Legislatif Kritik Penanganan Krisis Air Bersih di Kulonprogo

Sejumlah warga Dusun Bulu, Desa Girimulyo, Kecamatan Girimulyo saat menerima bantuan air bersih, di wilayah setempat, Selasa (18/9/2018). - Harian Jogja/Uli Febriarni
07 Oktober 2019 08:57 WIB Jalu Rahman Dewantara News Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO--Krisis air bersih yang melanda Kulonprogo setiap musim kemarau menjadi sorotan dari kalangan legislatif. Pemerintah Kabupaten Kulonprogo diminta membuat program yang lebih ampuh untuk menanggulangi persoalan ini.

Anggoa Fraksi PKS DPRD Kulonprogo, Jeni Widiyatmoko mendesak pemerintah agar lebih serius dalam menangani kasus kekeringan. Program penanggulangan jangan hanya jangka pendek tapi harus jangka panjang.

"Krisis air setiap musim kemarau ini membutuhkan penanganan yang intensif supaya kejadian serupa tidak terulang kembali," kata anggota Fraksi PKS DPRD Kabupaten Kulonprogo, Jeni Widiyatmoko, Minggu (6/10/2019).

Dia mengatakan musim kemarau mengakibatkan kekeringan di sejumlah kecamatan, antara lain Kecamatan Samigaluh, Kokap, Girimulyo, Kalibawang, Pengasih, Sentolo, dan Panjatan. Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kulonprogo lebih dari 8.000 jiwa yang tersebar di 103 dusun, 33 desa terdampak krisis air.

Menurutnya kebutuhan air bersih perorang dalam sehari, dari total jumlah warga terdampak sebanyak 500.000 liter. Ini tak sebanding dengan kemampuan dropping air bersih yang dilakukan BPBD, Dinsos dan PMI.

Sebab, pihaknya sering mendapat keluhan dari warga terdampak kekeringan tentang lambatnya bantuan air dari pemerintah. Dicontohkannya, ada warga yang mengirimkan proposal permohonan air bersih hari ini, tapi baru dikirimkan satu minggu kemudian.

"Menurut kami, armada yang dimiliki Dinsos, BPBD dan PMI sangat sedikit, sehingga menjadi kendala dalam dropping air. Kami berharap pemkab menambah armada distribusi air bersih," katanya.

Krisis air bersih selama musim kemarau memang sudah menjadi santapan rutin bagi warga Kabupaten Kulonprogo, utamanya yang bermukim di wilayah perbukitan. Minimnya ketersediaan sumber mata air ditambah belum semua masyarakat tercover pipa PDAM menyebabkan persoalan ini tak kunjung rampung.

Di Dusun Plampang II, Desa Kalirejo, Kecamatan Kokap misalnya. Jangankan pipa PDAM, sumur saja belum semua warga memilikinya. Untuk mendapat air, warga mengandalkan belik.

Belik berbentuk seperti lubang yang digali di sekitaran sungai yang telah mengering. Dari lubang sedalam lima sampai 10 meter itu, muncul air yang debitnya cukup untuk memenuhi kebutuhan air bersih bagi beberapa kepala keluarga. Namun ini hanya sementara. Jika air dari belik menipis bahkan mengering, warga akan membuat belik baru.

Selain belik, warga juga menyimpan persediaan air di toren. Namun hujan yang tak kunjung turun sejak beberapa bulan terakhir, membuat toren-toren itu kosong. Belik juga mengering. Sebagian warga lantas memilih menempuh jarak lebih dari dua kilometer guna mendapat air dari sumber mati air di dusun tetangga. Salah satunya dilakoni oleh Karmi, 60.

"Kalau nyari air harus jalan kaki, jalannya sulit sekali naik turun gunung, dan dalam sehari mungkin hanya dapat satu sampai dua jeriken, itupun tergantung antrian di mata air," ujarnya belum lama ini.

Karmi mengungkapkan, sudah enam bulan krisis air melanda Dusun Plampang II. Sebanyak 19 kepala keluarga di dusun tersebut kepayahan memperoleh air bersih. Menurutnya kemarau ini berbeda. Rentang waktunya lebih panjang dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Namun satu persamaannya, warga selalu sulit untuk memenuhi kebutuhan air bersih.

Meski sebenarnya sudah ada bantuan air bersih dari pemerintah dan pihak-pihak swasta lewat droping air, hal itu kata Karmi tidak menyelesaikan masalah. Kepada Pemerintah Kabupaten Kulonprogo, Karmi berharap agar dusunnya bisa segera teraliri air bersih baik itu dengan pipa PDAM ataupun sumur bor untuk Pamsimas.

Jika belum bisa membangun pipa PDAM di kawasan kekeringan, mungkin Pemkab dapat memberi bantuan Pamsismas ke warganya. Keberadaan Pamsismas dapat dikatakan cukup membantu untuk penyediaan air bersih kala kemarau datang.

Hal ini sudah terbukti di Desa Tuksono, Kecamatan Sentolo. Supreh, salah satu penyedia air bersih untuk masyarakat di Desa Tuksono, mengaku permintaan air bersih dari masyarakat Tuksono turun hingga 50% pada musim kemarau ini. Hal ini disebabkan adanya pamsimas yang dikelola oleh pemerintah Desa Tuksono.

Setiap musim kemarau lanjutnya, permintaam air bersih bisa mencalai lebih dari 300 truk tiap bulan. Tapi belakangan menurun drasti jadi 150 truk perbulan. "Mungkin tahun depan sudah tidak ada yang beli air lagi, karena ada bantuan pembuatan pamsismas lagi," katanya.

Di Desa Tuksono sendiri sudah dibangun tiga pamsisma yang dapat mencukupi kebutuhan air masyarakat. Sehingga, masyarakat sudah tidak beli air bersih lagi.