Advertisement
Angkutan Kargo Balik Kosong Disinyalir Picu Disparitas Harga Tol Laut
Penumpang antre untuk menaiki KM Sangiang di Pelabuhan Gorontalo, Kota Gorontalo, Gorontalo, Senin (27/5/2019). - ANTARA/Adiwinata Solihin
Advertisement
Harianjogja.com, JAKARTA - Disparitas harga Tol Laut yang belum sesuai harapan Presiden Joko Widodo disinyalir karena angkutan kargo balik yang masih kosong. Hal tersebut disampaikan Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia.
Ketua DPW Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Jawa Timur Henky Pratoko mengatakan penyebab dari masih adanya disparitas harga Tol Laut yakni adanya return cargo yang masih belum maksimal.
Advertisement
Dia menjelaskan kejadian return cargo Tol Laut yang kosong sering kali terjadi pada tujuan Papua.
Dia menyebutkan jumlah kargo Surabaya ke Papua selalu penuh tetapi saat kargo kembali dari Papua menuju Surabaya kapal hanya menampung tak lebih dari 1 persen dari total slot kargo di kapal.
BACA JUGA
Biasanya, paparnya, penerima barang hanya seharusnya menanggung beban ongkos kirim saja akhirnya harus menanggung beban ongkos kirim balik kontainer.
"Waktu kapal balik tidak ada barang atau komoditas yang dibawa sehingga biaya balik tidak tertanggungkan," tuturnya kepada Bisnis.com, Kamis (31/10/2019).
Menurutnya, pemerintah perlu memperhatikan potensi komoditas asli Papua serta pulau tujuan lainnya yang bisa dijualbelikan ke luar pulau tersebut. Dengan ada potensi angkutan lain, biaya operasional kapal sebagai alat kirim untuk balik berlayar terbayarkan.
Selain itu, Hengky menilai kurangnya pengawasan pemerintah mengakibatkan adanya harga barang yang masih dijual lebih tinggi pada pulau tujuan meskipun alur return cargo pulau tersebut baik. Hal ini berpotensi trader menjadi pihak yang paling diuntungkan.
"Jadi ongkos angkutnya murah tapi harga dia jual tidak berubah ya sama saja," lanjutnya.
Menurutnya, adanya disparitas harga komoditas tersebut perlu dievaluasi agar dapat diminimalkan adanya salah satu pihak yang mengambil untung sangat tinggi.
Hengky menyarankan agar pemerintah juga memperhatikan pertumbuhan industri di tiap pulau agar return cargo dalam pengiriman kembali terpenuhi.
"Jadi harusnya ada pertumbuhan industri di Papua. Jadi [meskipun] kalau pemda tambah ruang kapal, tambah kontainer tapi pemerintah tidak memperkaya industri di Papua ya pasti akan terjadi ketidakseimbangan. Di satu sisi harga berangkat murah dan harga balik [tetap] mahal," lanjutnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber : bisnis.com
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- BMKG Wanti-wanti Hujan Lebat di Jateng hingga Akhir Januari 2026
- PLN Hadirkan Tambah Daya Listrik Instan untuk Hajatan dan Proyek
- KPK Duga Modus CSR Dipakai dalam Aliran Dana Wali Kota Madiun
- OTT Madiun Seret Kepala Daerah hingga Swasta, Ini Rinciannya
- Guru dan Murid di Jambi Adu Jotos, Kasus Berujung Laporan ke Polda
Advertisement
Advertisement
Diawali dari Langgur, Cerita Wisata Kepulauan Kei Dimulai
Advertisement
Berita Populer
- Motor Tak Menyala, Aksi Pencurian 2 Pemuda Salatiga Berakhir
- BGN Pastikan Anak dari Pernikahan Dini dan Siri Tetap Dapat MBG
- HGN ke-66, Persagi DIY Edukasi Gizi 24 Sekolah di Bantul
- Pariwisata Tembus Rekor 2025, Devisa dan Kunjungan Melonjak
- Gerindra Tegaskan Thomas Djiwandono Bukan Lagi Kader
- Maidi OTT KPK, Bagus Panuntun Jadi Plt Wali Kota Madiun
- Dua Perkara Menjerat Sudewo, KPK Bongkar Dugaan Pemerasan Desa
Advertisement
Advertisement




