Polrestabes Semarang Optimistis Ungkap Misteri Mayat Tanpa Kepala dan Terbakar
Penemuan mayat tanpa kepala dan dalam kondisi hangus terbakar di kawasan Pantai Marina, Kota Semarang, Kamis (8/9/2022), hingga kini masih menjadi misteri.
Ilustrasi jalan tol. /JIBI-M. Ferri Setiawan
Harianjogja.com, SEMARANG--Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) Jawa Tengah (Jateng) dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mengancam tidak akan menggunakan fasilitas jalan tol. Hal itu akan dilakukan jika pemerintah jadi menaikan tarif tol dalam waktu dekat ini atau pada 2020 mendatang.
Wakil Ketua DPD Aptrindo Jateng dan DIY, Bambang Widjanarko, mengaku sudah mendengar kabar rencana kenaikan tarif tol itu. Kenaikan tarif tol itu rencana diumumkan setelah pelantikan Presiden Joko Widodo, 20 Oktober mendatang.
"Iya, saya sudah dengar [kenaikan tarif tol]. Pemerintah sebenarnya kurang bijak, tarif yang saat ini sudah tinggi mau dinaikan lagi. Padahal pelayanannya masih kurang. Masih ada beberapa ruas yang macet dan prasarana tidak memadai," ujar Bambang kepada JIBI/Solopos, Rabu (9/10/2019).
Bambang menilai kenaikan tarif tol itu akan sangat memberatkan para pengusaha truk. Omzet pengusaha truk akan menurun drastis jika armadanya melintasi tol.
Oleh sebab itu, ia pun siap menginstruksikan para sopirnya untuk tidak melintasi jalan tol. "Katanya pengusaha truk diimbau agar menggunakan tol? Kami sedang uji coba dan kalkulasi untung rugi. Truk kami kan untuk usaha, bukan plesiran. Jadi apa pun yang dikonsumsi harus dianggap komponen yang dihitung agar bertahan dalam persaingan usaha," kata Bambang.
"Kalau begini caranya, lebih baik truk tidak menggunakan jalan tol saja!," tegas Bambang.
Sementara itu, kenaikan tarif tol ini memang belum sepenuhnya disosialisasikan pemerintah. Meski demikian, jika mengacu UU No.38/2004 tentang Jalan dan Peraturan Pemerintah (PP) No. 15/2005 tentang Jalan, tarif tol bakal naik pada akhir 2019 ini.
Dalam aturan itu disebutkan bahwa evaluasi dan penyesuaian tarif tol dilakukan setiap dua tahun sekali oleh Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) berdasarkan tarif lama yang disesuaikan dengan pengaruh inflasi.
Direktur Utama PT Jasa Marga Semarang Batang selaku pengelola jalan tol Semarang-Batang, Arie Irianto, membenarkan jika ada penyesuaian tarif di sejumlah ruas tol pada tahun depan.
Meski demikian, penyesuaian tarif itu tidak berlaku pada tol Semarang-Batang. "Sesuai UU 38 dan PP 15 tentang Jalan Tol akan ada penyesuaian tarif akibat inflasi selama 2 tahun. Tapi, kami baru beroperasi Januari 2019. Jadi baru kena penyesuaian tarif di 2021 nanti," ujar Arie.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Solopos.com
Penemuan mayat tanpa kepala dan dalam kondisi hangus terbakar di kawasan Pantai Marina, Kota Semarang, Kamis (8/9/2022), hingga kini masih menjadi misteri.
Banjir Semarang 2026 melanda Tugu dan Ngaliyan. 313 KK terdampak, satu lansia hilang, tanggul Sungai Plumbon jebol.
Lonjakan penumpang KA Daop 6 Yogyakarta naik hingga 91% saat libur panjang. KAI tambah 7 perjalanan kereta.
DPRD DIY soroti dokumen renovasi Mandala Krida yang belum lengkap. MC-0 dan DED 2026 terancam tertunda.
SPMB Sleman 2026 dibuka dengan jalur prestasi, domisili, afirmasi, dan mutasi. Ini syarat dan ketentuan lengkapnya.
Jadwal SIM Keliling Jogja Mei 2026 lengkap di Alun-Alun Kidul, Sasono Hinggil, dan MPP. Cek lokasi, jam, dan syarat perpanjangan SIM A dan C terbaru.