KRI Sriwijaya-100 Siap Jalankan Operasi, Fokus Misi Kemanusiaan
KRI Sriwijaya-100 resmi masuk TNI AL. Kapal induk ini siap menjalankan tugas negara, terutama misi kemanusiaan dan OMSP.
Monyet ekor panjang (Macaca fascicularis). /Antara Foto- Rahmad
Harianjogja.com, BOYOLALI -- Satwa liar jenis monyet meresahkan warga Kelurahan Pulisen, Kecamatan Boyolali, Kabupaten Boyolali. Monyet yang masuk ke permukiman warga bahkan memasuki rumah untuk mengambil makanan.
Hal tersebut disampaikan salah satu warga Kampung Sidomulyo, Pulisen, Boyolali, Putri Maharani. Menurutnya, sejak tiga hari lalu ada beberapa monyet yang mengelilingi kawasan rumahnya.
“Biasanya datang antara pagi dan siang hari. Cukup meresahkan karena kera tidak takut dengan manusia. Pada pagi hari, anak-anak sekolah pun harus berkejar-kejaran dengan para monyet,” kata dia, di Sidomulyo, Selasa (17/9/2019).
Menurutnya, kera-kera itu tak segan masuk ke rumah warga untuk mencari makanan. Buah-buahan maupun tanaman warga juga menjadi sasaran.
Dia menjelaskan kera mendatangi beberapa rumah warga di Sidomulyo, Pulisen.
“Kalau ada yang menjemur nasi atau makanan lain, pasti langsung didatangi. Kera biasanya datang dalam rombongan. Satu rombongan kera bisa mencapai tiga ekor,” ujarnya.
Warga lainnya, Bambang Suprapto, mengatakan biasanya pada musim kemarau kera liar datang ke permukiman karena persediaan makanan dan minuman di dalam hutan habis.
“Kera liar itu sering juga masuk ke rumah warga dan mengambil makanan. Mereka langsung diusir namun kembali lagi mendatangi rumah warga,” tandas dia.
Saat didatangi di lokasi tersebut, Selasa siang, tidak terlihat kera yang mendatangi permukiman warga.
Saat dimintai tanggapan, Kepala Balai Taman Nasional Gunung Merbabu (BTNGM) Junita Parjanti mengatakan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Gunung Merbabu dapat membuat satwa liar mencari area aman.
“Daerah Pulisen, Kecamatan Boyolali adalah daerah perkotaan. Satwa liar yang berkeliaran itu bukan akibat dari karhutla di Merbabu. Misalnya monyet ekor panjang berkeliaran di daerah Selo, Boyolali, bisa saja terjadi, karena Selo dekat dengan Merbabu,” kata dia saat dihubungi melalui sambungan telepon, Selasa.
Pengendali Ekosistem Hutan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Tengah, Nur Hanifah, mengatakan saat ini belum mendapatkan laporan mengenai satwa liar yang turun akibat karhutla di Merbabu.
“Kami belum mendapatkan laporan apa pun mengenai monyet ekor panjang yang berkeliaran di Boyolali. Warga yang masih melihat satwa liar tersebut bisa menghubungi call center BKSDA Jateng,” kata dia.
Ia mengatakan ada dua kemungkinan monyet ekor panjang turun ke perkotaan di Kabupaten Boyolali. Pertama, monyet ekor panjang peliharaan warga sekitar lepas dan kabur. Kedua, akibat dari karhutla di Merbabu.
“Kedua kemungkinan itu bisa terjadi, saya minta kepada warga jangan membuang sisa makanan sembarangan. Sisa makanan tersebut dapat mengundang monyet liar untuk masuk ke permukiman warga. Perlu diketahui, monyet ekor panjang ini bisa mengigit manusia yang mengusik keberadaannya,” paparnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Solopos.com
KRI Sriwijaya-100 resmi masuk TNI AL. Kapal induk ini siap menjalankan tugas negara, terutama misi kemanusiaan dan OMSP.
Pemkot Magelang menggerakkan ASN dan pegawai BUMD lewat Ayo Nglarisi Pasar untuk meningkatkan transaksi dan menghidupkan pasar rakyat.
Feri Yudoyono menyumbang perunggu balap sepeda untuk Indonesia di Asian Games 2026. Kontingen Merah Putih kini mengoleksi 22 medali.
Status KLA Sleman dipertanyakan setelah kasus keracunan MBG. Warga meminta DPRD memperkuat pengawasan perlindungan anak.
BULOG menyalurkan 3.118 ton Bantuan Pangan Beras kepada 103.950 penerima di 16 kecamatan Kabupaten Purworejo untuk menjaga ketahanan dan akses pangan masyarakat
Sebanyak 14 desa di 11 kecamatan Temanggung akan menggelar Pilkades pada 18 Oktober 2026. Persiapan disebut berjalan sesuai rencana.