Advertisement
Ini Penjelasan BMKG Tentang Hujan yang "Hilang" dari Jogja
Ilustrasi. - Solopos/Nicolous Irawan
Advertisement
Harianjogja.com, SLEMAN--BMKG Staklim Mlati Yogyakarta memperkirakan cuaca di DIY sementara ini sampai dengan dasarian ke-2 November masih cerah berawan.
Kepala Unit Analisa dan Prakiraan Cuaca BMKG Stasiun Klimatologi Yogyakarta, Sigit Hadi Prakosa mengatakan hasil tersebut akan terus diperbarui oleh BMKG.
Advertisement
"Faktor cuaca cerah karena monsun Australia saat ini menguat kembali sehingga udara di DIY masih kering dan kelembabannya rendah," ujar Sigit, Sabtu (9/10/2019).
Fenomena tersebut, lanjut Sigit, juga dipengaruhi kondisi suhu muka laut di Samudera Hindia yang masih dingin yaitu di bawah 28 °C.
BACA JUGA
Adapun, hujan yang terjadi beberapa waktu yang lalu itu karena pengaruh Madden-Julian Oscilation (MJO). "Saat ini MJO sudah bergeser ke kuadran 5 berada di Samudera Pasifik sehingga pengaruhnya terhadap hujan di Jawa tidak ada lagi," tuturnya.
Saat ini DIY memasuki pancaroba. Saat pancaroba potensi hujan lebat disertai petir dan angin kencang meningkat. "Saat ini tidak ada. Tapi jika nanti hujan lebat maka potensi angin kencang ada," tambah Sigit.
Oleh karena itu, BMKG mengimbau waspada terhadap hujan lebat yang dapat menyebabkan genangan air dan tanah longsor dengan membersihkan saluran air dan mengecek ada tidaknya keretakan tanah di perbukitan setelah terjadi kemarau panjang.
Waspada angin kencang yang dapat mengakibatkan pohon tumbang atau baliho roboh dengan memangkas dahan pohon yang terlalu rimbun. Kemudian, waspada sambaran petir dengan tidak mengaktifkan handphone saat cuaca buruk dan berteduh di bawah pohon.
"Untuk cuaca terik atau panas yang dapat menyebabkan dehidrasi agar mengantisipasinya dengan mengenakan pelindung tubuh yang nyaman atau menyerap keringat dan membawa air minum cukup bagi yang beraktivitas di luar rumah," tutupnya.
Sebelumnya, Kepala Kelompok Data dan Informasi Stasiun Klimatologi Yogyakarta Etik Setyaningrum mengatakan awal musim hujan 2019/2020 yang mengguyur wilayah DIY diperkirakan terjadi pada November hingga akhir November. "Diawali dari wilayah DIY bagian utara kemudian bagian tengah dan yang terakhir Gunungkidul bagian selatan," ujar Etik.
Etik menambahkan, jika dibandingkan dengan kondisi normalnya, maka awal musim hujan tahun ini mengalami kemunduran 10-20 hari. Puncak musim hujan diprediksi terjadi di bulan Januari sampai dengan Februari 2020.
Suatu wilayah dikatakan sudah masuk musim hujan bila curah hujan (CH) dalam 10 hari sama atau lebih besar 50 mm diikuti 2 dasarian berikutnya secara berturut turut. "Jadi nanti perlu diliat dulu hujan dalam 10-20 hari mendatang," jelasnya.
Hujan yang baru terjadi dalam 1 hingga 2 hari ini perlu diliat konsistensi dan kontinuitas hujannya beberapa dasarian ke depan. "BMKG DIY memprediksikan awal musim hujan berlangsung hingga akhir november," tutupnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Gempa M5,7 Guncang Tenggara Tuapejat, Tak Berpotensi Tsunami
- Indonesia Soroti Insiden Berulang di Lebanon, Minta PBB Bertindak
- Kedatangan Jenazah Prajurit TNI dari Lebanon Dikawal Puluhan Personel
- Siswa Keracunan Spageti MBG, Operasional Dapur Disetop
- Viral MBG Dibungkus Kresek, Satgas dan BGN Turun Tangan
Advertisement
Jenazah 2 Prajurit Gugur di Lebanon Tiba di Lanud Adisutjipto
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- Sekolah dan ASN Didorong Ubah Kebiasaan Demi Hemat Energi
- Update KRL Jogja ke Solo Hari Ini 4 April 2026, Ini Jamnya
- Wapres Gibran Lepas Alumni Pejuang Digital untuk Pendidikan 3T
- Cuaca Jogja 4 April 2026 Didominasi Hujan, Ini Rinciannya
- Viral MBG Dibungkus Kresek, Satgas dan BGN Turun Tangan
- Biaya Hidup di Jogja 2026, Hitungan Versi BPS dan Perkiraan Riil
- Lagi, Tiga Prajurit Indonesia Terluka dalam Ledakan di Lebanon
Advertisement
Advertisement








