Polusi di China Berkurang Drastis karena Virus Corona

Suasana pasar di Hong Kong setelah merebaknya virus corona. - JIBI/Bisnis.com
05 Februari 2020 16:47 WIB Aprianto Cahyo Nugroho News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA – China sebagai negara penyumbang emisi gas karbon terbesar di dunia mencatat penurunan tajam emisi gas CO2 sejak wabah coronavirus menyebar.

Karantina, liburan yang panjang, serta penutupan akses transportasi membuat tidak banyak kendaraan yang berlalu-lalang, ditambah dengan berkurangnya jadwal penerbangan serta penutupan tambang batubara dan pabrik baja, yang menjadi penyumbang terbesar gas rumah kaca yang mendorong pemanasan global.

Dilansir Bloomberg, penurunan aktivitas tersebut akan mendorong pengurangan emisi di awal tahun ini. Seberapa banyak penurunan tingkat emisi tersebut akan bergantung pada berapa lama kegiatan ekonomi tetap tertekan dan jenis stimulus apa yang dilakukan pemerintah setelah wabah dapat diatasi.

"Virus corona seharusnya diharapkan mengurangi emisi karbon China pada kuartal pertama," kata Melissa Brown, direktur studi keuangan energi Asia untuk Institute for Energy Economics and Financial Analysis.

"Pertanyaan sebenarnya adalah bagaimana coronavirus mempengaruhi kegiatan ekonomi secara lebih luas dan untuk berapa lama," lanjutnya, seperti dikutip Bloomberg.

BP Plc mencatat China menghasilkan lebih dari 9,4 miliar ton emisi gas karbon ke atmosfer dari bahan bakar yang dibakar, lebih dari gabungan emisi karbon AS dan Uni Eropa. Meskipun masih terlalu dini untuk mengetahui sejauh mana pengurangan jangka pendek berlangsung, penurunan penggunaan energi jangka pendek terjadi dengan tiba-tiba.

Permintaan bahan bakar di China menurut sekitar 20 persen karena penduduk lebih memilih berada di dalam eninggalkan rumah dan maskapai membatalkan sejumlah penerbangan. Pemerintah mengatakan kepada perusahaan untuk memperpanjang liburan Tahun Baru Imlek hingga 10 Februari.

Hal itu mengurangi permintaan untuk penggunaan batubara di pembangkit listrik. Sementara itu, pabrik baja, peleburan tembaga, dan pabrik semen mengurangi produksi karena aktivitas konstruksi melambat.

Li Shuo, penasihat kebijakan dari Greenpeace China. Dia menyebut praktik mengatakan tingkat polusi dapat kembali meningkat setelah pabrik di China mengatakan dapat memaksimalkan produksi pada akhir tahun untuk mengkompensasi kerugian ekonomi selama periode penutupan.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia