Uni Eropa Tolak Hydroxychloroquine untuk Obat Covid-19

Obat Hydroxychloroquine. - JIBI/Bisnis.com
28 Mei 2020 19:07 WIB John Andhi Oktaveri News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Setelah Prancis melarang penggunaan hydroxychloroquine (HC) untuk perawatan pasien Covid-19, kini Italia dan Belgia menangguhkan  penggunaan obat itu karena masalah keamanan. Hhydroxychloroquine berkali-kali digembar-gemborksan Presiden AS, Donald Trump dan Presiden Brasil, Jair Bolsonaro, sebagai obat yang manjur.

Prancis kemarin mencabut sebuah dekrit yang mengizinkan dokter untuk menggunakan obat tersebut untuk pasien virus Corona yang sakit parah.

Sedangkan, badan pengawas obat Italia dan Belgia menangguhkan atau memperingatkan penggunaannya kecuali dalam uji klinis.

Beberapa hari setelah Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunda percobaan global terkait masalah keamanan obat, Universitas Oxford juga menghentikan uji coba hydroxychloiroquine internasional kurang dari seminggu setelah dimulai.

Sebuah hasil penelitian observasional yang diterbitkan di Lancet terhadap hampir 100.000 pasien di 671 rumah sakit, menyatakan  bahwa hydroxychloroquine, yang dipromosikan oleh spesialis penyakit menular kontroversial Prancis Didier Raoult, akan  meningkatkan angka kematian.

Sementara itu, hasil penelitian oleh Institut Pasteur Prancis menyatakan bahwa antibody 98 persen orang dengan virus corona ringan mampu menetralkan virus sebulan kemudian seperti dikutip TheGuardian.com, Kamis (28/5/2020).

Hal itu meningkatkan harapan bahwa setiap orang yang menderita penyakit tersebut dapat menikmati kekebalan.

Uni Eropa sebelumnya meluncurkan program  pemulihan senilai €750miliar atau  yang terbesar dalam sejarah untuk membuat benua itu bangkit kembali setelah kehancuran ekonomi yang ditimbulkan oleh pandemi Covid-19.

Kini Amerika Latin menyusul Eropa dan AS dalam jumlah infeksi harian baru wabah itu.

Komisaris urusan ekonomi Uni Eropa, Paolo Gentiloni, menyebut paket itu sebagai "terobosan Eropa" untuk "mengatasi krisis yang belum pernah terjadi sebelumnya".

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia