Seorang Dokter yang Pernah Mengingatkan soal Ketersediaan APD Meninggal karena Corona

Suasana sepi di Tower Bridge di London, Inggris, Kamis (9/4/2020). Saat Perdana Menteri Inggris Boris Johnson berada di unit perawatan kritis karena Covid-19, sejumlah pejabat menyusun rencana untuk memperpanjang masa lock down untuk mengendalikan krisis karena virus corona. Bloomberg - Simon Dawson
10 April 2020 10:07 WIB John Andhi Oktaveri News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Petugas medis yang meninggal dunia kembali terjadi. Kali ini di Inggris. Seorang dokter Inggris yang mengingatkan PM Inggris Boris Johnson bahwa petugas kesehatan di garis depan tidak memiliki cukup alat perlindungan pribadi (PPE) dilaporkan meninggal dunia akibat Covid-19.

Dokter bernama Abdul Mabud Chowdhury itu merupakan seorang konsultan berusia 53 tahun di departemen urologi di rumah sakit Queen Elizabeth di Romford. Dia bekerja untuk Layanan Kesehatan Nasional (NHS) Ingvgvris selama lebih dari 20 tahun setelah bermigrasi dari Bangladesh.

Dia meninggal pada hari Rabu waktu setempat setelah menghabiskan 15 hari perawatan di rumah sakit.

Dalam sebuah posting Facebook pada 18 Maret yang secara langsung berbicara dengan Johnson, Chowdhury mendesak perdana menteri untuk memberikan APD untuk "setiap petugas kesehatan NHS di Inggris" setelahm dia menyerukan agar diakukan pengujian jalur cepat untuk staf medis.

“Dokter, perawat dan pekerja lain yang berhubungan langsung dengan pasien berusaha untuk membantu, tetapi kami juga manusia [dengan] hak asasi manusia seperti orang lain [mencoba] untuk hidup menghadapi pasien dan jauh dari keluarga dan anak-anak kami," ujarnya seperti dikutip Aljazeera.com, Jumat (10/4/2020).

Dia menghargai dukungan moral yang diberikan kepada pekerja NHS dengan mengatakan kita harus melindungi diri kita sendiri dan keluarga dan anak-anak kita dalam krisis bencana global ini dengan menggunakan APD dan obat yang tepat.

"Saya berharap kita berhak mendapatkan dukungan minimal ini untuk praktik medis kita yang aman," ujarnya.

Adnan Pavel, teman Chowdhury, menggambarkan dia sebagai mentor "antusias" dan dermawan tanpa pamrih untuk orang-orang rentan.

"Dia adalah pria yang baik. Dia selalu bersemangat membantu semua orang. Dia adalah pria yang menghargai kehidupan," kata Pavel pada Al Jazeera.

Sementara itu, PM Boris Johnson telah dipindahkan dari perawatan intensif, menurut Downing Street seperti dikutip dari TheGurdian.com. Johnson terserang wabah Covid-19 dan sempat beberapa kali menjalani pemeriksaan sebelum dirawat.

Seorang juru bicara mengatakan: "Perdana menteri telah dipindahkan malam ini dari perawatan intensif kembali ke bangsal, di mana dia akan menerima pemantauan ketat selama fase awal pemulihannya.

Sumber : Al Jazeera