BMKG Terbitkan Peringatan Dini Gelombang Tinggi hingga 4 Meter pada 15-18 Oktober
BMKG memperingatkan potensi gelombang hingga 4 meter pada 15-18 Oktober 2026. Nelayan dan pelaku transportasi laut diminta waspada.
Monyet ekor panjang (Macaca fascicularis). /Antara Foto- Rahmad
Harianjogja.com, BOYOLALI -- Satwa liar jenis monyet meresahkan warga Kelurahan Pulisen, Kecamatan Boyolali, Kabupaten Boyolali. Monyet yang masuk ke permukiman warga bahkan memasuki rumah untuk mengambil makanan.
Hal tersebut disampaikan salah satu warga Kampung Sidomulyo, Pulisen, Boyolali, Putri Maharani. Menurutnya, sejak tiga hari lalu ada beberapa monyet yang mengelilingi kawasan rumahnya.
“Biasanya datang antara pagi dan siang hari. Cukup meresahkan karena kera tidak takut dengan manusia. Pada pagi hari, anak-anak sekolah pun harus berkejar-kejaran dengan para monyet,” kata dia, di Sidomulyo, Selasa (17/9/2019).
Menurutnya, kera-kera itu tak segan masuk ke rumah warga untuk mencari makanan. Buah-buahan maupun tanaman warga juga menjadi sasaran.
Dia menjelaskan kera mendatangi beberapa rumah warga di Sidomulyo, Pulisen.
“Kalau ada yang menjemur nasi atau makanan lain, pasti langsung didatangi. Kera biasanya datang dalam rombongan. Satu rombongan kera bisa mencapai tiga ekor,” ujarnya.
Warga lainnya, Bambang Suprapto, mengatakan biasanya pada musim kemarau kera liar datang ke permukiman karena persediaan makanan dan minuman di dalam hutan habis.
“Kera liar itu sering juga masuk ke rumah warga dan mengambil makanan. Mereka langsung diusir namun kembali lagi mendatangi rumah warga,” tandas dia.
Saat didatangi di lokasi tersebut, Selasa siang, tidak terlihat kera yang mendatangi permukiman warga.
Saat dimintai tanggapan, Kepala Balai Taman Nasional Gunung Merbabu (BTNGM) Junita Parjanti mengatakan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Gunung Merbabu dapat membuat satwa liar mencari area aman.
“Daerah Pulisen, Kecamatan Boyolali adalah daerah perkotaan. Satwa liar yang berkeliaran itu bukan akibat dari karhutla di Merbabu. Misalnya monyet ekor panjang berkeliaran di daerah Selo, Boyolali, bisa saja terjadi, karena Selo dekat dengan Merbabu,” kata dia saat dihubungi melalui sambungan telepon, Selasa.
Pengendali Ekosistem Hutan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Tengah, Nur Hanifah, mengatakan saat ini belum mendapatkan laporan mengenai satwa liar yang turun akibat karhutla di Merbabu.
“Kami belum mendapatkan laporan apa pun mengenai monyet ekor panjang yang berkeliaran di Boyolali. Warga yang masih melihat satwa liar tersebut bisa menghubungi call center BKSDA Jateng,” kata dia.
Ia mengatakan ada dua kemungkinan monyet ekor panjang turun ke perkotaan di Kabupaten Boyolali. Pertama, monyet ekor panjang peliharaan warga sekitar lepas dan kabur. Kedua, akibat dari karhutla di Merbabu.
“Kedua kemungkinan itu bisa terjadi, saya minta kepada warga jangan membuang sisa makanan sembarangan. Sisa makanan tersebut dapat mengundang monyet liar untuk masuk ke permukiman warga. Perlu diketahui, monyet ekor panjang ini bisa mengigit manusia yang mengusik keberadaannya,” paparnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Solopos.com
BMKG memperingatkan potensi gelombang hingga 4 meter pada 15-18 Oktober 2026. Nelayan dan pelaku transportasi laut diminta waspada.
Rachel/Febi kalah 16-21, 17-21 dari Treesa/Gayatri pada 16 besar Denmark Open 2026. Indonesia pun kehilangan seluruh wakil di ganda putri.
Malaysia menempati peringkat kelima Digital Nomad Visa Index 2026 dengan skor 82,9. Simak posisi Bali dan daftar 10 destinasi teratas.
Sentra kerajinan kulit Manding, Bantul, sepi pembeli. Perajin menghadapi persaingan toko online dan keluhan konsumen soal kualitas produk.
Simak jadwal lengkap BRI Super League pekan kelima pada 16–18 Oktober 2026. Persita vs Persija digelar Sabtu, Persib vs Persik pada Minggu.
Pengujian jaringan 5G di kereta Jogja–Solo mencatat kecepatan unduh lebih dari 200 Mbps di sejumlah titik, di tengah pertumbuhan trafik internet 17%.