BMKG Prediksi Tak Ada Indikasi El-Nino Kuat Pada 2020

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati - bmkg.go.id
22 Oktober 2019 09:37 WIB Yudi Supriyanto & Hendra Wibawa News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika memprediksi bahwa pada 2020 tidak terindikasi akan terjadi El- Nino kuat mengacu hasil monitoring dan analisis dinamika atmosfer. 

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati menyatakan hal itu juga sesuai dengan hasil prediksi NOAA dan NASA Amerika Serikat serta JAMSTEC Jepang.

"Hal ini menandai tahun 2020 nanti diperkirakan tidak ada potensi anomali iklim yang berdampak pada curah hujan di wilayah Indonesia," katanya dalam siaran pers, Selasa (22/10/2019).

Menurutnya, curah hujan akan cenderung sama dengan pola iklim normal serta musim kemarau umumnya akan dimulai pada bulan April - Mei hingga Oktober 2020.

Untuk wilayah di dekat ekuator seperti Aceh, Sumatra Utara, dan Riau, imbuhnya, musim kemarau pertama akan dimulai pada Februari - Maret 2020, sehingga tetap perlu diwaspadai untuk potensi kondisi kering yang dapat berdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Untuk tahun ini, Dwikorita menambahkan El - Nino lemah telah berakhir pada bulan Juli 2019, dan kondisi netral masih berlanjut hingga di penghujung tahun 2019.

Dia menjelaskan fenomena yang saat ini sedang terjadi adalah rendahnya suhu permukaan laut daripada suhu normalnya yang berkisar antara 26 - 27 derajat celcius di wilayah perairan Indonesia bagian selatan dan barat, sehingga berimplikasi pada kurangnya pembentukan awan di wilayah Indonesia.

“Dengan adanya fenomena tersebut, mengakibatkan awal musim hujan periode 2019/2020 mengalami kemuduran, dan sebagian besar wilayah Indonesia akan mulai memasuki musim hujan pada November, kecuali untuk wilayah Sumatra dan Kalimantan yang dimulai sejak pertengahan Oktober 2019,” tegasnya.

Dwikorita mengimbau agar perlu mengoptimalkan usaha menjaga cadangan air melalui optimalisasi manajemen operasional air waduk saat musim penghujan dan melalui gerakan memanen air hujan.

Teknologi Modifikasi Cuaca dapat diterapkan sebagai alternatif pada saat peralihan kedua musim tersebut, terutama bagi wilayah yang rawan kekeringan dan karhutla.

Sumber : Bisnis.com