Advertisement
LIPI: Suhu 60 Derajat Selama 60 Menit Bisa Inaktifkan Berbagai Virus
Dokter sedang melakukan perawatan pada pasien virus corona. - Reuters
Advertisement
Harianjogja.com, JAKARTA - Beberapa jenis virus Corona dapat bertahan hidup pada benda mati selama dua jam hingga sembilan hari. Hal tersebut disampaikan oleh peneliti Mikrobiologi dari Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Sugiyono Saputra.
"Pada umumnya, suhu 60 derajat selama 60 menit sudah bisa menginaktifkan berbagai jenis virus," kata Sugiyono di Jakarta, Senin (9/3/2020).
Advertisement
Menurut Badan Kesehatan Dunia, penularan virus Corona memang ditularkan antarmanusia melalui droplet. Walaupun demikian, kata Sugiyono ada beberapa potensi rute penularan lainnya, yaitu penularan melalui benda mati yang sudah terkontaminasi virus.
Hal tersebut berdasarkan studi yang membuktikan ketahanan beberapa jenis virus Corona selain SARS-CoV-2 pada benda mati yang berkisar antara dua jam hingga sembilan hari.
Penularannya dapat dimulai ketika ada sentuhan tangan dengan benda yang sudah terkontaminasi virus Corona tersebut, kemudian tangan menyentuh area mulut, hidung atau mata, sehingga memungkinkan virus masuk ke dalam tubuh kita.
Namun, belum ada studi yang menunjukkan berapa lama untuk virus Corona jenis baru yang disebut juga penyakit COVID-19 yang menginfeksi manusia dan yang menyebabkan wabah di dunia, dapat bertahan di benda mati atau di tangan orang.
Virus influenza dapat bertahan di permukaan hingga 14 hari, HIV dapat bertahan hingga 5 atau 6 hari di darah kering, sedangkan ebola virus dapat bertahan hingga 3-11 hari.
Sementara jangka waktu virus dapat bertahan di tangan bervariasi, misalkan pada influenza bisa bertahan hingga satu jam, rotavirus hingga 10 jam, virus hepatitis a bisa bertahan sampai empat jam.
"Artinya dalam jangka waktu itu, masih ada potensi transfer penularan dari tangan terkontaminasi ke tangan kotor," ujarnya.
Sugiyono menambahkan ketahanan virus di luar sel inang bervariasi karena sangat bergantung pada jenis dan karakteristik virus itu sendiri dan faktor lingkungan seperti suhu, kelembaban, paparan sinar ultra violet, dan medium yang membawanya.
"Semakin tinggi suhu, semakin rendah pula ketahanan hidupnya [virus]," tambah pria kelahiran Banyumas itu.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Gempa M5,7 Guncang Tenggara Tuapejat, Tak Berpotensi Tsunami
- Indonesia Soroti Insiden Berulang di Lebanon, Minta PBB Bertindak
- Kedatangan Jenazah Prajurit TNI dari Lebanon Dikawal Puluhan Personel
- Siswa Keracunan Spageti MBG, Operasional Dapur Disetop
- Viral MBG Dibungkus Kresek, Satgas dan BGN Turun Tangan
Advertisement
Jangan Terlewat KIP Kuliah 2026 Dibuka Ini Jadwal dan Cara Daftar
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- Lapak Asik BPJS Ketenagakerjaan Kini Dilengkapi Antrean Digital
- Duel Antar Geng Berujung Pembacokan di Pakualaman Jogja
- Sindikat Oplos LPG Subsidi Terbongkar, Keuntungan Rp1,3 Miliar Perhari
- Harga Pangan Global Naik Lagi, FAO Soroti Dampak Konflik Timur Tengah
- Sekolah dan ASN Didorong Ubah Kebiasaan Demi Hemat Energi
- UNIFIL Gelar Upacara Penghormatan bagi 3 Prajurit TNI Gugur di Lebanon
- Update KRL Jogja ke Solo Hari Ini 4 April 2026, Ini Jamnya
Advertisement
Advertisement








