenkes, dan Kemenristek untuk bisa merekrut relawan secara masif. Adapun relawan yang dibutuhkan khususnya untuk mahasiswa S2 di bidang kesehatan masyarakat, keperawatan, dan mikrobiologi molekuler.

"Kalau kita lihat untuk mencapai 20.000 tidak begitu sulit ya. Karena per tanggal 6 Mei itu sudah tercatat 13.333 tes yang bisa dilakukan. Sehingga ini saya kira bukan hal mustahil. Malah seharusnya kita bisa memikirkan bagaimana mencapai target 30.000," kata Muhadjir dalam keterangan persnya, Sabtu (6/6/2020).

Menurutnya proses pelacakan atau tracking pun perlu diperbanyak agar penyebaran virus pun lebih banyak yang terdeteksi. Ia juga meminta agar tim peneliti vaksin Covid-19 yang dibidangi oleh Kemenristek/BRIN terus dimotivasi dan didukung proses kerjanya agar bisa menghasilkan vaksin secara cepat demi kemandirian bangsa.

Muhadjir juga meminta harga alat swab tes untuk uji spesimen perlu seragam dan murah. Tentu ia meminta kepada Kementerian Perdagangan agar membuat regulasi terkait hal tersebut demi menyukseskan percepatan pengujian spesimen.

"Jadi tidak boleh ada persaingan terbuka. Karena ini adalah kita perang lawan covid dan jangan ada orang yang mengambil untung terlalu banyak," pungkasnya.

Sumber : Suara.com