Terperangkap di PLTU Paiton, Hiu Paus Dikembalikan ke Laut Lepas

Hiu paus di PLTU Paiton - Istimewa
22 September 2019 23:27 WIB Anitana Widya Puspa News Share :

Harianjogja.com, JOGJA-- Seekor hiu paus diselamatkan dari kanal inlet di sekitar PLTU Paiton, Jawa Timur menuju laut lepas.

Ketua Tim Evakuasi Rescue Whale Shark Paiton, Imam Wibowo melaporkan evakuasi dilaksanakan selama empat hari yaitu dari 16 - 19 September 2019, menggunakan beberapa metode yang sesuai dengan prinsip animal walfare serta keamanan dan keselamatan personil.

Kanal inlet PLTU Paiton memiliki kecepatan arus 0,8 - 1 m/s. Dari beberapa alternatif tersebut, dipilihlah metode kombinasi yakni menggunakan jaring kantong yang diberi bingkai besi berukuran 6x4 meter di bagian mulut jaring.

"Selama empat hari proses, kegiatan evakuasi dimulai sejak pukul 05:00 WIB. Pada Kamis, 19 September 2019 tim mengaplikasikan metode kombinasi yang merupakan perbaikan dari metode-metode sebelumnya," katanya melalui keterangan resmi, Minggu (22/9/2019).

Proses ini diawali dengan memasukkan jaring kantong ke kanal inlet dengan mobile crane berkapasitas 30 ton. Namun, crane tidak kuat menahan jaring kantong yang terbawa arus, sehingga dilakukan penggantian crane dengan kapasitas yang lebih besar yaitu 50 ton.

Sementara itu, tim sekoci berusaha menggiring hiu paus dengan menggunakan umpan menuju jaring kantong. Tepat pukul 13:00 WIB, spesies ikan terbesar ini berhasil digiring dan masuk ke dalam jaring kantong tanpa perlawanan. Setelah ikan masuk, bingkai besi dilepaskan dan jaring kantong diikat, agar dapat ditarik oleh sea raider menuju mulut kanal inlet untuk dibebaskan ke laut lepas.

Pukul 14:00 WIB dalam jarak 3 mil dari mulut kanal inlet, ikan berhasil dilepas. Secara visual, tidak ada luka akibat proses evakuasi ini serta ikan masih dapat berenang secara aktif dan responsif.

Ketua Tim Evakuasi Rescue Whale Shark Paiton, Letkol Imam Wibowo melaporkan, kegiatan evakuasi dilaksanakan selama 4 hari yaitu 16 – 19 September 2019, menggunakan beberapa metode yang sesuai dengan prinsip Animal Walfare serta keamanan dan keselamatan personil.

Hal ini mengingat, medan yaitu kanal inlet PLTU Paiton memiliki kecepatan arus 0,8 - 1 m/s. Dari beberapa alternatif tersebut, dipilihlah metode kombinasi yakni menggunakan jaring kantong yang diberi bingkai besi berukuran 6x4 meter di bagian mulut jaring.

Selama 4 hari proses, kegiatan evakuasi dimulai sejak pukul 05:00 WIB. Pada Kamis, 19 September 2019 tim mengaplikasikan metode kombinasi yang merupakan perbaikan dari metode-metode sebelumnya. Proses ini diawali dengan memasukkan jaring kantong ke kanal inlet dengan mobile crane berkapasitas 30 ton. Namun, crane tidak kuat menahan jaring kantong yang terbawa arus, sehingga dilakukan penggantian crane dengan kapasitas yang lebih besar yaitu 50 ton.

Sementara itu, tim sekoci berusaha menggiring hiu paus dengan menggunakan umpan menuju jaring kantong. Tepat pukul 13:00 WIB, spesies ikan terbesar ini berhasil digiring dan masuk ke dalam jaring kantong tanpa perlawanan. Setelah ikan masuk, bingkai besi dilepaskan dan jaring kantong diikat, agar dapat ditarik oleh sea raider menuju mulut kanal inlet untuk dibebaskan ke laut lepas.

Pukul 14:00 WIB dalam jarak 3 mil dari mulut kanal inlet, ikan berhasil dilepas. Secara visual, tidak ada luka akibat proses evakuasi ini serta ikan masih dapat berenang secara aktif dan responsif.

Ketua Protection of Forest and Fauna (Profauna) Indonesia Rosek Nursahid mengatakan perlunya penelusuran dan penelitian terhadap penyebab hiu paus tersebut tertarik masuk ke daerah sekitar PLTU Paiton.

"Ini penting untuk mencegah kejadian tersebut berulang, karena biasanya apabila sudah terdampar masuk ke wilayah inlet, akan sulit bagi hiu paus tersebut kembali ke habitatnya di laut lepas," jelasnya.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia