Tak Ingin Ulangi Kesalahan Underpass Kulur, Pemkab Kulonprogo Tak Andalkan Pompa di Underpass Kemiri

Underpass Kulur di Temon, Kulonprogo, tergenang air, Minggu (19/1/2020). - Harian Jogja/Lajeng Padmaratri
26 Februari 2020 23:17 WIB Jalu Rahman Dewantara News Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO—Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kulonprogo telah mengonsep jalan bawah tanah atau underpass Kemiri III tidak mengandalkan pompa air untuk antisipasi tidak terjadi genangan air yang sulit surut seperti di Underpass Kulur.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Kawasan Pemukiman (DPUPKP) Kulonprogo Gusdi Hartono menuturkan penggunaan pompa di terowongan bawah tanah terlalu banyak risiko lantaran butuh pemeliharaan yang besar.

Penggunaan pompa di jalan bawah tanah akan jadi masalah ketika pompa yang digunakan memakai tenaga listrik. Ketika kondisi mati listrik, penyedotan air tak maksimal lantaran harus terhenti. “Butuh pemeliharaan, konsistensi dan penjagaan kalau pakai pompa. Artinya risiko tinggi,” ungkapnya, Rabu (26/2/2029).

Karena itu, jawatannya sudah mendesain jalan bawah tanah Kulur untuk memiliki saluran pembuangan air dengan sistem gravitasi. Dana Anggaran Pendapatan Belanja Daerah Kulonprogo sebesar Rp4,9 miliar bahkan telah dianggarkan hanya untuk pembuatan saluran drainase supaya underpass tidak tergenang air. Saluran ini memungkinkan pembuangan air akan diarahkan sejauh 500 meter ke arah timur di Sungai Serang.

Tahun ini, pembangunan jalan untuk underpass Kemiri III akan dilanjutkan. Gusdi mengungkapkan butuh anggaran sebesar Rp16 miliar untuk menyelesaikan seluruh tahapannya. Namun, anggaran yang ada baru Rp4,9 milyiar untuk pengembangan drainase sementara sisa anggaran yang dibutuhkan sedang diproses dalam APBD Perubahan.

Fisik terowongannya sudah selesai dibangun sejak 2011. Sekitar Rp11 miliar anggaran kekurangannya ini nanti  digunakan untuk pembuatan badan jalan, pengerasan dan pengaspalan jalan. Ditargetkan seluruh proses penggarapan underpass Kemiri III dapat selesai tahun ini sehingga dapat segera digunakan.

Kepala Bidang Bina Marga DPUPKP Kulonprogo Nurcahyo Budi Wibowo mengungkapkan pembebasan lahan untuk jalan pendukung jalan bawah tanah ini telah dilakukan sejak 2014. Namun, karena keterbatasan dana, pengerjaan fisiknya baru bisa dimulai tahun ini dengan membangun 650 meter jalan baru.

Jalan baru tersebut terletak di sebelah barat gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kulonprogo dan lurus sepanjang 850 meter ke selatan menuju jalan bawah tanah yang sudah berdiri serta jalan baru di selatan underpass ke arah barat. Dari panjang itu, saat ini jalan tersebut baru diaspal sepanjang 200 meter meski lebarnya sudah tujuh meter.