Kerja Keras Tangani Covid-19, Perawat Diteror & Dituding Menzalimi Santri

Ilustrasi - Freepik
01 Juni 2020 18:17 WIB Moh Khodiq Duhri News Share :

Harianjogja.com, SRAGEN—Seorang perawat yang menjadi anggota tim tenaga kesehatan (nakes) penanggulangan dan pencegahan Covid-19 di Puskesmas Kedawung, Sragen, mendapat ancaman teror melalui pesan Whatsapp (WA) dari orang tidak dikenal.

Pesan WA itu diterima perawat wanita berusia 50 tahun itu pada Jumat (29/5/2020) pagi. Orang yang meneror melalui pesan WA itu mengaku sebagai koordinator santri di Temboro, Magetan, untuk wilayah Sragen. Dalam pesan itu, perawat itu dituding ikut berperan dalam menzalimi para santri. Dia mengaku sudah mengantongi identitas perawat itu dan orang-orang yang terlibat dalam penanganan Covid-19. Orang tersebut menyebut bahwa para nakes itu telah melakukan persekusi dan menzalimi mereka.

Kami punya cara sendiri untuk membalas. Atos-atos njeh Bu [Hati-hati ya Bu]. Orang yang zalim pasti binasa. Kalau gak sekarang berarti besok atau lusa. Hati-hati dengan kehidupan Anda. Anda jual kami beli,” tulis dia dalam pesan WA itu.

Kepala Puskesmas Kedawung, Windu Nugroho, mengatakan setelah mendapat laporan adanya ancaman itu, dia langsung berkoordinasi dengan Camat Kedawung dan Polsek Kedawung. Perawat yang mendapat ancaman teror itu juga sudah dimintai keterangan polisi.

“Perawat itu kebetulan bertugas dalam tracing atau mencari daftar nama warga yang sempat kontak langsung dengan pasien positif Covid-19 berdasar tes swab. Kebetulan di wilayah kami ada tiga warga yang positif [corona] berdasar hasil swab. Ketiganya kami perlakukan sama. Warga yang positif kami jemput untuk dibawa ke Gedung SMS, sementara warga yang pernah menjalin kontak kami lakukan rapid test,” ujar Windu.

Windu menyesalkan ancaman teror kepada nakes yang menangani Covid-19 tersebut. Sebagai seorang wanita yang tinggal sendiri setelah suaminya meninggal dunia, ancaman teror itu tentu membuatnya takut. Dia memang sempat masuk kerja pada Jumat dan Sabtu, namun dia harus bolak-balik ke Mapolsek Kedawung untuk dimintai keterangan polisi. Bahkan pada Minggu pagi, perawat itu juga masih dimintai keterangan oleh polisi.

“Setelah dapat laporan dari nakes itu, terus terang kami kaget. Ancaman teror itu justru melemahkan kita sebagai nakes. Selama ini kita sudah jenuh, lelah dan khawatir dengan risiko, tapi kok malah dapat ancaman seperti itu,” ujar Windu.

Ancaman teror itu, kata Windu, bukan hanya menyangkut masalah perorangan. Menurutnya, ancaman teror itu tentu membuat takut semua nakes yang bertugas menangani Covid-19. Dia khawatir ancaman teror itu justru membuat para nakes enggan bekerja.

“Kita semua punya keluarga. Sudah pasti takut mendapat ancaman seperti itu. Repotnya nanti, kalau misal ada kasus lagi, kami khawatir mereka enggan ketika kami beri tugaskan menangani Covid-19. Dampaknya tentu luas,” bebernya.

Windu berharap pengirim pesan berisi ancaman teror itu bisa meminta maaf dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya. Windu menegaskan dirinya tidak akan membawa kasus itu ke jalur hukum. “Yang penting dia mau membuat surat pernyataan tidak mengulangi itu sudah cukup. Kami tidak mungkin memenjarakan dia,” paparnya.

Windu menyesalkan masih ada pihak yang salah paham terkait Covid-19. Adanya ancaman teror kepada nakes itu membuktikan bila masyarakat belum memiliki pemahaman yang tepat terkait pandemi Covid-19.

“Mungkin orang itu merasa dia dan teman-temannya mendapat stigma buruk dari warga. Warga jadi takut dan menjauhi kelompok mereka. Padahal, kami sudah keliling ke desa-desa untuk sosialisasi. Saya selalu menekankan Covid-19 itu bukan penyakit memalukan,” ujarnya.

Sementara itu, Kapolsek Kedawung, Iptu Sutomo, mengatakan laporan terkait adanya ancaman teror itu baru sebatas aduan. Sampai sekarang, perawat tersebut belum melapor secara resmi terkait ancaman teror yang diterimanya. Kendati begitu, dia menegaskan polisi tidak tinggal diam menyikapi persoalan itu.

“Aduan itu tetap kami tindak lanjuti. Sekarang kami masih mendalami masalah ini. Kami tengah mengumpulkan keterangan sebanyak-banyaknya. Tahapnya masih penyelidikan,” papar Iptu Sutomo.

Sumber : JIBI/Solopos