Puluhan Korban Kerusuhan di Wamena, Jokowi Sebut Ulah KKB

Warga memadati Bandara Wamena, Jayawijaya, Papua, Jumat (27/9/2019). Warga Wamena terus memadati bandara untuk meninggalkan Wamena pascakerusuhan pada Senin (23/9/2019). - ANTARA /Iwan Adisaputra
30 September 2019 13:37 WIB Yodie Hardiyan News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA -- Presiden Joko Widodo menyatakan kerusuhan di Wamena, Papua terjadi karena ulah kelompok kriminal bersenjata (KKB). Dia berharap tidak ada pihak yang menggeser isu kerusuhan ini menjadi konflik etnis.

"Jangan ada yang menggeser-geser ini jadi kayak sebuah konflik etnis. Bukan. Ini adalah kelompok kriminal bersenjata, yang dari atas gunung turun ke bawah dan melakukan pembakaran-pembakaran rumah warga," kata Jokowi saat menyampaikan pernyataan pers di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, Senin (30/9/2019).

Dia menyebutkan 33 orang tewas di Wamena akibat kerusuhan tersebut. Dalam kesempatan itu, Jokowi mengucapkan duka cita dan belasungkawa yang mendalam atas jatuhnya korban jiwa dalam peristiwa itu.

Kepala Negara mengklaim aparat keamanan telah bekerja keras untuk melindungi semua warga di Wamena. Dia juga telah memerintahkan Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan Wiranto, TNI dan Polri untuk mengejar perusuh yang belum tertangkap.

"Polisi telah menangkap beberapa tersangka yang melakukan pembunuhan dan pembakaran di Wamena," ucap Jokowi.

Masyarakat diminta tetap tenang dan menghindari provokasi serta fitnah yang bertebaran di media sosial. Di samping itu, Jokowi juga menyambut baik imbauan dari Kepala Suku Lembah Baliem supaya warga tidak mengungsi ke luar Wamena.

"Masih ada yang merasa takut kemudian minta untuk dievakuasi ke Jayapura, ya dilakukan. Tapi terus kami imbau agar masyarakat tidak keluar dari Wamena karena aparat keamanan sudah bisa mengamankan," tuturnya.

Seperti diketahui, puluhan orang tewas dan ribuan orang mengungsi akibat kerusuhan di Wamena. Di samping itu, fasilitas publik juga banyak yang rusak di wilayah itu.

Kerusuhan Wamena diduga disebabkan oleh beredarnya kabar bohong atau hoaks mengenai guru yang mengucapkan kata-kata bernada rasisme di sekolah.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia